OPINI OPINI 2020

New Normal: “Blended Learning” dan Tatanan Pembelajaran Beradaptasi dengan COVID-19

Oleh: Herdi Wisman Jaya S.Pd., M.H., CT
Dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten

Reportase.tv, Tangsel – Pemerintah Indonesia telah menggemakan tentang sebuah tatanan baru melalui juru bicara pusat penangganan COVID-19, Achmad Yurianto yang mengatakan masyarakat harus tetap menjaga semua produktifitas di tengah pandemi virus Corona COVID-19 , hal ini menurut beliau di sebabkan belum di temukannya vaksin definitive dengan standar internasional untuk mengobati dan menangani virus corona yang masih terus meningkat di Indoensia sampai saat ini dan belum ada kepastian kapan akan menurun penyebarannya, dalam keterangannya di Graha BNPB Kamis, (28/5/2020). Maka tatanan baru ini lah yang memperlihatkan kebiasaaan baru dan cara baru dalam berprilaku hidup di tengah masyarakat pada umumnya dan tetap menjalankan semua protokol COVID-19 dalam menjalankanya yaitu dengan rajin mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, menghindari dari kerumunan, memakai masker setiap keluar rumah serta melakukan kesadaran diri untuk tetap menjaga jarak aman minimal 1 meter dengan siapa saja di luar atau di tempat umum. Kesadaran inilah yang harus menjadi suatu kesadaran kolektif oleh seluruh masyarakat luas dan oleh semua stakeholder dan semua lapisan masyarakat di Indoensia saat ini. Maka harapan besar pada masa New Normal ini masyarakat dan para pengelolah tempat keramaian atau umum apakah tempat berbelanja, mall misalnya tempat pariwisata atau tempat-tempat keramaian pada umumnya tidak tertutup tempat ibadah juga harus menjalankan standar hidup baru di masa pandemi COVID-19, protokol new normal berlaku bukan saja dalam bidang ekonomi tapi juga wajib di lakukan dalam bidang keagamaan di seluruh pelosok negeri,lalu bagaimana dengan sekolah?

Kenormalan baru memang sebuah istilah baru yang dalam bidang bisnis dan ekonomi yang merujuk dari suatu peristiwa dan kondisi-kondisi pasca keuangan usai krisis. Maka tidak bisa lepas dengan dunia pendidikan. Dalam sebuah kesempatann Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Presiden mengharapkan new normal dapat di impelmentasikan dengan pertimbangan studi epidemiologis dan kesiapan regional, setelah rapat terbatas pada Senin (18/5/2020) seperti dikutip Sekretariat Kabinet (http://tirto.id/fCSg). Sekolah selama pandemi COVID-19 sudah menjalankan berbagai jenis pendidikan termasuk dengan blanded learning yang saat ini tetap di lakukan di tengah pembelajaran new normal akan di lakukan oleh pemerintah dan semua tingkat satuan pendidikan. Pada dasarnya semua pembelajaran tetap harus di lakukan dan salah satunya dengan cara blended learning ini yang melakukan sistem pembelajaran dengan mengabungkan tatap muka dan virtual. Akan tetapi dalam pelaksanaanya apa yang ingin di capai dalam pembelajaran blanded learning tidak semudah yang di bayangkan oleh para siswa yang menjadi pelaku jenis pembelajran secara virtual di rumah masing-masing dan para orang tua yang yang menjadi pendamping sekaligus guru di rumah dan motivator para siswa yang belajar mengunakan sistem blanded learning, tidak jarang banyak orang tua yang mengeluhkan hal-hal seperti ini, tidak semua siswa antusias dalam proses pembelajaran online atau pembelajaran virtual yang di gunakan saat ini, malah kadang tidak sedikit dari para siswa-siswi yang mendapatkan tugas dari para gurunya dengan cara blanded learning ini yang meremehkan proses pembelajaran online tersebut, mengingat tidak adanya tatap muka dengan gurunya secara langsung dan tidak di awasi secara lengsung juga, tugas-tugas yang diberikan guru pun kadang tidak jarang hanya di anggap Pekerjaan Rumah (PR) biasa dan tidak dikerjakan karena alasan yang sebenarnya bisa diatasi dengan santai dan dengan mudah kapan saja dan oleh siapa saja yang ada di rumah, kemudian banyak juga yang beralasan seperti dengan alasan kuota internet yang tidak mencukupi untuk melakukan pembelajaran secara daring, sinyal gadget yang tidak baik serta tidak sama dari masing-masing provider yang di gunakan oleh siswa, atau perangkat lunak (smarphone, HP, laptop) yang digunakan tidak mendukung dalam mengerjakan tugas – tugas mereka sehari-hari selama dilakukan pembelajaran sistem daring blanded learning ini, kemudian ada juga yang beranggapan hasilnya tidak sedikit komponen – komponen nilai siswa yang belum bahkan tidak terpenuhi dan tidak tercapainya tujuan pembelajaran dengan menggunakan sistem blanded learning ini.

