LPPM Gelar Seminar Diseminasi: Dorong Pemetaan Riset Berbasis Bibliometrik demi Sukseskan Agenda Strategis Nasional
Published on: 25 Mei 2026

Seminar
Pamulang, 25 Mei 2026 – Lembaga Penelitian dan
Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) sukses menyelenggarakan Seminar dan
Diseminasi Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Semester.
Acara yang dihadiri oleh ratusan dosen dan peneliti ini mengusung tema krusial,
yaitu “Implementasi Bibliometrik dalam Memetakan Tren Riset dan PkM untuk
Mendukung dan Mensukseskan Agenda Strategis Nasional”.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Ketua LPPM, Dr.
Susanto, S.H., M.M., M.H., M.AP. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya
sinergi antara dunia akademik dan arah pembangunan nasional. Oleh karena
itu, Dr. Susanto menegaskan bahwa implementasi analisis bibliometrik hadir
sebagai instrumen penyelamat sekaligus kompas navigasi. Metode ini akan
membantu institusi melihat dengan jernih, di posisi mana riset internal berada,
siapa saja jaringan peneliti yang kuat, dan sektor apa saja yang masih menjadi
ruang kosong (research gap) untuk segera diisi.
Memasuki
sesi inti, panggung utama diserahkan kepada narasumber pertama yang memiliki
reputasi nasional di bidang tata kelola sains. Hadir sebagai pembicara utama
adalah Noorika Retno Widuri, M.I.R., seorang pakar dari Badan Riset
dan Inovasi Nasional (BRIN). Dengan latar belakang pendidikan internasional
dan kompetensi mendalam pada analisis bibliometrik, pengelolaan publikasi
ilmiah, serta strategi pengembangan riset nasional, Noorika mengupas tuntas
aspek teoretis hingga praktis bagaimana data publikasi dapat diubah menjadi
kebijakan makro yang berdampak.
Noorika
mengawali paparannya dengan menjabarkan definisi dasar dan signifikansi
bibliometrik yang sering kali disalahpahami oleh sebagian dosen. Bibliometrik
bukan sekadar menghitung berapa jumlah sitasi atau melihat h-index
seorang peneliti di pangkalan data seperti Scopus atau Web of Science. Lebih
dari itu, bibliometrik adalah ilmu yang menerapkan metode statistika dan
matematika untuk menganalisis pola publikasi, pemetaan konseptual, serta
jaringan kolaborasi antar-peneliti di seluruh dunia.
"Bayangkan
Anda berada di tengah hutan belantara informasi ilmiah yang sangat lebat. Tanpa
bibliometrik, Anda akan tersesat dan mungkin meneliti sesuatu yang sebenarnya
sudah diteliti secara tuntas oleh ilmuwan lain sepuluh tahun lalu. Bibliometrik
adalah radar penunjuk jalan Anda," jelas Noorika menggunakan analogi yang
mudah dipahami.
Dalam
konteks mendukung agenda strategis nasional, Noorika membedah bagaimana BRIN
memanfaatkan bibliometrik untuk merancang kebijakan riset nasional. Melalui
visualisasi jaringan kata kunci (co-occurrence analysis) dan analisis
sitasi, para pembuat kebijakan dapat mendeteksi tren riset yang sedang tumbuh
pesat (emerging trends) di tingkat global. Hal ini sangat penting agar
Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi mampu mengambil peran
sebagai produsen inovasi.
Noorika
juga menyoroti kelemahan mendasar dalam pengelolaan publikasi ilmiah di banyak
perguruan tinggi tanah air, yaitu minimnya strategi klasterisasi. Dosen sering
kali menulis artikel ilmiah berdasarkan minat pribadi yang sangat spesifik dan
terisolasi, tanpa melihat apakah topik tersebut berkorelasi dengan prioritas
pembangunan jangka panjang pemerintah.
Di
sinilah peran penting tata kelola publikasi yang adaptif. Noorika mendorong
agar LPPM memetakan keahlian dosen secara kolektif menggunakan software
analisis bibliometrik seperti VOSviewer atau Bibliometrix. Dengan peta visual
tersebut, institusi dapat melihat kekuatannya secara objektif, membangun
konsorsium riset internal yang lintas disiplin ilmu, serta menyusun cetak biru
(roadmap) penelitian institusi yang langsung menginduk pada Rencana
Induk Riset Nasional (RIRN).
Paparan
komprehensif dari srikandi BRIN ini membuka mata para peserta bahwa publikasi
ilmiah bukan sekadar produk akhir dari sebuah penelitian, melainkan komoditas
data strategis yang menentukan posisi tawar bangsa di kancah global.
