Optimalisasi Manajemen Penerbitan dan Infrastruktur Server pada Open Journal System (OJS) versi 3.3
Published on: 20 Jan 2026

Workshoop
Pamulang – Dalam upaya memperkuat ekosistem riset dan publikasi ilmiah di awal tahun 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan workshop strategis bertajuk "Optimalisasi Manajemen Penerbitan dan Infrastruktur Server pada Open Journal System (OJS) versi 3.3". Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 19 Januari 2026 ini menjadi tonggak penting bagi universitas dalam meningkatkan standar jurnal menuju rekognisi internasional.
Acara
dibuka dengan laporan dari Ketua LPPM, Dr. Susanto, S.H., M.M., M.H.
Beliau melaporkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh seluruh pengelola jurnal di
lingkungan universitas guna menyelaraskan persepsi mengenai standarisasi teknis
OJS 3.3.
Wakil Rektor IV, Prof. Dr. Oksidelfa Yanto,
S.H., M.H., secara resmi membuka acara tersebut. Dalam arahannya, beliau
menekankan bahwa kualitas jurnal bukan hanya dilihat dari substansi tulisan,
tetapi juga dari profesionalisme manajemen platform. Kehadiran Wakil Rektor II,
Dr. M. Wildan, S.S., M.A., dan Kepala LPSDM, Sugiyarto, S.E., M.M.,
mempertegas bahwa dukungan finansial dan pengembangan kompetensi SDM adalah
pilar utama dalam mendukung transformasi digital ini. Kegiatan ini dilaksanakan
dua hari dari tanggal 19-20 Januari 2026. Dalam sesi pertama, Dr. Andri Pranolo
memaparkan bahwa transisi ke OJS 3.3 bukan sekadar pembaruan tampilan
(interface), melainkan peningkatan efisiensi kerja editorial. Materi yang
disampaikan meliputi: 1) Menekankan pada integrasi kebijakan etika publikasi
langsung ke dalam sistem OJS agar transparan bagi penulis dan pembaca. 2) Langkah-langkah
teknis agar jurnal lebih mudah "ditemukan" oleh mesin pencari seperti
Google Scholar, Scopus, dan Web of Science melalui optimasi meta-tagging. 3) Menggunakan
data internal OJS 3.3 untuk memantau tren artikel yang paling banyak diunduh
sebagai bahan evaluasi kualitas konten. Sesi kedua berfokus pada sisi praktis
pengelolaan naskah.
Bapak Much. Fuad Saifuddin membedah alur kerja
(workflow) yang lebih fleksibel pada versi 3.3 dibandingkan versi sebelumnya:
1) Bagaimana mengelola antrean naskah yang masuk agar turnaround time
(waktu dari submisi hingga keputusan) menjadi lebih singkat dan efisien. 2) Fitur
penugasan reviewer yang lebih otomatis, termasuk sistem pengingat (reminder)
yang dapat dipersonalisasi untuk menjaga ketepatan waktu proses peer-review.
3) Memanfaatkan fitur diskusi internal di OJS 3.3 untuk meminimalisir
penggunaan email eksternal, sehingga seluruh rekam jejak korespondensi
tersimpan di sistem. Aspek teknis di balik layar menjadi penutup yang krusial.
Bapak Tri Andi menjelaskan bahwa server yang
tangguh adalah fondasi dari reputasi jurnal: 1) Kebutuhan spesifikasi perangkat
keras dan perangkat lunak minimum, termasuk optimasi PHP dan database MySQL
agar akses jurnal tetap cepat meski sedang mengalami lonjakan trafik. 2) Strategi
perlindungan terhadap serangan siber dan pentingnya melakukan backup data
secara berkala dan otomatis (cloud backup) untuk mencegah kehilangan data
naskah. 3) Mitigasi risiko saat melakukan migrasi data dari versi lama ke versi
3.3 guna memastikan tidak ada data yang korup selama proses transisi. Workshop
yang dipandu oleh Jamaludin, S.E.I., M. Ec. Dev. ini diakhiri dengan
sesi tanya jawab interaktif. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pengelola
jurnal di universitas memiliki standar yang seragam dalam mengoperasikan OJS
3.3, sehingga target peningkatan akreditasi SINTA dan indeksasi internasional
dapat tercapai di tahun 2026.
Sebagai langkah nyata, LPPM akan melakukan
pendampingan teknis secara berkala untuk memastikan setiap unit jurnal telah
mengimplementasikan hasil dari workshop ini pada server masing-masing


