PKM 2021 UNPAM MENGABDI

Nelayan Pulau Pari Dilatih Pemasaran Secara Online

PAMULANG-Dosen dan mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam) memberikan pelatihan dan bimbingan kepada nelayan Pulau Pari, Kepulauan Seribu Selatan. Melalui Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini, Unpam membantu pemasaran hasil tangkapan nelayan lewat online.

Pelatihan dilaksanakan pada 20-22 November 2020, yang berlokasi pada kelurahan Pulau Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Pelatihan ini diberikan kepada nelayan dan keluarganya agar dapat membantu peningkatan dan penguatan keuangan keluarga khususnya di masa pandemi saat ini.

PKM yang diketuai Endang Nurita ini beranggotakan Rissa Hanny, Ninik Anggraini, Amirudin serta Rudy Bodewyn Mangasa Tua. Dengan memanfaatkan teknologi, hal ini dilakukan untuk membantu para nelayan dan istri nelayan di Pulau Pari dalam memahami pemasaran online, memberikan wawasan untuk meraih kesuksesan pada usaha bisnis dan memberikan pelatihan dengan menerapkan pemasaran online dalam menentukan strategi usaha untuk bertahan dalam kondisi pandemi serta jangka panjang guna meraih kesuksesan dalam kehidupan sebagai upaya peningkatan taraf dan kualitas hidup para nelayan di Pulau Pari.

Strategi pemasaran ini cukup memanfaatkan internet dan handphone yang ada dan untuk mendapatkan perhatian konsumen dengan memanfaatkan media sosial, website, email, dan postingan sederhana melalui media online. Kegiatan ini disambut baik para nelayan dan di akhir kegiatan telah dibuat kesepakatan untuk dapat melakukan kerjasama dengan Unpam.

Nelayan serta kelompok pembudidaya memiliki peran penting dan menjadi andalan dalam menopang kedaulatan pangan nasional, dimana wilayah Indonesia sendiri produk perikanan menyediakan 54% dari seluruh protein hewani yang dikonsumsi masyarakat. Selain itu kontribusinya dalam penciptaan lapangan pekerjaan juga sangat penting. Dimana pelaku usaha perikanan, langsung maupun tidak langsung, jumlahnya sangat besar.

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir 10 bulan ini sangat berpengaruh dalam kegiatan ekonomi para nelayan tersebut dan kondisi saat ini akan berpotensi semakin memburuk kehidupan keluarga nelayan. Adanya keterbatasan dalam aktivitas dan turunnya daya beli masyarakat terhadap hasil tangkapan dan panen mereka apabila ada yang membelipun harga yang ditawarkan sangat murah dan hal ini sangat tidak sebanding dengan modal budidaya maupun modal melaut.

“Biaya operasional seperti harga BBM terjadi kelangkaan dan sehingga menimbulkan para spekulan memasang harga mahal. Hal ini menyulitkan nelayan untuk pergi menangkap ikan belum lagi sejak Covid-19 maka berbagai kesiapan pencegahan di antaranya menyediakan disinfektan dan masker. Sehingga hal ini dapat diartikan bahwa biaya operasional melaut selama masa pandemi relatif meningkat, sementara penghasilan nelayan mengalami penurunan yang cukup signifikan,” ungkap Endang Nurita.

Sebagai daerah yag merupakan pulau terbesar dari tujuh pulau yang ada di gugusan Pulau Pari yang dihuni oleh hampir 900 KK dimana mayoritas pekerjaannya sebagai nelayan, maka nelayan dan keluarganya ini telah merasakan dampaknya sejak awal pandemi. Dengan demikian maka hampir seluruh masyarakat di sini mengalami kesulitan khususnya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari serta kebutuhan untuk melaut.(rls)

Sumber: tangselpos.id