OPINI OPINI 2020

Perilaku Menyimpang di Kalangan Remaja Milenial di Tengah Pandemi

Oleh: Aulia Nursyifa S.Pd M.Pd, Dosen Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pamulang

Reportase.tv, Tangsel – Pandemi Covid-19 sedang melanda bangsa Indonesia, terhitung sejak bulan Maret 2020 sampai dengan saat ini jumlah masyarakat yang terpapar virus corona semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Bencana Covid-19 sebagai fenomena yang langsung dirasakan dampaknya bagi masyarakat Indonesia yang bukan hanya berimbas pada terganggunya kondisi kesehatan masyarakat, namun juga berimbas pada kesulitan ekonomi, bahkan menimbulkan berbagai permasalahan sosial di masyarakat.

Di tengah instruksi pemerintah untuk mengharuskan bagi masyarakat untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah. Namun nyatanya, himbauan tersebut kerap kali dilanggar oleh sebagian masyarakat, sehingga penekanan penyebaran virus corona sulit dilakukan jika masyarakat tidak disiplin. Bagi sebagian generasi milenial yang taat pada aturan pemerintah, akan menjadikan momentum belajar dari rumah sebagai sarana untuk membina hubungan yang harmonis antar anggota keluarga. Namun bagi sebagian remaja lainnya justru menganggap bertahannya mereka di rumah sangat menjenuhkan sehingga membuat kondisi psikologis remaja terganggu diantaranya: mudah stress, emosional, serta dapat meningkat agresivitas. Dengan tujuan mengusir kebosanan membuat remaja nekat beraktivitas diluar rumah sangat beresiko untuk tertular virus Corona, bahkan remaja dapat menjadi “carrier” sebagai pembawa virus namun tanpa gejala yang terpapar virus.

Perilaku menyimpang yang terjadi dikalangan remaja ditengah pandemic covid 19 ini diantaranya: membuat kegaduhan dengan cara memainkan musik hingga pagi buta, melakukan aksi tauran antar remaja, pesta minuman keras, melakukan aksi balapan liar, menggunakan dan mengedarkan narkoba, sampai melakukan pesta seks bebas. Perbuatan remaja ditengah pandemi bukan hanya berdampak meresahkan masyarakat sekitar, namun juga dapat menimbulkan korban jiwa akibat perilaku menyimpang yang mereka lakukan atau menjadi korban karena terpapar virus Corona.

Berbagai informasi di media massa membicarakan tentang perilaku menyimpang di masa pandemi, seperti kasus tauran terjadi di Tangerang Selatan hingga menewaskan dua orang remaja (okezone.com, 21 Mei 2020). Pada tanggal 9 Mei 2020 belasan remaja di Gorontalo melakukan pesta miras disaat sahur, pelaku pesta miras terdiri 11 remaja bahkan 3 diantaranya berjenis kelamin perempuan (liputan6.com, 21 Mei 2020). Pada tanggal 10 April 2020, 14 remaja di Makasar melakukan pesta seks dan mengkonsumsi narkoba secara bersama-sama (Terkini.id, 21 Mei 2020). Terdapat berbagai bentuk-bentuk perilaku menyimpang lainnya yang dilakukan para remaja ditengah pandemi.

Perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja ditengah pandemi virus corona menandakan bahwa remaja mengalami disfungsi sosial. Menurut Talcot Parson dalam buku system social (1951) peran social yang tidak berfungsi dengan baik dimasyarakat sehingga menandakan masyarakat mengalami keadaan sakit atau dalam keadaan menyimpang. Di masa corona ini bukan hanya menimbulkan masyarakat menjadi sakit secara fisik, tetapi juga memunculkan berbagai penyakit sosial salah satunya perilaku menyimpang yang marak dilakukan remaja dimasa pandemi. Disfungsi social terjadi ketika seseorang tidak bisa menjalani fungsi yang diemban kepadanya dengan baik, sehingga dalam kasus penyimpangan social di masa pandemi merupakan bentuk disfungsinya peran remaja yang berstatus sebagai pelajar yang seharusnya dapat mematuhi aturan untuk belajar dirumah, namun yang terjadi justru sebaliknya. Ketidakmampuan remaja untuk menahan diri berada dirumah membuat mereka cenderung mengalami depresi dan ingin menyalurkan hasrat yang dimiliki kearah hal-hal yang negatif. Kontrol orangtua yang memberikan kelonggaran terhadap anaknya dapat mendatangkan keadaan disfungsi dimana peran orangtua dimasa pandemi ini tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Adapun upaya yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan perilaku menyimpang dikalangan remaja ditengah pandemic covid 19 ini, bukan hanya melindungi remaja dari kesehatan raganya agar terhindar dari virus corona tetapi juga yang perlu diperhatikan kesehatan mental remaja agar dapat beradaptasi ditengah perubahan. Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri namun bukan berarti mereka bebas melakukan perbuatan yang melanggar nilai dan norma di masyarakat. Peran penting lembaga sosial utama yaitu keluarga sangat penting untuk mencegah perilaku menyimpang dikalangan remaja, keberadaan Covid-19 ini memberikan pelajaran berharga untuk orangtua lebih memperhatikan anak-anaknya dengan berinteraksi secara intensif di dalam rumah seperti beribadah bersama, membimbing anak dalam belajar dirumah, olahraga bersama, serta melakukan berbagai aktivitas bersama dengan anggota keluarga lainnya. Keharmonisan keluarga menjadi kunci agar para remaja agar terhindar dari perilaku menyimpang.

Di samping itu, kerjasama dari tokoh masyarakat sangat dibutuhkan dalam menangani permasalahan yang ditimbulkan oleh remaja milenial di masa corona ini, misalnya peran tokoh masyarakat dalam melakukan pembinaan kepada masyarakat khususnya remaja sekitar untuk melakukan pencegahan virus corona di daerahnya, merangkul para remaja untuk dilibatkan secara langsung dalam menyemprotkan disinfektan dilingkungan warga, membersihkan lingkungan sekitar, mengajak remaja membuat hand sanitizer, ikut memberikan bantuan kepada masyarakat, dan berbagai aktivitas positif dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ada di wilayahnya. Peran tokoh masyarakat juga sangat penting untuk melakukan kontrol sosial, jika ada indikasi remaja yang berkumpul didaerahnya dengan membuat kegaduhan atau hal-hal yang mencurigakan, maka masyarakat dapat memberikan teguran.

Remaja sebagai agent of change bagi kemajuan bangsa, sehingga peran remaja sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan maupun acaman yang dihadapi bangsa ini, seperti keberadaan virus corona di Indonesia harus dihadapi oleh remaja yang tidak hanya sehat fisiknya tetapi juga sehat rohaninya. Remaja juga memiliki karakteristik solidaritas tinggi, maka semangat tersebut dapat ditularkan agar bangsa Indonesia dapat bersama-sama melewati musibah ini, dengan rasa kepedulian yang tinggi membantu sesama yang membutuhkan, dan bersama-sama kita yakin bahwa bangsa Indonesia akan kembali bangkit dari musibah ini.

Sumber: reportase.tv