OPINI OPINI 2020

Layang-Layang Kehidupan

Penulis: Dr. Muhammad Wildan, S.S., M.A. (Dosen dan Warek 3 Universitas Pamulang)

Suyanto.id–Keseimbangan menjadi makna filosofis bagi layang-layang. Layang bisa terbang karena mulanya terjadi keseimbangan kerangka antara sisi kanan dan kiri ditambah ketepatan pemasangan tali kama. Untuk melanggengkan keseimbangan itu, dibutuhkan tiupan angin yang memadai. Kelengkapan sejumlah kompenen tersebut menjadikan layang-layang terbang sempurna di angkasa. Namun, keseimbangannya tidak bersifat permanen, tetapi pasti mengalami turbulensi manakala angin yang bertiup silih berganti: kadang kecil, sedang, dan besar. Seperti inikah kehidupan manusia di tengah wabah pandemi Covid-19 ini?

Fenomena wabah Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan manusia dalam berbagai sektor. Betapa tidak, dewasa ini aktivitas seperti berangkat kerja pagi buta, lalu kembali larut malam agak langka dijumpai lagi karena telah tergantikan dengan program bekerja dari rumah. Pengais rezeki melalui moda transportasi terpaksa dihentikan karena atas nama pemutusan penularan Covid-19. Pemuka agama yang biasa menyampaikan ceramah keagamaan melalui mimbar masjid/mushala, juga kini menjadi langka ditemui. Sejumlah aktivitas dihentikan memang semata-mata untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19.

Dengan terhentinya sejumlah aktivitas, tentu mengganggu keseimbangan dalam kehidupan manusia. Dapat dianalogikan memang bahwa ketika aktivitas yang jamak dilakukan sehari-hari tetiba terhenti sungguh dapat mengganggu keseimbangan antara sudut kanan dan kiri. Manakala pendapatan orang terganggu, kian menjadi ujian yang menakutkan akhir-akhir ini. Terkonfirmasi selama masa pandemi Covid-19 telah banyak perusahaan yang merumahkan karyawannya. Adapun alasan mendasarnya ialah ketidakmampuan perusahaan membayar gaji karyawan. Sungguh fenomena semacam ini benar-benar mengganggu layang kehidupan seseorang.

Melalui wabah Covid-19 sungguh bangsa Indonesia masuk dalam suatu fase kehidupan normal baru (new normal). Bahkan dalam satu kesempatan, Presiden Joko Widodo meminta rakyat Indonesia untuk berdamai dengan Covid-19. Ditambah dengan wacana Menteri BUMN Erik Tohir yang meminta pegawai BUMN yang berusia 45 tahun ke bawah untuk berkantor kembali pasca Idulfitri. Di samping terdapat pula pimpinan daerah yang tidak memperpanjang PSBB karena menurutnya bertentangan dengan pemerintah pusat. Adapun alasan mendasarnya ialah saat ini pemerintah telah membuka bandara, stasiun, dan terminal untuk kalangan khusus. Ditambah pula bahwa pengusaha mal mewacanakan bahwa pada awal Juni nanti mal akan dibuka kembali.

Himbauan presiden, kebijakan menteri, serta wacana pengusaha mal ini dalam rangka menciptakan keseimbangan dalam kehidupan manusia. Upaya pemerintah ini menjadi menarik dikaji secara utuh. Sebagian masyarakat menyetujuinya karena untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi yang sempat terpuruk. Sementara sebagian masyarakat menolak karena dapat menambah klaster baru penularan Covid-19. Menyetujui karena postulat ekonomi dan menolaknya karena kesehatan lebih utama di atas segalanya. Dua kontra diksi ini sebetulnya menjadi layang-layang kehidupan di tengah masyarakat. Dengan demikian, Covid-19 menjadi buah simalakama dalam keseharian manusia.

Bekerja untuk mempertahankan kehidupan. Namun, bekerja di tengah wabah pandemi dapat berisiko besar terpapar Covid-19. Sementara berdiam di rumah yang tidak memiliki persedian pangan juga dapat mengancam kehidupan. Inilah fakta Covid-19 yang sedang melanda bangsa kita dewasa ini.

Tampaknya layang-layang tak terhenti pada makna keseimbangan, tetapi perlu direduksi kembali. Untuk mewujudkan keseimbangan mesti dengan semangat kebersamaan (kegotongroyongan). Seperti kata pepatah, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Melalui semangat kebersamaan serta kepedulian berbagi terhadap sesama menjadi pewujudan cita-cita mulia dari layang-layang kehidupan yang siap menghadapi tiupan angin. Bahkan hidup berdampingan dengan tiupan angina yang kadangkala besar, sedang, dan kecil. (*)

Sumber: suyanto.id