OPINI OPINI 2021

Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah terhadap mata Uang Asing di Masa Pandemi Covid-19

Oleh Krisnaldy. S.E., M.S.i
Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Pamulang

Reportase.tv, Tangsel – Penyebaran wabah Covid-19 yang begitu cepat di Indonesia telah memberikan pengaruh yang besar bagi ekonomi Indonesia. Lonjakan jumlah penderita dengan fatality rate yang tinggi dalam beberapa bulan terakhir, sangat mengkhawatirkan dan menyebabkan kepanikan baik di kalangan pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha. Respon pemerintah dan masyarakat yang melakukan upaya pencegahan, seperti: penutupan sekolah, work from home khususnya pekerja sektor formal, penundaan dan pembatalan berbagai eventevent pemerintah dan swasta, penghentian beberapa moda transportasi umum, dan pemberlakuan PSBB di berbagai daerah, larangan mudik, membuat roda perputaran ekonomi melambat. Wabah ini juga ikut menggerus perekonomian global dan merembet hingga ke Indonesia. Selain berimbas kepada nilai tukar, Covid-19 juga berdampak kepada penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang akhirnya terjun bebas. Semua berada di luar prediksi dan bukan hal yang mudah untuk dikendalikan. Sebelum terkonfirmasi penyebaran virus. Nilai tukar rupiah masih berfluktuasi cenderung melemah, sementara pasar bursa pun meradang seiring laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi cukup dalam. Pertumbuhan ekonomi pun diperkirakan akan melambat drastis, terkikis oleh penjalaran dampak virus ke berbagai sektor di perekonomian.

Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu efek negatif yang harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Hal ini terjadi karena nilai tukar mata uang rupiah memiliki keterkaitan langsung dengan fundamental ekonomi lainnya. Setidaknya terdapat beberapa kondisi fundamental ekonomi yang dipengaruhi nilai tukar rupiah secara langsung. Pertama, nilai tukar rupiah berkaitan erat dengan kondisi neraca perdagangan Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa neraca perdagangan Indonesia dalam dua tahun berturut-turut mengalami defisit yang cukup besar, yaitu US$ 8,57 miliar pada tahun 2018 dan US$ 3,2 miliar sepanjang tahun 2019. Hal ini terjadi karena pertumbuhan ekspor yang lamban dibanding dengan pertumbuhan impornya. Dengan semakin lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS maka akan semakin memperlebar defisit neraca perdagangan dalam nilai riil mata uang rupiah. Defisit neraca perdagangan akan semakin besar sehingga akan semakin menekan Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) Oleh karena itu, pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi karena pandemi Covid-19 ini akan berdampak signifikan terhadap kondisi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Bahkan jika pemerintah tidak mampu memberikan respons yang tepat, tidak menutup kemungkinan Indonesia akan kembali masuk ke dalam jurang krisis ekonomi seperti tahun 1998 silam.

Pemerintah Indonesia mesti memiliki strategi yang efektif dalam merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi akibat pandemi Covid-19 ini. Langkah pemerintah ini akan jauh lebih sulit dibanding merespons krisis ekonomi itu sendiri. Hal ini terjadi karena sumber dari krisis ini adalah pandemi virus yang sampai saat ini masih memiliki ketidakpastian yang tinggi. Bahkan sampai saat ini belum ada pihak yang berani memprediksi kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Walaupun demikian, pemerintah masih memiliki berbagai amunisi efektif yang bisa digunakan di tengah keterbatasan yang mengadang. Indonesia memiliki beberapa kelebihan yang jika digunakan secara optimal maka bisa menjadi strategi efektif alam mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah yang sedang terjadi saat ini. Struktur ekonomi Indonesia 56,6%-nya ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Dalam kondisi pelemahan kinerja perekonomian nasional seperti sekarang ini, sisi konsumsi ini menjadi kelebihan Indonesia, mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Konsumsi masyarakat bisa dijadikan driven factor bagi sektor industri dan perdagangan Indonesia. Namun di tengah pandemi Covid-19 ini pemerintah harus bisa memilih sektor kunci yang dapat selaras dengan kondisi yang dihadapi. Salah satu sektor yang patut dipertimbangkan di tengah pandemi Covid-19 adalah sektor kesehatan. Pemerintah melalui APBN-nya bisa meningkatkan pengeluaran pemerintah di sektor kesehatan seperti industri farmasi, alat-alat kesehatan, dan fasilitas-fasilitas kesehatan termasuk pengembangan dan pembangunan rumah sakit. Masa pandemi Covid-19 ini akan memaksa masyarakat untuk meningkatkan konsumsinya di sektor kesehatan sehingga pemerintah bisa memanfaatkan perubahan pola perilaku konsumsi masyarakat ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Namun kebijakan ini harus ditopang oleh kebijakan lain yang menjadi pendukungnya, yaitu pengembangan industri substitusi impor. Menurunnya impor bisa dijadikan momentum oleh industri nasional dalam mengembangkan industri-industri substitusi impor terutama yang berkaitan dengan sektor kesehatan. Dengan demikian maka permintaan dolar AS untuk impor akan jauh berkurang karena sektor industri mampu menggantikan produk-produk yang berasal dari impor. Strategi yang dirancang pemerintah ini harus didukung oleh kebijakan moneter. Bank Indonesia (BI) harus mampu menciptakan sistem keuangan yang mendukung pengembangan sektor kesehatan. Kebijakan suku bunga, Loan to Value, dan sistem pembayaran harus mendukung berkembangnya sektor kesehatan di tengah pandemi Covid-19 ini. Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga harus mampu mendorong lembaga-lembaga keuangan memberikan pembiayaan yang murah bagi sektor industri kesehatan sehingga sektor industri kesehatan tersebut mendapatkan akses terhadap sumber pembiayaan yang berkualitas.

Dengan langkah yang dilakukan secara bersama-sama dan kebijakan yang tepat, maka setiap pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi sebagai dampak dari pandemi Covid-19 ini dapat dihindari. Bahkan sebaliknya, pandemi Covid-19 bisa dijadikan momentum dalam meningkatkan nilai tukar Rupiah.

Sumber : repotase.tv