OPINI OPINI 2020

Medan Makna Normal Baru

Jakarta – Saat sejumlah daerah menerapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), terselip wacana normal baru (new normal) yang digulirkan oleh pemerintah pusat. Masyarakat coba memaknai normal baru menurut sudut pandang masing-masing. Boleh jadi suasana jalanan yang padat merayap beberapa hari terakhir menjadi dampak dari pemaknaan masing-masing terhadap normal baru. Betulkan seperti itu?

Tulisan ini coba memaknai normal baru menurut sudut pandang medan makna (semantic field) guna meminimalisasi terjadinya pemaknaan terhadap suatu istilah baru yang berkembang luas di tengah masyarakat. Medan makna menjadi salah satu sub pembahasan dalam ilmu semantik, suatu ilmu yang secara khusus membicarakan tentang makna.

Menurut Harimurti Kridalaksana (2008) dalam Kamus Linguistik, medan makna adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian bidang kehidupan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Misalnya, nama warna membentuk medan makna tertentu, begitu pula nama perabot rumah tangga, resep makanan dan minuman, peristilahan penerbangan, dan seterusnya.

Normal baru menjadi frasa yang sangat tinggi pemakaiannya di tengah masyarakat akhir-akhir ini, baik daring maupun luring. Normal baru dapat dikategorikan ke dalam istilah bidang kesehatan. Kehadirannya seakan menjadi suatu peluang bagi masyarakat untuk kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Padahal bila merujuk lebih jauh dari perspektif medan makna tentu bukan seperti itu yang diharapkan oleh pemerintah. Meskipun kita sama-sama memahami bahwa keberadaan di rumah yang sudah lebih dua bulan tentu terdapat rasa jenuh serta bosan. Boleh jadi pula normal baru menjadi obat jenuh dan bosan.

Normal baru memiliki sejumlah medan makna. Namun, sebelum memaknainya terlebih dahulu dijelaskan bahwa dalam tradisi pengkaji semantik untuk suatu kata yang memiliki makna yang bersesuaian dilabeli dengan lambang tambah (+) lalu disertai deskripsi maknanya, sedangkan kata yang tidak memiliki makna yang sesuai dilabeli dengan lambang kurang (-) lalu disertai deskripsi maknanya.

Oleh karenanya, secara medan makna, normal baru paling tidak memiliki makna (+ memakai masker), (+ sering mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di luar rumah), (+ selalu menjaga jarak fisik/sosial), (+ hindari kerumunan/keramaian), (+ gunakan hand sanitizer), (+ bekerja dari rumah), dan (+ beribadah di rumah).

Perlu diberi penegasan bahwa sejumlah makna yang bersesuaian dengan normal baru ini berlaku pada masa pandemi Covid-19. Dengan arti kata, orang yang keluar rumah dewasa ini dengan tanpa menggunakan masker menjadi sesuatu yang tidak normal. Pasalnya, bertolak belakang dengan etika normal baru yang menuntut semua orang menggunakan masker saat keluar rumah untuk berinteraksi antarsesama.

Hal sama juga pada medan makna lain yang dimiliki oleh normal baru, yaitu sering mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di luar rumah. Padahal, sebelum adanya wabah Covid-19 orang mencuci tangan pada saat mau makan. Dewasa ini menjadi persyaratan mutlak untuk sering-sering mencuci tangan dengan sabun pada fase normal baru. Bahkan ketidakseringan mencuci tangan saat beraktivitas di luar rumah menjadi tidak masuk dalam kriteria normal baru.

Hal sama juga pada menjaga jarak fisik/sosial yang masuk ke dalam radar normal baru. Kita dapat merasakan beratnya masuk ke dalam fase normal baru semacam ini. Dengan adanya jarak fisik/sosial, antarorang harus saling menjaga jarak paling sedikit satu meter. Tentu fenomena ini menambah daftar panjang beban sosial yang dialami oleh bangsa Indonesia. Bahkan dampak lain yang ditimbulkan oleh jarak sosial/fisik ialah tidak bolehnya berjabat tangan antar orang. Sungguh diketahui berjabat tangan menjadi tradisi yang mengakar kuat di tengah masyarakat Indonesia. Lebih-lebih dalam suasana pasca lebaran.

Medan makna normal baru telah menjadi fase baru dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Sederhananya, bertolak belakang dari normal baru justru menjadi abnormal. Betapa tidak, menjadi tidak normal bagi orang yang keluar rumah tidak menggunakan masker. Pasalnya, dalam kehidupan normal baru telah diatur suatu regulasi protokol kesehatan bahwa keluar rumah mesti menggunakan masker. Dengan perilaku semacam ini diyakini secara medis dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Fase normal baru menjadi penting untuk diketahui serta dilaksanakan oleh semua elemen bangsa. Normal baru bukanlah bermakna kembali beraktivitas seperti sedia kala saat bangsa Indonesia belum dilanda wabah Covid-19; boleh beraktivitas di luar rumah tanpa bermasker, boleh berkerumun, serta berjabat tangan dengan orang lain. Tetapi, normal baru adalah pola perilaku hidup baru yang sebelumnya dikira tidak normal, kini menjadi normal baru.

Sumber: news.detik.com
Penulis: Dr. M. Wildan, SS, MA (dosen Universitas Pamulang)