OPINI OPINI 2020

CEPAT PULIH INDONESIAKU, KAMU PASTI BISA

AKHIR tahun 2019, dunia dikejutkan dengan virus kecil yang ukurannya sekitar 400-500 mikrometer dan bernama Virus corona atau Covid-19. Virus corona telah menyebar dengan cepat ke lebih dari 121 negara dan wilayah di dunia. Meskipun tingkat kesembuhan penyakit ini lebih dari separuh jumlah kasus terinfeksi, virus corona jenis baru yang pertama kali ditemukan di Wuhan ini telah menewaskan lebih dari 4.000. Pada Rabu (11/3/2020), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus corona jenis baru penyebab Covid-19 telah menjadi pandemi global. Melansir dari CNN, virus corona merupakan kelompok besar virus yang umum di antara hewan. Virus dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan yang mirip dengan flu biasa. Gejalanya termasuk pilek, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan mungkin demam yang berlangsung selama beberapa hari.
Di indonesia kasus ini pertama kali ditemukan pada dua orang warga depok, pada awal Maret 2019 dan hingga kamis 4 Juni 2020 jumlah yang positif perkembangan tersebut membuat total jumlah kasus positif telah mencapai 28.818 pasien. Data ini berdasarkan update terbaru yang dirilis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada Kamis sore. Sementara jumlah pasien positif corona di Indonesia yang sudah sembuh, secara keseluruhan saat ini sudah 8.892 orang. Laporan Gugus Tugas menunjukkan ada 486 kasus kesembuhan baru dalam sehari terakhir. Penambahan ini lebih banyak dibanding laporan pada Rabu kemarin, tetapi belum melampui level tertinggi sebelumnya. Sedangkan total jumlah kematian pasien positif corona di tanah air sebanyak 1.721 jiwa atau 6 persen dari total kasus. Dalam sehari terakhir, tercatat ada 23 kasus kematian baru.
Disini kita bisa lihat bahwa kasus di indonesia per tanggal 4 juni 2020 jumlah yang positif mencapai 28.818 jiwa, jumlah yang sudah sembuh 8.892 jiwa sedangkan yang meninggal 1.721 jiwa. Hal ini tentu saja masih menunjukkan angka yang cukup besar untuk suatu negara yang terkena suatu wabah. Tetapi kita tidak boleh pesimis melihat kenyataan wabah ini kita bisa meniru contoh negara yang pertama kali terkena wabah yaitu wuhan serakang sudah terbebas dari virus corona.
Saat pertama virus ini menyebar di daerah wuhan, saya sering mengikuti berita tentang perkembangan virus corona disana, saya sampai mengeluarkan air mata pada saat warga wuhan yang saling menguatkan dari rumah masing- masing warga dengan berteriak “Wuhan Jiayou”. Terpikir dibenak saya bagaimana kalau di indonesia mengalami hal seperti yang dialami oleh wuhan. Tak terbayangkan dengan warga dinegara kita indoensia kalau mengalami itu, akan tetapi takdir berkata lain, negara kita pun mengalami dengan terjangkitnya virus kecil yang mudah sekali penularannya dan belum ditemukan obatnya, itulah virus corona atau sebut juga dengan Covid-19. Tetapi kita sebagai manusia yang memiliki Tuhan tidak boleh menyerah dengan keadaan ini.
Dengan adanya virus ini bukan berarti kita harus mundur dan terpuruk, kita ambil contoh kasus kemunduran ekonomi yang terjadi pada negara kita yaitu peristiwa tahun 1998, dimana pada saat itu terjadi krisis financial yang luar biasa tapi negara kita mampu bangkit pada masa itu. Bukannya negara kita dikenal dengan negara maritim berbudaya bahari, Presiden Soekarno pada orasinya di Hari Maritim tahun 1963 berkata,” Indonesia tidak akan menjadi bangsa yang kuat, kalau rakyatnya tidak kawin dengan laut. Apabila Bangsa Indonesia mempunyai jiwa samudera, jiwa pelaut, maka Indonesia akan menjadi bangsa yang maju”. Sitiran kata dari orasi tersebut mempunyai makna yang sangat dalam, dikarenakan negara kita dikelilingi oleh lautan, hal ini dapat menjadi salah satu sumber kekuatan negara apabila negara kita dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ada.
Nilai tukar rupiah menguat tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (5/6/2020). Tidak sekedar menguat, tapi rupiah menguat “gila-gilaan” pekan ini, hingga kembali ke zona hijau di tahun ini alias menguat secara year-to-date (ytd). Di pembukaan perdagangan, rupiah hanya menguat tipis 0,07% ke Rp 14.050/US$, tetapi kurang dari 1 jam, Sang Garuda sudah berhasil menembus ke bawah level psikologis Rp 14.000/US$. Setelahnya rupiah tak terbendung, apresiasi terus berlanjut hingga 1,6% ke Rp 13.835/US$ di pasar spot melansir data Refinitiv. Hingga pukul 12:00 WIB, rupiah masih bertahan Rp 13.835/US$ yang merupakan level terkuat sejak 24 Februari (sumber.Jakarta, CNBC Indonesia).
Berdasarkan data diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa negara kita mulai ada perbaikan dengan menguatnya rupiah. Ini menjadi salah satu motivasi kita semua bahwa negara Indonesia mampu melewati ini semua. Semoga dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dapat mempercepat pemulihan untuk negara kita disegala bidang kearah yang lebih baik dan sesuai harapan bersama yaitu terbebas dari virus corona dan mengembalikan perekonomian negara kita.
Kita juga harus optimis dengan adanya new normal yang sebentar lagi akan diberlakukan oleh negara kita, tentu membuat pulih perekonomian suatu negara bukan hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan, tapi bukan juga hal yang mustahil negara kita mampu bangkit dari masa-masa pandemi ini. Peran serta semua rakyat dan tentunya didukung oleh pemerintah, kita pasti bisa bangkit menjadi negara yang sejahtera.

Oleh: Sam Cay, S.E.,M.M.
Dosen Prodi S1 Manajemen
Universitas Pamulang

Sumber : rakyatmerdekanews.com