OPINI OPINI 2020

Redupnya UMKM Ditengah “Moncernya” Wabah

Berbagai  Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)  yang notabene adalah usaha produktif yang dimiliki perseorangan  atau  badan usaha yang telah  memenuhi kriteria sebagai usaha mikro  dengan aset kurang dari 50 juta dan beromzet maksimal 300 juta, Pada  beberapa tahun terakhir perkembangan UMKM di Indonesia mencapai 99,8 persen dari total unit usaha di Indonesia.  Jumlah UMKM yang tersebar di  seluruh  kepulauan  Indonesia sebanyak  lebih    dari 62,5  juta unit meliputi  seperti  usaha-usaha    kuliner, kerajinan tangan, agrobisnis,  peternakan, perikanan dan lain-lain. Berkembangnya UMKM di Indonesia tidak lepas dari faktor  –faktor yang mendorongnya    antara lain,  pemanfaatan  perkembangan  teknologi  terbarukan terutama teknologi  informasi dan komunikasi, kemudahan peminjaman  permodalan  usaha,  serta menurunnya tarif PPH final.

Namun demikian, pertumbuhan tersebut dirasa masih  jauh dari harapan karena berbagai faktor  tersebut dinilai belum  selaras dengan  berbagai dorongannya, salah satunya dibagian perpajakan usaha. Ditengah perkembangan UMKM yang belum terlalu baik di awal tahun 2020, ditambah lagi UMKM di Indonesia kembali diuji dengan munculnya wabah Covid-19 ditengah masyarakat Indonesia  di awal tahun 2020. Wabah Covid-19 bermula muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019, dan ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia WHO. Sampai tanggal 21 April  sudah lebih    2,65  juta kasus  telah dilaporkan di lebih dari 190 negara,  Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang dirilis pada  23 April 2020, total jumlah kasus positif corona di Indonesia saat ini sudah sebanyak 7.775 pasien  terkonfirmasi positif dan masih dalam perawatan. Sedangkan 965 pasien positif corona lainnya telah dinyatakan sembuh. 

Mengambil pelajaran dari    booming  case  negara  –negara  Amerika,  Italia,  Perancis  dll dalam ini  pemerintah Indonesia menerapan social distancing, physical distancing, Pembatasan social bersekala besar (PSBB) guna mencegah penyebarannya Virus Covid -19. Dampak yang dirasakan jelas, penulis mengamati  secara micro environment di komplek Bukit Pamulang Indah Tangerang Selatan Penyebaran virus Covid-19   dirasakan salah satunya oleh Ismet pemilik warung “Tanjakan Turki” yang usahanya  ayam bakar, nasi uduk dan warung kopi  .  Ismet mengaku transaksi yang ia dapatkan menurun secara terus menerus  sejak Januari 2020  sampai dengan diterapkan PSBB tanggal  18 April 2020  turun sampai dengan 40%.”saya nggak ngerti kenapa wabah korona menyebabkan warung saya ikut terimbas  juga yaa?, padahal orang kan butuh makan setiap hari”? keluh bang Ismet yang biasanya beromzet 1,5 juta perhari, yang dengan  terpaksa   merumahkan 2 karyawannya, tinggal Dia dan Istrinya.  inilah gambaran umum usaha mikro di seluruh Indonesia dan akibatnya PHK dan terjadilah eksodus dini, pulang kampung    sebelum waktunya ( lebaran Idul Fitri)  yang  merepotkan pemerintah  provinsi, kota dan desa tujuan.

Kalau  boleh membandingkan   kondisi  saat Krisis moneter 1998  dengan era Pandemi Covid  -19, pada Krismon 98  UMKM mampu bertahan karena berkaitan erat  hanya  dengan masalah ketimpangan ekonomi, beda dengan pandemic Covid-19  double impact kesehatan yang berimbas pada Ekonomi  , meskipun begitu penulis mengamati masih ada beberapa faktor yang membuat UMKM masih bisa bertahan ditengah wabah Covid-19.  Pertama,  pada dasarnya UMKM  kebanyakan  menghasilkan barang konsumsi dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.  Penghasilan  masyarakat yang  turun  drastis  belum  tentu  serta merta  berimbas banyak terhadap permintaan barang dan jasa yang dihasilkan. UMKM malah bisa bergerak dan menyerap tenaga kerja meski jumlahnya terbatas dan dalam situasi Covid-19.Kedua, pelaku usaha UMKM umumnya memanfaatkan sumber daya lokal, baik sumber daya manusia, modal, bahan baku,  maupun  peralatan.  maksudnya, sebagian besar kebutuhan UMKM tidak mengandalkan barang impor. ketiga, umumnya bisnis UMKM tidak ditopang dana pinjaman dari bank, melainkan dari dana sendiri.

Peran pelaku UMKM ditengah wabah  Internasional diupayakan  agar  tetap menjaga keberadaannya menjadi sangat penting.  yang perlu dilakukan pemerintah adalah  mengurangi atau menahan    penyebaran Covid-19  yang mengglobal dan  masif,  yang pada akhirnya  akan berpengaruh terhadap perekonomian secara berkelanjutan. Yang perlu dicermati adalah sampai kapan bisa bertahan, dan berapa banyak pelaku UMKM yang  mampu  bertahan? Pemerintah perlu melakukan  giant step  action  memberikan perlindungan kepada UMKM yang terkena dampak Covid-19. Karena itu, patut ditunggu realisasi dari arahan Presiden Jokowi beberapa saat lalu.

Dalam arahannya Presiden  RI ke 7  Joko Widodo mengintruksikan untuk realokasi anggaran dan  refocusing  kebijakan guna memberi  insentif dan stimulus  ekonomi bagi pelaku sektor  riil (  UMKM dan informal),  relaksasi ekonomi  selama 6 bulan  ini berupa  insentif penundaan pembayaran hutang pokok dan bunga serta  insentif  pajak  sehingga  diharapkan UMKM  tetap dapat berproduksi dan beraktivitas serta    tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada pekerjanya.

*) Penulis adalah Dosen Universitas Pamulang

Penulis : H. Hastono, S.E., M.M. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang

Sumber : visione.co.id