OPINI OPINI 2020

Peran Orang Tua Ditengah Pandemi Covid-19

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA)  menemukan fakta bahwa sebagian besar anak waspada terhadap wabah COVID-19.  Hal itu diperoleh berdasarkan survei Ada Apa Dengan COVID-19 (AADC-19) yang digagas melalui “Forum Anak Nasional”.

Dalam survei tersebut respondennya merupakan anak-anak dan remaja rentang usia 8 – 17 tahun, dengan persentase terbanyak usia 14 tahun.”Sebanyak 69 persen responden adalah anak perempuan, serta 31 persen adalah anak laki-laki. Beberapa respon yang ditunjukkan tiap anak melalui survei tersebut berbeda-beda. Ada sebagian yang merasa takut, ada yang biasa saja dalam menyikapi COVID-19 dan ada yang cenderung tidak peduli hingga bermain tanpa batasan wilayah, terutama di daerah padat penduduk, seperti di daerah Jakarta Selatan.

Bagi anak yang bermain tanpa pengawasan yang ketat dari orang tuanya, sehingga nampak kurang  peduli dengan arahan pemerintah terhadap kewaspadaan Covid-19, hal itu patut diwaspadai. Jika anak tidak peduli dan abai terhadap anjuran pencegahan dari Pemerintah seharusnya diberi pengetahuan dan pemahaman yang persuasif terkait pencegahan dan penularan penyakit Covid-19. Sebagai orang tua perlu memahami Usia perkembangan anak dari umur 8 – 14 tahun adalah saat dimana anak merasa penasaran terhadap segala informasi yang diperoleh. Sehingga, mereka merasa ingin mencoba mendekati apa yang dilarang dari mereka,  munculnya  sikap yang cenderung abai terhadap peraturan menjadi salah satu indikatornya. Ini akan terus terjadi, apabila tidak adanya tindakan persuasif dari orang tua untuk mengedukasi anak.

Bicara soal edukasi yang persuasif, tidak semua orang tua bisa melakukan hal tersebut. Terkadang anak memiliki kemampuan untuk memanipulatif  kondisi, agar orang tuanya menyerah ketika  melarang atau mengatur mereka dalam bermain. Dalam kondisi seperti ini misalnya, anak-anak akan sulit untuk menjaga jarak dan tidak bermain di luar rumah, bagi yang tidak terbiasa. Namun disisi lain, jika anak-anak dipaksakan untuk berada di rumah dalam waktu yang lama, kondisi dilematik muncul saat si anak menggunakan gadgetnya secara berlebihan dengan alasan menghibur diri.

Untuk diketahui, penggunaan gadget yang berlebihan dalam jangka waktu panjang akan mengganggu sistem sensorik otak anak. Sebuah penelitian di Korea seperti dipaparkan pada American Psychiatric Association’s (APA’s) 2013 Annual Meeting menunjukkan, pada remaja pengguna gawai yang aktif didapatkan adanya perubahan perilaku, yaitu mudah mengalami banyak keluhan somatik/fisik, konsentrasi yang menurun, depresi, cemas, kenakalan remaja dan menjadi lebih agresif. Mereka yang adiksi terhadap gadget akan mengalami penurunan kualitas belajar dan bekerja. Penggunaan gadget memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perubahan perilaku.

Menyusul hasil survei di RSJ Cisarua yang memberikan angka cukup fantastis, kurang lebih 209 pasien anak kecanduan gadget terhitung dari tahun 2016 hingga saat ini. Temuan-temuan ini seharusnya menjadi perhatian besar bagi para orang tua, guru dan pemerhati pendidikan.  Peran serta keluarga khususnya orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan psikis anak di tengah pandemi saat ini. Oleh sebab itu, gunakan komunikasi yang persuasif dalam membentuk perilaku positif pada anak dengan memberikan kegiatan-kegiatan yang kreatif agar si anak tidak merasa bosan dan menjadi terpaku pada gadget.***

*Penulis adalah Konselor dan Dosen Teknik Industri Universitas Pamulang

Sumber: tangselmedia.com
Oleh : Khairunnisa*