New Normal dan Simalakama WO

Masa New Normal menjadi angin segar bagi para calon pasangan suami-istri untuk melangsungkan pernikahan yang mungkin sempat tertunda. Ya, tidak sedikit pasangan yang sebetulnya sudah merencanakan acara resepsinya sejak dua atau tiga bulan yang lalu. Mereka menyambut baik New Normal karena dianggap ‘melonggarkan’ aturan tentang resepsi. Meskipun tentu saja, harus dengan protokol kesehatan yang relatif ketat.

Sejak diberlakukannya New Normal, sudah banyak pasangan yang melangsungkan pernikahan. Utamanya di desa-desa, sudah banyak warga menggelar resepsi dengan mengumpulkan banyak orang. Meskipun di berikan waktu, tetapi kondisi seperti ini menimbulkan kerawanan. Adanya berita tentang penularan Covid 19 di Surabaya karena digelarnya acara pernikahan, membuat para calon pasangan hendak menikah kembali menjadi ketakutan. Alhasil, menggunakan jasa wedding organizer (WO) dianggap menjadi salah satu solusi. Tujuannya, agar resepsi berjalan lebih meriah namun tetap berpedoman pada protokol.

Gabungan Perkumpulan Penyelenggara Pernikahan Indonesia telah mengeluarkan protokol pelaksanaan resepsi di era New Normal. Protokol ini dianggap sebagai salah satu solusi agar pernikahan tetap berlangsung sakral meskipun terdapat beberapa aspek yang dibatasi. Namun demikian, protokol tersebut dirasa menjadi semacam buah simalakama bagi para pengusaha WO. Bagaimana tidak, jika menerapkan protokol yang terlalu ketat, cenderung akan ditinggalkan pelanggan. Selain itu, misalnya jika akad hanya boleh disaksikan oleh 10 orang, maka pelanggan akan berfikir ulang untuk apa menyewa WO.

Tetapi jika tidak menerapkan protokol yang ketat, penyelenggaraan resepsi cenderung rentan menjadi tempat penyebaran Covid 19. Kondisi maju kena mundur kena seperti ini dirasa sangat memusingkan pengusaha WO. Lantas kemudian, apa yang harus dilakukan mereka?.

Dalam bidang ilmu manajemen, terdapat konsep ramping struktur kaya fungsi. Konsep ini nampaknya menjadi salah satu yang harus digunakan para penyelenggara wedding. Pengatur acara di lapangan tidak perlu banyak, justru harus seminim mungkin dan yang perlu diperbanyak justru adalah para karyawan bagian kreatif WO itu sendiri.

Maksudnya adalah, bidang pemasaran digital, bidang editing foto dan video, dan bidang-bidang lainnya justru yang perlu diperbanyak. Hal ini karena pengusaha WO perlu membangun citra yang baik serta memaksimalisasi sakralitas resepsi dengan dokumentasi yang baik dan berkesan, khususnya untuk dishare para pelanggan di media sosialnya masing-masing.

Langkah kedua yang perlu dilakukan pengusaha WO agar tetap mendapatkan job adalah dengan meminimalisir biaya operasional penyelenggaraan resepsi. Meminimalisirnya dapat dengan menghadirkan dekorasi yang sederhana namun terlihat elegan. Untuk itu, dekorasinya diharapkan menggunakan bahan-bahan yang relatif murah tetapi dapat disusun secara lebih kreatif. Begitupun halnya dengan riasan make up, lebih baik konsepnya simple saja tapi tetap membuat ‘pangling’.

Dengan meminimalisir biaya operasional, harga yang ditawarkan WO kepada pelanggan juga tentu saja dapat lebih murah. Dengan demikian, WO tetap dapat berjalan di era New Normal. Tetapi pada intinya, diperlukan kreativitas, inovasi, dan kompetensi yang lebih banyak dari para pengusaha WO untuk menghadapi simalakama penyelenggaraan resepsi di era New Normal ini.

Sumber: inilahkuningan.com
Oleh : Desi Kurniawati, M.M. (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *