OPINI OPINI 2020

Daya Dobrak Covid-19

Sedari awal, Covid-19 dianggap hal yang remeh-temeh. Saat virus ini masuk ke Indonesia berbagai spekulasi diucapkan, “Karena perbedaan geografis, virus Corona tidak mungkin ke di Indonesia. Kalaupun virus Corona sampai ke Indonesia, tidak mungkin bercokol lama. “Virus Corona tidak akan betah sama iklim tropis di Indonesia, nanti juga virus ini akan hilang sendiri”. Begitulah kira-kira spekulasi dari beberapa orang, termasuk pernyataan dari Menteri Kesehatan yang mengaggap remeh-temeh ketika awal virus ini mendarat di Indonesia dan menjelma dengan nama Covid-19.

Ternyata, Covid-19 merajalela dan makin menggila. Membentangkan sayap ke seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Daya dobrak penularannya makin berkali-kali lipat. Virus ini bermutasi dan mempunyai daya dobrak yang lebih cepat dari sebelumnya. Tenaga kesehatan (Nakes) yang begitu ketat dan paham betul dengan protokol kesehatan, virus ini mampu mendobraknya barisan terakhir itu. Alhasil, ratusan nakes tumbang satu demi satu.  APD setebal apapun seolah-olah tidak mampu membendung daya dobrak Covid-19.

Ketika Nakes tumbang satu demi satu dan pelayanan kesehatan semakin kritis, kita dipertontonkan pemilihan kepada daerah (Pilkada 2020) diberbagai daerah, berkumpulnya massa dan melakukan arak-arakan, mengelu-elukan calon kepala daerah bak “idola” dan “super star” bersorak ria dengan gegap gempita tanpa jarak dan abai protokol kesehatan. Seolah-olah Covid-19 bukan hal yang perlu dikhawatirkan apalagi ditakuti.

Ternyata, Covid-19 mampu menembus dan mendobrak Pilkada. Ketua KPU beserta jajarannya dan 60 calon kepala daerah terpapar Covid-19. Jika Pilkada diteruskan, potensi penularan Covid-19 akan lebih luas lagi dan menjadi klaster baru. Berbeda dengan negara Korea Selatan, Singapura, Polandia yang yang tetap menyelenggarakan pemilihan di tengah pandemi Covid-19, namun negara tersebut sudah mampu mengendalikan atau minim kasus.

Pemungutan suara di Qeensland, Australia juga dilakukan di tengah Covid-19, Pemerintah mewajibkan warganya ikut pemilu, jika tidak akan di denda 1 juta. Namun, mereka lebih memilih didenda, ketimbangan tertular Covid-19. Warga menyadari, bahwa keselamatan diri adalah nomor wahid.

Sebagaimana yang dikatakan Cicero, filsuf kebangsaan Italia “Salus populi suprema lex esto” keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi bagi suatu negara. Begitu juga dalam tujuan syariah ( maqashid syariah), melindungi jiwa (Hifzun An-nafs) merupakan hal yang harus dijaga dan dilindungi. Seseorang yang beribadah namun mengancam jiwanya, maka lebih diutamakan beribadah di rumah agar selamat jiwanya.

Daya dobrak Covid-19 tidak pandang bulu, mulai dari tua, muda bahkan anak-anak, status sosial, semua bisa terkena keganasan dan amukannya. Daya dobrak penularannya jangan diragukan lagi. Kamis (24/9/2020) kematian akibat Covid-19 sudah tembus sampai 10 ribu jiwa. Bendera kuning hampir berkibar disetiap gang dan suara mobil ambulans terus berkumandang setiap jam. Malaikat Izrail pun tak henti-hentinya melaksanakan titah Tuhan untuk mencabut nyawa manusia. Melihat bendara kuning dan mendengar suara ambulans sudah menjadi hal biasa di tengah pandemi Covid-19.

Sekitar 270 juta penduduk Indonesi, setiap 1 juta penduduk tanah air, ada 37 kematian akibat Covid-19. Bahkan menurut penuturan Worldmeters, angka kematian akibat Covid-19 untuk 1 juta penduduk di Indonesia berada pada peringkat ke 103. Posisi pertama ada di San Marino.Wiku Adisasmito mengatakan pada Kamis (24/9/2020) bahwa kumulatif jumlah kasus meninggal 10.105 atau 3,9 persen di mana angka rata-rata kematian dunia 3,05 persen.

Penambahan rekor kasus harian di Indonesia pada Kamis (24/9/2020) memecahkan rekor tertinggi dengan 4.634 kasus Covid-19 sehingga kasus positif tembus hingga hari ini (29/9/2020) sejumlah 278,722 dan angka kematian 10,472. Penambahan kasus harian terbanyak pada DKI Jakarta, disusul Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Walaupun Indonesia bukan peringkat pertama dari jumlah kasus Covid-19 setelah Filipina, namun Indonesia sampai hari ini menjadi negara dengan angka kematian tertinggi di Asia Tenggara.

Rumah sakit umum di Jakarta rata-rata penuh. Data dinas kesehatan DKI Jakarta, keterisian tempat tidur di ruang isolasi 81 persen dan raung ICU 74 persen. Segala upaya dilakukan Pemerintah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dengan menetapkan rumah rujukan dan rumah sakit darurat. Pemerintah pusat dan daerah mengupayakan penanganan Covid-19 melalui kerjasama dengan persatuan hotel dan restoran Indonesia. Hotel dimanfaatkan untuk pasien Covid-19 pada 9 provinsi. Sebanyak 31 hotel dengan 4.116 kamar sudah disiapkan di DKI.

Selain pelayanan kesehatan yang semakin kritis, DKI juga membuka lowongan untuk tenaga kesehatan (Nakes). Ini menandakan bahwa Nakes sebelumnya sudah banyak yang tumbang. Banyaknya pasien positif Covid-19 kian membebani Nakes, hingga muncul kalimat “Indonesia Terserah” yang pernah viral, menggambarkan pesimistis karena rendahnya disiplin masyarakat terhadap protokol kesehatan dan tidak peduli dengan berbagai seruan dan  tagar.

Sebelum vaksin ditemukan, jangan remehkan daya dobrak Covid-19. Angka kematian harus sering digaungkan, supaya kita menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan.

Sumber: geotimes.co.id
Penulis: Deni Darmawan