Hasil belajar yang dimiliki siswa pun akhirnya menjadi boomerang bagi siswa itu sendiri, kemudian yang menjadi masalah besar pada sistem ini adalah para pemangku kepentingan yang ada dalam rumah tangga yaitu ibu rumah tangga, sebagai orang tua yang mengalami hal yang sama memang banyak anak-anak yang tidak mengikuti pembelajaraan daring dengan baik dengan bermacam alasan dan guru pun sulit untuk memberikan nilai, dan seperti harus diingatkan dan diberi penjelasan bahwa KBM itu tetap berjalan namun dirumh juga sudah dilakukan oleh para guru, mungkin jika hanya mengajar 1 atau 2 kelas mudah mengkondisikannya hanya puluhan jika mengajar bebereapa sekolah dan semuan jenjang maka tidak muda untuk mencapai apa yang di inginkan dengan kendalanya yang cukup unik dan lumayan banyak di temukan dalam pembelajaran daring selama ini, selain tidak semua siswa masuk pembelajaraan yang telah di tetapkan dan telah di tentukan oleh guru di sekolah, seperti contohnya sudah saling koordinasi dengan para orang tua di group WhattApp orangtua tapi tetap saja banyak siswa dan siswi yang tidak mengikuti dan tidak mengirimkan tugas yang telah di tentukan, apalgi guru selain mengajar wali kelas juga yang tanggung jawabnya lebih lagi untuk selalu mengingatkan siswa-siswinya dalam setiap kesempatan dan menilai serta mencatat siapa yang sudah mengirim tugas dan telah mengerjakan tugas. Jadi untuk pembelajaraan online atau daring ini memang tidak mudah mengkondisikan nya … jika siswa mengikuti ya ada nilai jika tidak mengikuti nilai nya tidak ada.

Guru harus kreatif membuat pembelajaraan agar siswa tidak bosen dan itu setiap minggu nya, bahwa dalam proses pembelajaran online guru sangat dituntut produktif dan kreatif, memang dalam proses pembelajaran tatap muka juga guru diharuskan kreatif, terlebih lagi dalam proses pembelajaran online guru harus menggunakan metode – metode yang tidak membuat jenuh siswa. Guru pun harus membangkitkan semangat dan motivasi siswa dalam proses pembelajaran online tersebut. Serta terus berkoordinasi dengan orang tua siswa agar siswa dapat mengikuti proses pembelajaran online dangan baik, dan dapat mengerjakan tugas – tugas yang diberikan guru dengan tepat waktu. Komunikasi yang baik antara orang tua siswa dengan guru selaku pihak sekolah akan mendorong semangat dan motivasi belajar siswa pun meningkat. Menurut saya dalam pembelajaraan dengan iklim sosial dan psikologis ditengah wabah COVID-19 yaitu pembelajaraan para siswa atau anak saya sendiri yang biasanya dilakukan disekolah berinteraksi  dengan teman-teman dan pembelajaraan pun langsung tatap muka  dengan guru namun sekarang mereka harus stay dirumah melakukan pembelajaraan online dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. Memang awalnya para siswa senang dengan libur belajar dirumah namun sekarang merasakan kejenuhan banyaknya orangtua komplain dengan tugas siswa yang banyak serta memerlukan kuota yang tidak sedikit belum kadang tantangan sinyal yang kurang bagus, mungkin tidak semua orang tua atau siswa mengeluhkan hal sama karna disini dapat dilihat kodusifnya iklim sosial yaitu lingkungan di rumahnya bagaimana orang tua membimbing anak-anaknya dalam kondisi seperti ini dan akan mempengaruhi psikologis anak  seperti membuat pembelajaraan yang menyenangkan tidak membosankan, maka dari itu lingkungan belajar di rumah mempunyai pengaruh besar terhadap kegiatan belajar anak di rumah.

Sumber : reportase.tv