OPINI OPINI 2020

Pembelajaran yang Ideal di Era New Normal

Pandemi korona virus atau yang dikenal dengan Covid-19 sedang berlangsung diseluruhdunia. Di Indonesia sendiri pertama kali dideteksi pada 2 Maret 2020, Pada 9 April, pandemi sudah menyebar ke 34 provinsi dengan Jakarta, JawaTimur, dan JawaBarat sebagai provinsi paling terpapar. Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) pada 31 Maret 2020 sampai 2 Juni 2020. Setelah itu pemerintah memutuskan untuk melakukan new normal.

WHO sendiri menyatakan syarat agar dapat melakukan new normal disuatu wilayah adalah:

  1. Negara yang akan menerapkan konsep new normal harus memiliki bukti bahwa penularan Covid-19 di wilayahnya telah bisa dikendalikan.
  2. Sistem kesehatan yang ada sudah mampu melakukan identifikasi, isolasi, pengujian, pelacakan kontak, hingga melakukan karantina orang yang terinfeksi. Sistem kesehatan ini mencakup rumah sakit hingga peralatan medis.
  3. Risiko wabah virus corona harus ditekan untuk wilayah atau tempat dengan kerentanan yang tinggi.
  4. Langkah-langkah pencegahan di lingkungan kerja. Langkahlangkah pencegahan ini meliputi penerapan jaga jarak fisik, ketersediaan fasilitas cuci tangan, dan penggunaan masker.
  5. Risiko terhadap kasus dari pembawa virus yang masuk ke suatu wilayah harus bisa dikendalikan.
  6. Masyarakat harus diberikan kesempatan untuk memberi masukan, berpendapat dan dilibatkan dalam proses masa transisi menuju new normal.

Update terakhir dari covid19.go.id terhitung 10 Juni 2020 di Indonesia sendiri kasus positif covid ada sebesar 34.316 jiwa, sembuh 12.129 jiwa dan meningga sebesar 1.959 jiwa. Sehingga dapat dikatakan penularan covid-19 di Indonesia sendiri masih belum bisa dikendalikan. Walapupun begitu Presiden Ir. Jokowidodo sendiri tetap akan menerapkan kebijakan new normal dengan steatmentnya bahwa warga Indonesia harus berdamai dengan Covid-19. Pernyataan tersebut tentunya banyak menimbukan pro dan kontra dikalangan masyarkat.

Dalam bidang pendidikan, setelah adanya issues mengenai New Normal membuat banyak sekali tanggapan yang beragam. Mulai dari tenaga stakeholder, pendidik, murid dan orang tua murid. Bahkan Komisioner Komisi Perlindungan Anak (KPAI) Retno Listyarti menginisiasi penyusunan angket yang berisi 10 pertanyaan terkait rencana sekolah dibuka jelang penerapan new normal. Angket ini bertujuan untuk memberikan ruang partisipasi kepada siswa, orang tua, dan guru secara langsung kepada kebijakan negara terkait anak. Hasil dari angket tersebut adalah sebagian besar anak setuju untuk kembali belajar disekolah namun kebanyakan orang tua tidak setuju. Hal tersebut dikarenakan banyak siswa yang sudah rindu untuk kembali belajar disekolah untuk bertemu teman-teman dan guru-gurunya tetapi para orang tua khawatir penularan dari virus corona disekolah atau saat anak mereka berangkat dan pulang dari sekolah.

KementerianPendidikandanKebudayaan (Kemdikbud) memutuskan tahun ajaran baru 2020-2021 akan tetap dimulai pada bulan Juli. Dimulainya tahun ajaran baru bukan berarti kegiatan belajar mengajar siswa akan dilakukan tatap muka di dalam kelas. Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemdikbud, Evy Mulyani dalam tayangan YouTube yang disiarkan BNPB Indonesia, memaparkan “Tahun ajaran baru tetap, tahun ajaran baru 2020 akan dimulai pada Senin ketiga Juli yang akan datang. Tahun ajaran baru akan dimulai sesuai dengan waktu yang sudah direncanakan. Tetapi bukan berarti kegiatan belajar mengajar akan dimulai secara tatap muka di sekolah,”

Hal tersebut berarti pembelajaran tahun ajaran baru akan tetap dilaksanakan bulan Juli, hanya saja dibukanya kembali sekolah masih menunggu kebijakan dari pemerintah. Dengan belum dibukanya sekolah seperti biasa menandakan bahwa pembelajaran yang akan dilakukan adalah pembelajaran jarak jauh (PJJ) seperti saat penerapan PSBB yang dimulai awal maret kemarin dan sudah banyak diterapkan oleh guru dan dosen dengan berbagai metode pembelajaran dan platform pebelajaran online.

