OPINI OPINI 2020

Belajar Menjadi Karakter Utuh Agar Tetap Teguh Pada Situasi Rapuh

Oleh : Hafis Laksmana NurAldy, S.E., M.M.
Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang – Tangerang Selatan

Media Kontroversi – Pandemi virus corona (covid-19) merupakan ujian yang saat ini sedang dihadapi bangsa Indonesia, bahkan ujian ini rata pada dunia.Berbagai cara telah dilakukan dalam upaya untuk menghentikan penyebaran yang begitu cepat. Penelitian pun telah beberapa kali dilakukan demi menghasilkan obat yang mampu menyembuhkan pandemi covid-19, Namun sampai saat ini belum ditemukan obat yang pasti untuk covid-19 ini.

Covid-19 telah memukulbanyak sendi-sendikehidupan masyarakatIndonesia,tak heran semua dari kita pasti merasakan dampaknya. Terutama saat diterapkannya kebijakan sosial distancing dan physical distancing, bahkan yang terbaru adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).Tentunya ini menjadi ujian mental bagi masyarakat yang merasakan langsung dampaknya, terlebih situasi saat ini memasuki bulan suci ramadhan.

Banyaknya masyarakat yg terpapar menjadi hal utama diterapkannya kebijakan ini, terlebih banyaknya kasus covid-19 yang meninggal dunia, serta membuat perekonomian menjadi tidak stabil disebabkan banyaknya perusahaan yg harus meliburkan karyawannya, usaha – usaha besar, menengah dan kecil yang harus tutup disebabkan semakin meningkatnya angka korban pada pandemi penyakit covid-19.

Perubahan pola kehidupan pun menjadi hal yang tidak terelakan, kebiasaan dan rutinitas yang biasa dilakukan setiap harinya diluar rumah, sekarang menjadikan kita untuk beraktivitas penuh di dalam rumah. Tentunya ini menjadi hal yang tidak biasa bagi banyak masyarakat kita, tetapi ini harus dilakukan. Dari sini kita dapat melihat dan menyimpulkan bahwasanya situasi dan kondisi saat ini sedang rapuh.

Disinilah karakter menjadi penentu, keteguhan dalam menjalankan ujian kehidupan serta untuk memenuhi kebutuhan pada situasi dan kondisi yang rapuh memang memerlukan karakter yang utuh. Masyarakat dapat belajar terhadap situasi dan kondisi yang tidak menentu, terutama saat jalan dirasa sudah buntu. Namun dalam hal ini belajar memahami dan mencoba menerima keadaan adalah hal positif yang akan membuat kita menjadi lebih tenang, baik dalam berperilaku dan juga dalam berpikir.

Proses ? Ya semua hal pastinya membutuhkan proses. Kita tidak mungkin dapat menyalahkan keadaan. Justru kita salah jika tidak mampu memahami dan menerima keadaan. Tentunya ini sudah menjadi qodratullah, yang dapat kita lakukan maka lakukanlah selagi menjadi hal yang dapat membantu diri kita dan menolong sesama.Kita harus yakin, setiap ujian selalu ada jalan keluarnya, maka dari itu pasti ada peluang serta kesempatan.

Ketenangan merupakan kunci, karena akan menjadikan segala hal lebih terkendali. Banyak kita saksikan maraknya tindak kejahatan yang terjadi pada situasi saat ini, tetapi jika kita dapat mengambil contoh antara pelaku kejahatan dan maaf, orang yang tidak dapat melihat, tentunya ini menjadi renungan yang sangat berharga. Dimana yang tidak dapat melihat justru terlihat sangat tenang dan berusaha dalam usahanya mejajakan kerupuk, hal ini berbanding terbalikbila dibandingkan dengan pelaku kejahatan yang masih sangat sempurna dalam kondisi fisik.

Banyak pembelajaran yang harus kita lakukan, belajar tidak harus pada yang terlihat sempurna, orang sebaya, atau orang yang lebih tua. Kita juga dapat belajar dari karakter anak – anak. Jika melihat mereka saat seperti ini, tentunya kita dapat melihat karakter yang tidak berubah walau kita tahu sedang terjadi perubahan pada dunia ini. Walaupun mereka tahu mereka hanya melakukkan hal yaitu beradaptasi dan membiasakan diri pada lingkungan, namun tidak merubah karakter mereka dalam menjalankan kehidupan. Karakter mereka yang utuh menjadikan mereka tetap teguh pada dirinya.

Dari beberapa contoh tersebut kita hanya perlu belajar seperti mereka, karena mungkinsudah hal pasti jika kita melupakan hal yang pernah kita miliki. Disini jika kita melihat peluang dan kesempatan, maka peluang itu ada dari segi waktu yang mengajarkan kita agar lebih menghargai waktu kebersamaandengan keluarga, segi perilaku membuat kita belajar pentingnya kedisiplinan dalam membiasakan pola hidup sehat dan menjaga kebersihan diri serta lingkungan, Segi tempat mengajarkan kita untuk dapatbertahan dan beradaptasi.

Maka dari semua itu dapat membuat kita belajar untuk memiliki sikap simpati dan empati, serta terutama dan paling utama dapat mengajarkan dan mengingatkan kita akan segala hal yang kita miliki di dunia ini hanyasekedar titipan semata dari yang maha kuasa ALLAH.SWT. (red)

Sumber : mediakontroversi.co.id