OPINI OPINI 2021

Kasus Enron Corporation, Etika Profesi Akuntansi dan Stabilitas Ekonomi

*) Husnul Khotimah, S.E., M.M

Perusahaan energi asal Amerika mengguncang dunia pada awal tahun 2000-an. Namun bukan prestasi, melainkan karena manipulasi dan kejahatan akuntansi. Enron bersama kantor akuntan Arthur Andersen terbukti bersalah menggelembungkan hasil kinerja keuangannya. Akibat skandal Enron ini, The Wall Street terguncang. Terjadi kerugian yang sangat besar hingga mencapai lebih dari 60 juta dollar Amerika di pasar saham. Karena skandal Enron ini, Amerika yang dikenal sebagai negara super power tersebut mengalami krisis keuangan. Tidak hanya itu, dampak dari krisis keuangan Amerika itu berefek domino terhadap perekonomian secara global.

Dampak skandal Enron yang cukup parah, sehingga AS perlu menerbitkan Undang-Undang Sarbanes-Oxley untuk mengindari kasus serupa. Skandal Enron ini, merupakan kejahatan akuntansi yang menjadi salah satu yang paling parah dalam sejarah. Motifnya kejahatan akuntansinya adalah dengan menggelembungkan kinerja keuangan sehingga terlihat sangat tinggi untuk mendapatkan perhatian investor.

Bahkan Enron juga menyembunyikan hutang yang dimiliknya untuk mengelabui publik. Kinerja keuangan Enron pada kisaran tahun 1998 hingga tahun 2000 terlihat sangat bagus. Padahal, Enron ternyata menggelembungkan pendapatannya hingga sebesar 586 juta dollar sejak 1997. Setelah kasus ini tercium publik, saham Enron langsung jatuh serta tidak lama kemudian mengalami kepailitan. Secara otomatis, para pemegang saham Enron langsung merugi besar. Kejadian ini berimbas terhadap kepercayaan investor secara umum. Terjadi distrust yang sangat tinggi, para investor menjadi skeptis dalam berinvestasi di pasar saham saat itu.

Skandal Enron mengajarkan kepada dunia mengenai pentingnya etika profesi seorang akuntan. Meskipun tidak dianggap sebagai profesi yang sangat prestisius, peran seorang akuntan sangat penting bagi stabilitas perekonomian.  Tindakan seorang akuntan yang tidak memiliki etika profesi bahkan dapat memicu terjadinya krisis seperti yang terjadi pada skandal Enron. Tindakan curang dan manipulatif yang dilakukan seorang akuntan dapat menjadi awal kehancuran perekonomian.

Mengacu pada teori fraud triangle, terdapat 3 penyebab terjadinya tindakan kecurangan yang dilakukan seseorang yaitu motivasi (motive), kesempatan (opportunity), dan rasionalisasi (rationalisation). Motivasi dalam konteks ini adalah keinginan seseorang untuk mendapatkan sebanyak mungkin kekayaan. Motivasi untuk melakukan fraud dalam konteks ini juga merupakan suatu keserakahan, rasa tidak puas atas apa yang telah dimiliki. Kesempatan juga seringkali menjadi alasan utama terjadinya fraud.  Terbukanya kesempatan sedikit saja dapat memicu seseorang dengan kecacatan karakter dan tidak beretika untuk berbuat curang.

Dalam konteks akuntansi, kesempatan ini merupakan semacam celah dalam regulasi maupun sistem sehingga dapat dimanfaatkan oleh para pelaku curang. Oleh karenanya, diperlukan evaluasi dan pemutakhiran secara kontinyu mengenai regulasi untuk mencegah terjadinya kecurangan akuntansi. Adapun maksud dari rasionalisasi sebagai salah satu penyebab fraud yaitu alasan-alasan yang mendasari seseorang berbuat curang. Misalnya, seseorang beralasan bahwa meskipun tindakan yang dilakukannya curang, tetapi ia berasalan bahwa hal tersebut dapat ‘dimaafkan’ karena adanya desakan ekonomi.

Selain ketiga penyebab fraud tadi, saat ini tentunya penyebab terjadinya fraud atau manipulasi akuntansi sudah lebih banyak lagi. Motif dan bentuk-bentuk kecurangan akuntansi juga semakin berkembang. Telah banyak penelitian dalam bidang akuntansi yang secara khusus menganalisis terkait hal ini. Misalnya, kajian terkait dengan manajemen laba, income smoothing, hingga creative accounting. Kebanyakan penelitian menyebutkan pentingnya etika profesi akuntansi.

Keberadaan etika profesi akuntansi menjadi sangat critical yang bahkan dianggap perlu menjadi suatu bidang kajian utama. Alhasil, hampir seluruh program studi akuntansi di perguruan tinggi menyelenggarakan studi etika profesi. Namun demikian, kajian terkait dengan etika profesi seringkali tidak dianggap serius. Terbukti, kebanyakan program studi akuntansi hanya menyelenggarakan mata kuliah etika profesi satu kali. Padahal, bidang kajian etika profesi akuntansi tergolong sangat multidimensional.

Etika profesi berkaitan dengan karakter, motif, upaya pencegahan penyimpangan, regulasi atau standar akuntansi, dan masih banyak lagi. Multidimensionalitas dalam kajian etika profesi membuatnya dapat didekati oleh beragam jenis teori dan disiplin ilmu. Misalnya, ketika membahas tentang karakter, maka dapat menggunakan pendekatan psikologi. Kemudian, ketika membahas tentang regulasi, maka dapat menggunakan pendekatan akuntansi. Misalnya dengan teori akuntansi positif, teori signal, maupun teori agensi. Seyogianya, etika profesi akuntansi dapat mendapatkan perhatian lebih serius lagi. Baik itu dari para peneliti, praktisi akuntansi, maupun pembuat regulasi. Perlu diingat kembali, etika profesi akuntansi sangat berperan dalam menciptakan dan menjaga stabilitas ekonomi. ***

*) Dosen Prodi D3 Akuntansi Universitas Pamulang (UNPAM)