OPINI OPINI 2020

Ketika Semua Orang Bicara Korona

Penulis: Dr. Muhammad Wildan, S.S., M.A. (Dosen dan Warek 3 Universitas Pamulang)

Suyanto.id–Ada pepatah Arab yang akrab di kalangan santri, man ahabba syai’an kaana aktsara zikruhu. Artinya, seseorang yang sangat mencintai sesuatu tentu lebih banyak menyebutnya. Betulkah pepatah ini berkorelasi erat dengan fenomena saat ini yang kerap membicarakan korona? Tentu sebelum membahasnya, ada baiknya dijelaskan konteks pemakaiannya di kalangan tradisi pesantren.

Konon, pepatah ini diucapkan ustaz kepada santrinya dalam rangka memberikan motivasi untuk giat menuntut ilmu. Di samping melaksanakan sejumlah program pesantren dengan penuh semangat suka dan riang gembira. Walau tidak jarang juga ustaz menganalogikannya pepatah ini dengan kasih sayang kepada Rasulullah dan lawan jenis. Bila Anda mengidolakan Rasulullah, pasti banyak bersalawat kepadanya dan bila Anda mencintai seseorang, maka tentu lebih banyak menyebutnya. Kira-kira ini yang kerap disampaikan ustaz, walau masing-masing tradisi pesantren berbeda dalam konteks penyampaiannya.

Ternyata, sejak diumumkan WHO satu bulan yang lalu bahwa korona telah menjadi pandemi global, lini media masa baik cetak maupun elektronik menyuguhkan korona menjadi berita dan pembicaraan utama. Bahkan, program Indonesia Lawyers Club (ILC) telah mengulas isu korana sekitar tiga kali secara berturut-turut. Sementara itu, lini media baru seperti Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, dan Youtube turut meramaikan isu korona ini. Korona dibahas dan dibedah melalui berbagai aspek; medis, sosial, budaya, politik, agama, ekonomi, dan pendidikan. Oleh karenanya, dalam salah satu artikel yang ditulis oleh Dahlan Iskan menyebut stop berbicara korona karena Anda sudah menjadi ahlinya.

Korona adalah sejenis keluarga virus yang baru ditemukan 2019 lalu. Tepat memang dibicarakan serta dikaji oleh kalangan medis di laboratorium. Namun, korona saat ini telah masuk ke dalam radar sejumlah aspek tersebut. Oleh karenanya, ia menjadi episentrum pembahasan setiap aspek sehingg orang tertarik membaca dari aspek tersebut. Sebagai misal saja, wabah korona ini telah membawa dampak pada dunia pendidikan. Kampus, sekolah, serta lembaga kursus yang saat ini operasionalnya dilakukan secara daring, atau belajar dari rumah (study from home). Demikian juga dengan sektor ekonomi, sejumlah hotel terkena dampak korona berupa menurunnya kunjungan tamu sehingga berimbas pada pendapatan.

Dalam hemat saya, sejumlah dampak yang ditimbulkan oleh korona inilah yang membuat orang tak henti-hentinya membicarakannya: dari bangun tidur hingga tidur kembali. Ditambah lagi, setiap sore adanya konferensi pers dari Juru Bicara Pemerintah Khusus Penanganan Covid-19 yang di dalamnya turut menginformasikan imbauan, larangan, serta sejumlah kasus positif, sembuh, meninggal dunia, ODP, dan PDP Covid-19. Hal ini semakin menambah daftar panjang pembaca, pembahas, dan pencari informasi seputar korona.

Perhatian masyarakat pada isu korona semakin meluas, betulkah selaras dengan pepatah Arab di atas? Secara tegas saya katakan tidak betul dalam konteks saat ini. Pasalnya, orang membicarakan korona bukan karena menyukainya, tetapi lebih pada kehati-hatian agar wabah korona tidak menimpa padanya. Wajar manakala masyarakat mencari informasi seputar korona, karena ia masuk dalam radar baru jenis penyakit dan tingkat penularannya sangat cepat. Dengan demikian, masyarakat membutuhkan literasi yang kuat seputar korona. Walau tak sedikit pihak yang mengimbau untuk menghentikan pembicaraan seputar korona. Adapun alasan penyertanya bahwa dengan membicarakannya telah menciptakan ketakutan pada diri pembaca, sehingga dapat memunculkan trauma dan sejenisnya.

Lalu sampai kapan orang akan terus membicarakan korona? Menjawab pertanyaan ini saya akan meminjam teori pemakaian bahasa. Pemakaian bahasa salah satu teori yang terdapat di dalam Sosiolinguistik, suatu ilmu yang secara khusus mengkaji bahasa dari fenomena sosial. Pembicaraan seputar korona akan terus dibicarakan masyarakat hingga mata rantai penyebarannya terputus. Dalam kajian pemakaian bahasa, leksikal korona untuk saat ini telah menjadi fakta bahasa yang mengakar kuat di tengah masyarakat Indonesia. Semua jenjang usia pernah mendengarkannya. Paling tidak seorang anak mendengar melalui ibunya yang melarang untuk tidak beraktivitas di luar rumah agar terhindar dari wabah korona. Paling tidak anak-anak remaja mendengar langsung dari Ketua RT yang melarang berkumpul guna memutus mata rantai penyebaran korona.

Kedua fakta bahasa yang dikemukakan di atas menjadi sulitnya korona dihilangkan dari pembicaraan sehari-hari. Bahkan, dengan munculnya larangan dari ibu kepada anaknya serta Ketua RT kepada remaja, semakin membuat mereka bertanya-tanya ada apa dengan korona? Terhadap pertanyaan ini kembali menambah daftar panjang tentang keingintahuan mereka pada korona. Sekali lagi, bila meminjam teori pemakaian bahasa, ini tampaknya sulit untuk menghentikan pembicaraan seputar korona. Lebih-lebih dewasa ini kita dihadapkan pada suatu tren media sosial yang setiap saat berbagai informasi masuk dan sulit dihindari.

Ketika isu-isu korona sulit untuk dihindari dari pembicaraan publik, maka jalan terbaiknya adalah korona dikaji melalui sudut pandang keilmuan masing-masing. Pegiat hukum, mari melihat korona ini dari fenomena hukum, pegiat bahasa, mari melihatnya dari sisi bahasa, pegiat agama, mari melihat ini dari sisi keagamaan, pegiat ekonomi, mari melihat wabah ini dari sisi ekonomi. Dengan demikian masyarakat semakin teredukasi dari berbagai perspektif keilmuan dan selepas korona ini kita akan keluar sebagai pemenang dari ujian wabah Covid-19. (*)

Sumber: suyanto.id