OPINI OPINI 2020

Benteng Terakhir

TIMESINDONESIA, BANTEN – Enam bulan sudah negeri ini hidup bersama Covid-19 dan berjibaku melawannya. Pembatasan Skala Sosial Berskala Besar (PSSB) sudah diterapkan, hingga masa transisi New Normal sudah diberlakukan. Namun, lonjakan kurva penularan semakin tinggi. Semua sektor mengalami guncangan, tak terkecuali sektor ekonomi agar tidak mengalami resesi.

Ikatan Dokter Indonesia sekaligus Ketua Satuan Tugas Covid-19 Zubairi Djoerban mengatakan bahwa penyebaran virus baru dari Covid-19 bermutasi menjadi SAR-COV-2 yang penularannya lebih cepat dan semakin meningkat. Di New York, Italia, dan Inggris juga ditemukan oleh para peneliti mutasi virus korona yang dinamai strain virus D614G yang penularannya 10 kali lebih cepat dan ganas ketimbang Covid-19. Dalam pemberitaan media online, mutasi virus korona D614G ditemukan juga di Indonesia. 

Gelaja baru Happy Hypoxia juga ditemukan pada orang tanpa gejala (OTG), tanpa menunjukkan gejala dahulu lalu mendadak meninggal. Kita juga sering disuguhkan berita-berita mengenai satu keluarga meninggal karena infeksi Covid-19. Klaster keluarga sudah banyak yang terpapar. Terjadi di Surabaya dan Madura satu keluarga tertular dan meninggal. 

Secara psikologis, mendengar berita-berita tersebut tentu kita akan kaget dan takut. Namun bagi sebagian orang virus korona bukan lagi sesuatu yang mencemaskan, hari-hari dijalankan seperti biasa, bahkan tanpa masker dan tidak peduli protokol kesehatan. Padahal, untuk saat ini vaksin untuk diri kita sendiri yang sangat ampuh adalah vaksin protokol kesehatan (memakai masker, mencuci tangan dan menghindari kerumunan).

Selama  enam bulan hidup bersanding dan berjibaku Covid-19 kenyataan pahit harus kita terima, bahwa masyarakat menjadi garda terdepan dalam memutuskan penularan Covid-19 belum menunjukkan hal yang positif, malah semakin kurva penularan semakin melonjak. Bahkan pernah tembus di atas 3.300-an kasus per hari. Harapan untuk keluar dari pandemi kian semakin jauh dari jangkauan. Seperti awan gelap yang menyeliputi setiap harinya. Sambil menunggu keajaiban datang.

Tenaga medis (nakes) menjadi benteng terakhir jangan sampai tumbang. Walaupun faktanya sebanyak 102 dokter meninggal dan nakes lainnya dirawat karena terinfeksi positif korona. Banyak nakes yang sudah terpapar, hingga pelayanan kesehatan kritis dan tutup, karena tidak sanggup melayani pasien positif korona yang hari demi hari kian kasusnya makin naik. Masyarakat yang diharapkan menjadi garda terdepan tidak mampu memutus rantai penularan. Pemerintah pun agak lambat melakukan 3T (Testing, Tracing, Treatment). Sedangkan pembukaan sektor ekonomi dengan risiko tinggi penularan seperti biskop dan tempat kebugaran malah akan dibuka.

Pemulihan ekonomi dan kesehatan secara bersamaan sepertinya sulit diupayakan. Pemulihan kesehatan masih jauh dari harapan dan belum maksimal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menetapkan standar 1 test per 1.000 penduduk per minggu. Harusnya, dengan standar itu sudah 267.000 test per minggu. Faktanya jauh panggang dari api. Berbeda dengan China, asal virus korona berasal, sektor kesehatan menjadi prioritas utama.

Banyaknya nakes yang terinfeksi membuat beban kerja mereka semakin berat dan kepayahan. Menurut penuturan beberapa nakes yang penulis pantau dari media, jumlah dokter paru dan dokter lainnya yang berjibaku mengurus pasien Covid-19 sudah banyak yang meninggal, padahal mereka sudah memakai alat pelindung diri (APD) dengan sangat lengkap dan super ketat protokol kesehatan. Namun risiko penularan virus yang sudah airborne masih tetap tinggi sekalipun sudah memakai APD dan menjalankan protokol kesehatan. 

Nakes yang melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19 mempunyai resiko yang sangat tinggi, maka nakes harus mendapat test dan pemeriksaaan yang rutin. Tidak semua nakes mendapat test rutin, tidak semua rumah sakit mampu melakukan test rutin kepada nakes. Bahkan untuk diagnosis dan perawatan terlambat, sehingga nakes banyak yang tumbang satu demi satu. Sungguh tragis.

Jika masyarakat menjadi garda terdepan dalam memutus penularan Covid-19 tidak sesuai yang diharapkan, maka sedari awal pemerintah harusnya sudah memberikan sanksi baik denda atau hukuman penjara bagi yang abai dengan protokol kesehatan. Pemerintah kita mengalami dilema dalam menangani Covid-19. Di sisi lain ingin memulihkan sektor perekonomian, namun di sisi lain kurva penularan semakin melonjak. Jika penanganan kesehatan sudah dilakukan maksimal, pemulihan sektor ekonomi bisa dilakukan secara optimal. Jika pemulihan ekonomi dipercepat, namun kesehatan jadi tersendat.

Nakes yang menjadi benteng terakhir bisa saja tumbang. Pelayanan kesehatan mulai dari rumah sakit hingga puskesmas akan tutup karena sudah tidak mampu lagi menampung pasien positif Covid-19. Pemerintah harus lebih memperhatikan nakes yang menjadi benteng terakhir. Jangan biarkan benteng itu roboh dan hancur. 

Naudzubillah, jangan sampai terjadi hal yang mengerikan seperti di kota Guayaquil, Ekuador. Pemandangan mengerikan begitu nyata di depan mata, mayat-mayat bergelimpangan di jalanan, luar rumah, rumah sakit, dan tempat-tempat lain. Mudah-mudahan itu tidak terjadi di bumi pertiwi Indonesia. Semoga. 

***

*)Oleh: Deni Darmawan, Dosen Universitas Pamulang dan Pengurus Lembaga Kajian Keagamaan Unpam.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi 

Sumber: timesindonesia.co.id