PJJ yang lebih sering disebut dengan pembelajaran online atau e-learning sudah diterapkan oleh sekolah ataupun perguruan tinggi kurang lebih selama tiga bulan. Tes online untuk melakukan evaluai pembelajaranpun juga telah diterapkan. Dikarenakan kurangnya persiapan saat itu mebuat pebelajaran online banyak menghadapi kendala. Cultural Shock dan adaptasi menjadi hal yang dirasakan oleh guru, murid serta orang tua murid. Hal tersebut karena Guru, Murid dan orang tua dipaksa bermigrasi dan beradaptasi memasuki era digital secara tiba-tiba. Beberpa guru dan orang tua juga tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang gawai dan literasi digital.

Pembelajaran yang ideal merupakan pembelajaran yang mampu medorong kreativitas anak secara keseluruhan, membuat siswa aktif, mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan berlangsung dalam kondisi menyenangkan. Selain itu pembelajaran ideal berarti tercapainya tujuan dari suatu pembelajaran. Namun, pada era new normal tentunya pembelajaran yang ideal adalah tantangan tersendiri bagi sekolah, guru, murid dan juga orang tua. Hal tersebut karena pembelajaran harus tetap berlangsung secara online, padahal selama ini murid dan guru terbiasa bertemu melakukan pemelajaran dengan bertatap muka.

Pada era new normal dalam dunia pendidikan yang akan mulai terealisasi sepenuhnya pada tahun ajaran baru, perlu adanya persiapan dari semua stakeholder dunia pendidikan. Selain itu, perlu adanya sosialisasi dan diskusi oleh sekolah, guru dan orang tua yang akan memonitori pembelajaran siswa dirumah. Agar terjadi Pembelajaran yang ideal di era new normal ada beberapa hal yang harus dipersiapkan dan dilakukan terutama oleh para pendidik, yaitu:

  1. Menggunakan platform pembelajaran daring (dalam jaringan) yang tepat atau sesuai dengan siswa. Atau pembelajaran juga bisa secara luring (luar jaringan) dengan mengunggah terlebih dahulu materi pembelajaran di internet atau di media sosial guru (bisa berupa referensi bacaan atau video pebelajaran).
  2. Memberikan tugas atau evaluasi yang tidak memberatkan siswa tetapi tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran.
  3. Menentukan kembali capaian pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tidak perlu dirubah secara total, namun cukup dengan menentukan kembali capaian pembelajaran mana yang dapat disampaikan secara e-learning dan mana yang tidak.
  4. Menentukan metode dan platform asesmen yang sesuai bagi setiap capaian pembelajaran.
  5. Untuk pembelajaran daring, perhatikan waktu yang sesuai dengan tingkat kemapuan afektif dan kemampuan metakognitif siswa. Begitu juga dalam pemberian tugas. Tugas yang menyita waktu dapat membuat beban belajar siswa menjadi jauh lebih tinggi.
  6. Selalu memberi motivasi kepada siswa agar tetap semangat dalam belajar walaupun melalui pembelajaran jarak jauh. Sesekali berikan siswa reward bisa berupa poin nilai tambahan.
  7. Selalu berkomunikasi dengan orang tua murid untuk mengetahui kendala yang dihadapi siswa selama melakukan pembelajaran dirumah.
  8. Karena pembelajaran online berorientasi pada siswa dan siswa dituntut untuk lebih kreatif, buatlah tugas yang bersifat open minded atau tugas yang mengutamakan untuk mendorong siswa lebih banyak mengalami (berbuat atau mengamati), melakukan interaksi, komunikasi, dan ada umpan balik dalam mengkonstruksi pengetahuan sehingga siswa dapat belajar secara bermakna.

Beberapa poin diatas merupakan cara yang dapat dilakukan guna menerapkan pembelajaran yang ideal jika pembelajaran dilakukan secara jarak jauh (PJJ), Namun apabila kebijakan pemerintah mengatakan pembelajaran dapat dilakukan disekolah dengan menerapkan standar protokl covid-19, para guru juga tetap harus mengusai dan menggunakan literasi digital agar pembelajaran secara blended leraning dapat tetap dilakukan. Karena tidak dapat dipungkiri kita berada di era digital dimana semua dituntuk untuk mampu menguasai teknologi.

Selain guru, sekolah harus mempersiapkan infrastruktur yang sesuai untuk pembelajaran online, bisa menyiapkan aplikasi pembelajaran sendiri atau menetapkan aplikasi yang sudah ada untuk dipakai guna menghindari siswa mendownload terlalu banyak aplikasi atau platform. Setidaknya pembelajaran online yang awalnya terpaksa dilakukan bisa menjadi langkah awal bagi sekolah dalam menerapkan blended learning guna mewujudkan Education 4.0 yang akan menjadi New Normal di era digital pasca pandemi Covid-19 nantinya.

Sumber: suaratangsel.com
Oleh: Faizah Adisty, M.Pd, Dosen di Universitas Pamulang