OPINI OPINI 2020

Hakekat Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19

Reportase.tv, Jakarta – Sebentar lagi kita akan meninggalkan bulan suci Ramadhan. Umat Islam dengan penuh suka cita menyambut datangnya hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri. Namun hari raya saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini hari raya berada dalam kondisi yang tidak lazim. Virus Corona yang memporak porandakan sendi-sendi kehidupan membuat keadaan hari raya berbeda.

Virus Covid-19 membuat suasana ibadah di bulan Ramadhan ini tidak seperti biasanya. Banyak kebiasaan-kebiasaan yang biasa berlaku di kehidupan masyarakat kita yang tidak dapat dijalankan. Salat tarawih yang merupakan salat malam yang dilakukan secara bersama di masjid ditiadakan. Buka puasa bersama yang dilaksanakan dengan penuh suka cita ditiadakan. “Ngabuburit” yang biasa dilakukan oleh masyarakat kita sebelum berbuka puasa ditiadakan. Acara “sahur on the road” ditiadakan. Itikaf yang biasa dilakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan pun tidak diperbolehkan. Tradisi mudik yang biasa dilakukan oleh masyarakat kita yang merupakan ajang untuk bermaafan dan bersilahturahmi dilarang. Kesemua itu membuat nuansa Ramadhan saat ini benar-benar terasa berbeda.

Sedangkan pelaksanaan Solat Idul Fitri telah diatur berdasarkan Fatwa MUI nomor 28 tahun 2020 yang berisi tentang Panduan Kaifiat Takbir dan  Salat Idul Fitri saat pandemi virus corona (Covid-19), dimana salah satu salah satu poin dalam fatwa tersebut yakni salat Idul Fitri boleh dilaksanakan di rumah bila umat Islam masih dalam zona penyebaran corona. “Pelaksanaan salat Idul Fitri, baik di masjid mau pun di rumah harus tetap melaksanakan protokol kesehatan dan mencegah terjadinya potensi penularan,” demikian diungkapkan oleh Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni’am Sholeh . Pelaksanaan salat Idul Fitri dengan aturan seperti ini menambah perbedaan bulan Ramadhan saat ini.

Tradisi silahturahmi dan bermaaf-maafan yang biasa menghiasi kehidupan masyarakat muslim di Indonesia saat ini tidak bisa terlaksana secara terbuka. PSBB di daerah DKI diperpanjang mulai dari tanggal 22 Mei 2020 hingga tanggal 4 Juni 2020. Perpanjangan PSBB ini juga diikuti oleh beberapa daerah di Indonesia akibat dari meningkatnya kembali korban yang terpapar virus corona. Pemerintah dengan tegas telah melarang untuk melakukan “mudik” pada hari raya ini. Tetapi hal ini janganlah membuat makna dari hakikat kita bermafaan dan bersilahturahmi tidak terlaksana. Gunakanlah kemajuan teknologi yang ada untuk tetap menjalankan hakikat bermaafan dan bersilahturahmi tersebut. Tanpa harus bertemu langsung, tapi bertemu secara virtual tetap bisa membuat hakikat bermaafan dan silahturahmi di hari raya tetap terlaksana. Banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk melakukan silahturahmi virtual seperti ini. Dengan penuh kesadaran yang tinggi kita melakukan hal ini untuk menghindari terjadinya kontak langsung yang dapat menyebabkan penularan virus bisa terjadi.

Tidak satu orangpun bisa menyatakan bahwa dirinya bebas virus sebelum melakukan test dan sudah dinyatakan bebas dari virus Covid-19 ini. Oleh karenanya untuk mencegah meluasnya virus Covid-19 ini janganlah kita melakukan silahturahmi secara terbuka. Tahan diri untuk tidak bertemu dengan orang tua kita karena mereka sangat rawan terhadap terpaparnya virus ini. Berilah pengertian kepada orang tua dan keluarga besar lain agar mereka bisa mengerti dan sadar akan bahaya virus Covid-19 ini.

Tulisan ini merupakan ajakan penulis agar kita tetap bisa melaksanakan hari raya dengan tidak menghilangkan esensi dari kebiasaan dan tradisi masyarakat kita dalam bersilahturahmi dan bermaafan. Diharapkan kita semua bisa menerima dengan lapang hati cobaan yang sedang kita hadapi dengan bijaksana sambil berbenah diri dengan merenung atas dosa-dosa kita yang telah lalu. Setelah Ramadhan ini diharapkan kita menjadi pribadi-pribadi baru yang lebih aware akan kehidupan sekeliling kita sebagai bagian dari pelajaran selama masa Covid-19 ini dalam hal berbagi.

Semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan. Ramadhan yang penuh berkah, yang membawa kita dalam keadaan yang lebih erat dalam ibadah-ibadahnya antara makhluk dan Sang Khalik serta juga hubungan antar sesama mahluk. Diharapkan pengalaman di Ramadhan tahun ini bisa menjadi pelajaran bahwa ada yang berkuasa atas kehidupan kita yaitu Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa pencipta alam semesta yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin terjadi akan bisa terjadi.

(Reza Octovian, S.E., M.M, Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang, Tangerang Selatan)

Sumber : reportase.tv