OPINI OPINI 2021

Belajar dari Rumah Saat Pandemi Virus Covid-19

Oleh: Vega Anismadiyah, S.T., M.M.
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang

Reportase.tv, Tangsel – Pada tanggal dua Maret 2020, Presiden Joko Widodo secara resmi mengumumkan dua kasus pasien positif terjangkit Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus 2 (SARS-COV-2) atau lebih dikenal dengan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Indonesia. Kasus tersebut menjadi titik awal kesadaran masyarakat bahwa Covid-19 memang ada dan bahkan sudah terjadi di tanah air. Tiap hari, kasus Covid-19 di Indonesia selalu bertambah. Tercatat di akhir bulan Desember tahun 2020, kasus positif covid bertambah sebanyak 8.074 dari sebelumnya 735.124  kasus pada tanggal 30 Desember menjadi 743.198 kasus di tanggal 31 Desember. Dari jumlah tersebut, 611.097 pasien dinyatakan sembuh dan 22.138 pasien meninggal dunia, dan sisanya masih positif Covid-19.

Merebaknya virus Covid-19 ini mendatangkan banyak sekali perubahan dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat yang sebelumnya kurang peduli dengan gaya hidup bersih dan sehat, sejak pandemi ini mulai peduli dengan kebersihan dan kesehatan yang dibuktikan dengan patuhnya masyarakat pada protokol kesehatan yang diwajibkan oleh pemerintah. Jika sebelum pandemi, jarang sekali orang yang memakai masker, tapi saat ini, semua orang dengan sadar menggunakan masker jika keluar rumah. Selain itu, gerakkan mencuci tangan yang sebelumnya hanya diajarkan pada balita dan anak-anak, kini diterapkan pula oleh semua kalangan. Mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer menjadi hal yang wajib dilakukan setiap saat. Protokol yang lain, yaitu menjaga jarak juga sudah dijalankan oleh seluruh pihak. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah semakin menyebarnya virus corona di masyarakat.

Pemerintah pun menerapkan banyak sekali kebijakan terkait meluasnya kasus Covid-19 di Indonesia. Salah satunya adalah kebijakan Belajar Dari Rumah (Study From Home) yang mulai ditetapkan sejak 16 Maret 2020. Menurut Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pendidikan, Retno Listyarti, kepada Medcom, pada awal penetapan kebijakan Belajar Dari Rumah ini, muncul persoalan baik dari pihak guru yang belum siap melakukan pembelajaran digital, maupun dari pihak orang tua yang belum siap mendampingi anaknya belajar.

Untuk mendukung program Belajar Dari Rumah, pemerintah menetapkan berbagai kebijakan, diantaranya menyediakan materi belajar, menyusun modul belajar sederhana sesuai kurikulum dalam situasi darurat, radio edukasi, memanfaatkan aplikasi rumah belajar secara optimal, menyediakan bantuan kuota belajar untuk siswa, mahasiswa, guru dan dosen.

Harapan agar sekolah kembali dibuka pada bulan Juli 2020 bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru 2020/2021, ternyata belum bisa dipenuhi oleh pemerintah sebab kasus Covid-19 semakin meluas dan banyak memakan korban, tidak terkecuali anak-anak. Pemerintah hanya mengizinkan sekolah yang berada di wilayah zona hijau yang boleh menggelar kegiatan tatap muka di sekolah. Sementara saat itu hanya ada 6% sekolah di Indonesia yang ada di wilayah zona hijau.

Pada pertengahan November 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sempat menyatakan bahwa sekolah boleh melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan memenuhi berbagai persyaratan tertentu, namun keputusan pembukaan sekolah tetap ada di pemerintah daerah. Dan kewenangan ikut serta siswa dalam pembelajaran tatap muka pun ada di tangan orang tua. Jika orang tua merasa tidak nyaman anaknya belajar tatap muka, maka diperbolehkan menggunakan sistem pendidikan jarak jauh. Dan memang kenyataannya, banyak sekolah yang masih menerapkan sistem Belajar Dari Rumah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan program belajar alternatif selain tatap muka pada semester genap tahun ajaran 2020/2021 ini. Tujuan program alternatif ini untuk mendukung pendidikan jarak jauh diantaranya dengan program Belajar Dari Rumah (BDR) yang ditayangkan di Televisi Republik Indonesia (TVRI) untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD). Tayangan ini akan dimulai bulan Januari sampai Maret 2021, dari hari Senin sampai Jum’at pukul 08.00 sampai 11.30 WIB.

Selain pembelajaran melalui TVRI, ada juga tayangan pembelajaran melalui Radio Edukasi dan TV Edukasi. Televisi di bawah naungan Kemendikbud tersebut dapat diakses pada satelit Telkom-4 frekuensi 4125/V/5500. Atau bisa mengakses laman resmi kemendikbud di https://tve.kemdikbud.go.id untuk mengakses secara daring atau online. Ada juga kanal pembelajaran lewat belajar.id yang bisa diakses oleh peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, termasuk melalui aplikasi Rumah Belajar. Selain itu, bahan bacaan atau lembar aktifitas dan panduan berkegiatan bersama anak-anak dan remaja juga sudah disediakan di laman www.bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id.

Patut disadari oleh semua pihak, bahwa sistem pendidikan jarak jauh atau sistem belajar dari rumah ini tidak bisa dibandingkan dengan sistem pembelajaran tatap muka. Target dan tujuan pembelajaran tidak bisa dicapai sepenuhnya karena keterbatasan sarana, prasarana dan juga kemampuan, baik dari pihak guru, siswa maupun orang tua. Dibutuhkan kerja sama yang baik dari semua pihak agar pembelajaran dengan sistem jarak jauh ini tetap menyenangkan dan tidak menjadi beban baik untuk siswa, orang tua maupun guru. Pemerintah sudah berupaya menyiapkan sarana dan prasarana untuk membantu kelancaran pendidikan jarak jauh yang saat ini masih berlangsung. Para guru harus ekstra kreatif dalam mengajar dan menyampaikan materi agar siswa tetap bisa menikmati proses belajar dari rumah. Para orang tua pun harus ikut bekerja sama menciptakan suasana disiplin dan menyenangkan di rumah agar putra putrinya tetap bertanggungjawab terhadap tugas dan kewajibannya.

Semoga pandemi ini segera berakhir sehingga kegiatan belajar mengajar bisa dilakukan secara normal seperti sedia kala yaitu melalui tatap muka. Karena sejatinya peran guru bukan hanya men-transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi yang terpenting adalah perannya sebagai pendidik yang bertugas mewarisi karakter dan nilai-nilai kebaikan kepada para siswanya. Teknologi secanggih apapun tidak akan mampu menggantikan fungsi dan peran guru dalam seluruh proses pendidikan manusia.

Sumber: reportase.tv