Jika
sesi pertama fokus pada peta makro dan kebijakan data ilmiah, maka sesi kedua
membawa peserta pada realitas implementasi di lapangan perguruan tinggi.
Narasumber kedua, Achmad Chaerul Muslim, M.T. dari Universitas
Pamulang (UNPAM), hadir membawa perspektif praktis yang sangat kaya.
Sebagai seorang akademisi dan praktisi yang memiliki rekam jejak panjang serta
pengalaman nyata dalam pengelolaan kegiatan akademik, penelitian, publikasi,
hingga hilirisasi berupa Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Achmad Chaerul
membedah bagaimana mengoperasionalkan konsep-konsep besar tersebut di tingkat
ekosistem kampus.
Achmad
Chaerul Muslim memulai sesinya dengan memaparkan tantangan sosiologis dan
manajerial yang kerap dihadapi oleh manajemen perguruan tinggi swasta maupun
negeri. Menyeimbangkan antara kewajiban mengajar, meneliti, dan mengabdi sering
kali membuat dosen mengalami kelelahan akademik (academic burnout).
Akibatnya, kualitas riset dan PkM sering kali dikorbankan.
"Kuncinya
terletak pada integrasi total. Kita tidak boleh lagi melihat penelitian dan PkM
sebagai dua kotak yang terpisah secara kaku. Keduanya adalah satu kesatuan
siklus inovasi yang saling menghidupi," tegas Achmad Chaerul dengan penuh
semangat.
Beliau
membagikan success story dan pengalaman manajerialnya mengenai bagaimana
hasil pemetaan tren riset berbasis bibliometrik dapat langsung diturunkan
menjadi program PkM yang solutif. Sebagai contoh, jika analisis bibliometrik
menunjukkan adanya lonjakan tren riset global mengenai sistem pertanian
berbasis Internet of Things (IoT) untuk ketahanan pangan, maka dosen di
bidang teknik dan pertanian harus segera mengadopsi tren tersebut. Tidak
berhenti sampai di jurnal internasional, teknologi IoT tersebut kemudian dibawa
langsung ke desa-desa binaan melalui program PkM untuk membantu kelompok tani
lokal meningkatkan hasil panen mereka.
Siklus
inilah yang menurut Achmad Chaerul akan langsung menyukseskan agenda strategis
nasional di tingkat akar rumput. Pemerintah pusat boleh merancang regulasi dan
target besar, namun eksekusinya berada di tangan para akademisi yang turun
langsung ke masyarakat melalui PkM yang berbasis pada data riset yang valid dan
mutakhir.
Lebih
lanjut, Achmad Chaerul memberikan tips taktis mengenai pengelolaan publikasi
tingkat universitas agar mampu bersaing secara nasional. Beliau menekankan
pentingnya membangun ekosistem insentif yang adil, pendampingan intensif
melalui klinik publikasi, serta pemanfaatan jejaring alumni dan mitra industri
untuk mendanai riset-riset terapan yang berorientasi pada pemecahan masalah
riil. Menurutnya, ketika manajemen universitas mampu mengelola kegiatan akademik
secara sistematis dan berbasis data, maka produktivitas dosen akan meningkat
secara alamiah tanpa adanya tekanan yang membebani.
Bagian
akhir dari rangkaian seminar ini didedikasikan untuk sesi diseminasi paralel,
di mana para dosen dan peneliti internal mempresentasikan hasil kerja keras
mereka selama satu semester terakhir. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya,
suasana diseminasi kali ini terasa jauh lebih tajam dan terarah. Berkat
stimulasi pemikiran dari kedua narasumber, para reviewer dan presenter tidak
lagi hanya mendiskusikan metodologi penelitian konvensional, melainkan mulai
membedah posisi karya mereka di dalam peta bibliometrik nasional.
Puluhan
judul penelitian dan program PkM yang dipresentasikan mencakup berbagai bidang
ilmu, mulai dari rumpun humaniora, hukum, ekonomi, hingga sains dan teknologi
terapan. Yang menarik, benang merah dari seluruh presentasi tersebut
merefleksikan upaya nyata institusi dalam mengadopsi tema-tema yang selaras
dengan prioritas pembangunan nasional.
Dalam
sesi pleno penutupan, suasana haru dan optimisme membubung tinggi. Ketua LPPM,
Dr. Susanto, kembali naik ke podium untuk memberikan rangkuman sekaligus
pernyataan komitmen institusional ke depan. Beliau menyampaikan rasa terima
kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Noorika Retno Widuri dari
BRIN dan Achmad Chaerul Muslim dari UNPAM atas ilmu daging dan wawasan
aplikatif yang telah dibagikan.




