OPINI OPINI 2020

Beridulfitri di Rumah

Dr. Muhammad Wildan, S.S., M.A.
Dosen dan Warek 3 Universitas Pamulang

Suyanto.id–Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa yang berisikan antara lain membolehkan salat Idulfitri di rumah. Pembolehan itu terdokumentasikan dengan baik ke dalam Fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiyat Takbir dan Shalat Idulfitri Saat Pandemi Covid-19. Fatwa yang ditandatangani pada 13 Mei 2020 ini tersebar luas di dalam sejumlah lini media sosial, seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, dan Twitter.

Fatwa MUI ini menjadi penting untuk diketahui oleh kaum muslimin. Pasalnya, hingga saat ini (17/5/2020), jumlah kasus positif korona di Indonesia masih terbilang cukup tinggi. Fatwa ini menjadi penenang bagi kaum Muslimin dalam menunaikan salat Idulfitri di rumah.

Sangat tepat memang fatwa MUI ini keluar di saat kaum muslimin bertanya-tanya tentang pelaksanaan salat Idulfitri di masjid atau di rumah? Di tengah pandemi Covid-19 berkumpul seperti melaksanakan salat Idulfitri berpotensi besar pada penularan Covid-19. Lebih-lebih pada suatu daerah yang berkategori zona merah. Untuk itu, MUI memberikan dua alternatif prihal pelaksanaan salat Idulfitri. Pertama, salat Idulfitri dapat dilaksanakan di masjid dan/atau lapangan dengan catatan daerah tersebut terbebas dari penularan Covid-19. Kedua, apabila tidak ada jaminan untuk poin kesatu, maka sangat disarankan salat Idulfitri di rumah.

Tampaknya, poin kedua menjadi pilihan bagi kaum muslimin Indonesia. Pasalnya, semua provinsi telah terkonfirmasi kasus positif Covid-19. Hal ini ditambah sejumlah daerah yang menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Bahkan, jauh sebelum keluar fatwa mengenai Idulfitri telah keluar fatwa MUI yang meniadakan salat Jumat bagi daerah yang terdampak Covid-19. Masjid Istiqlal Jakarta termasuk salah satu masjid yang menjalankan fatwa ini dengan meniadakan salat Jumat selama masa pandemi Covid-19.

Harus diakui memang bahwa suasana ibadah Ramadhan 1441 H berbeda dengan ibadah Ramadhan yang sudah-sudah. Jika Ramadhan 1440 H tahun lalu mengerjakan Tarawih di masjid/musala secara berjamaah, maka untuk Ramadan 1441 H kita melaksanakannya di rumah bersama keluarga inti. Demikian juga, Ramadan 1441 H ini ada sejumlah momentum yang hilang, seperti buka puasa bersama rekan sekantor, rekan alumni, dan rekan bisnis. Namun, yakinkanlah bahwa momentum yang hilang itu dapat dipetik keberkahannya, yaitu kepala keluarga semakin giat mengkaji wawasan keislaman.

Saya kerap mendapat curhat dari sejumlah teman yang merasa berterima kasih kepada wabah Covid-19. Alasan mendasarnya, dengan Covid-19 mereka semakin tekun menghafal ayat-ayat pendek untuk disiapkan sebagai imam salat berjamaah bersama keluarga inti. Di samping semakin tekun mengkaji wawasan keislaman untuk menyampaikannya kepada keluarga inti.

Dalam hemat saya, fenomena Covid-19 menghantarkan kita pada suatu kehidupan normal yang baru. Betapa ceramah profesor-profesor terkemuka di Indonesia ini dapat diikuti melalui sejumlah sarana daring seperti Zoom, Webex, dan Google Meet. Keseluruhan kegiatan bermanfaat ini diikuti dari rumah saja. Bahkan penulis sendiri mengikuti kegiatan ceramah Prof. Suyanto, Ph.D. tentang Menggerakkan Budaya Menulis di Era Pandemi Covid-19 dari rumahSaya kira ini menjadi postulat mengenai dampak baik dari wabah Covid-19.

Sekiranya hingga menjelang Idulfitri daerah kita masih terkategori pada zona merah, masih terdapat penularan Covid-19, serta kebijakan PSBB masih berlaku, sangat baik Idulfitri diselenggarakan bersama keluarga inti saja. Fatwa MUI secara teknis pelaksanaan telah sangat jelas bahwa bila pelaksanaan Idulfitri diikuti empat orang, maka diharuskan ada khotbah. Demikian sebaliknya, jika salat Idulfitri diikuti kurang dari empat orang, maka khotbah ditiadakan. Namun, dalam fatwa juga disarankan agar sunah-sunah menyambut Idulfitri dilaksanakan, seperti mandi, memotong kuku, memakai pakaian terbaik dan wangi, makan melaksanakan sebelum salat Idulfitri, serta mengumandangkan takbir hingga menjelang salat Idulfitri.

Beridulfitri di rumah saja. Dengan berdiam diri di rumah telah turut-serta membantu menjalankan program pemerintah perihal pencegahan penularan Covid-19. Adapun momentum pasca-Idulfitri yang lazimnya ditutup dengan silaturahim tampaknya untuk saat ini dapat dilakukan secara daring. Pemanfaatan media WhatsApp, Zoom, Webex, Google Meet serta sejenisnya sebagai suatu solusi memperkokoh ukhuwah islamiyah di tengah wabah Covid-19. (*)

Sumber: suyanto.id