OPINI OPINI 2020

Ramadhan Bermuhasabah “Badai Ekonomi Pasti Berlalu”

Dilema dirasakan oleh setiap insan di muka bumi ini dengan diserangnya pandemic covid 19. Virus berukuran mikro yang  tidak terlihat oleh  kasat mata  tapi mampu memporakporandakan peradaban dunia. Negara berkembang sampai negara maju “oleng” dalam segala sektor khususnya sektor perekonomian. Uang…. lagi dan lagi uang yang menjadi ukuran  kita dapat hidup layak atau tidaknya di dunia.  Sudah saatnya manusia berfikir bahwa uang adalah bukan segalanya. Kita harus menjadi sumber uang tetapi bukan mengabdi kepada uang,  bagaimana caranya  uang yang akan mengejar kita.   Tetaplah berkarya dan berinovasi dalam bidangnya masing-masing. 

Pada  saat diberlakukannya WFH mulai satu minggu belum terasa pengeluaran disana sini, karena situasi dan sumber keuangan masih normal.  Ternyata  Covid 19 belum juga  reda karena semakin banyaknya yang terkena covid dengan up date data setiap hari dari juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona sampai dengan tgl 5 Mei 2020 adalah 12.071 orang positif corona. Oleh karena itu Masa WFH (bekerja dari rumah diperpanjang), PHK sudah mulai dilakukan, gaji sudah ada pemotongan, tunjangan2 yang tak kunjung  cair, usaha kecil sudah banyak yang tutup karena turun omset yang drastis. Sudah mulailah manusia merasakan semakin hilang dan berkurangnya keuangan pribadi. Pengeluaran yang terus ada setiap hari dan tak bisa henti. 

Manusia  sudah mulai bergerak harus bagaimana dan kemana untuk menjaga kesetabilan ekonomi keluarga. Dari mulai “makan” dari gaji, gaji dipotong beralih ke tabungan, tabungan habis beralih ke asset. Saatnya bersyukur apa yang dimiliki itu adalah rezeki untuk saat ini. Bergeraknya hati antara manusia diperlukan saat ini, bagi mereka yang dianugerahkan harta berlebih saatnya untuk membantu yang sedang dibawah. Abu Hurairah r.a dari Nabi SAW bersabda : “Hakikat kaya bukanlah banyaknya harta benda, tetapi hakikat kaya adalah kaya jiwa”, Muttafaq’alaih. 

Pada saat normal terkadang tidak terfikir oleh manusia bahwa akan mengalami keterpurukan. Tapi inilah dunia, dunia adalah tempat sementara untuk menuju ke tempat kekal yaitu akhirat. Mungkin Allah SWT sedang memberikan pesan cintanya kepada manusia. Diambil dari buku Kang Helmy (PPA Institute Book , 2017) bahwa sunnatullahnya, manusia itu penuh keterbatasan, banyak hal yang tidak diketahui dan dikuasai oleh manusia “….dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS Al  isra [17]:85). Ada beberapa hal yang harus digaris bawahi dari  tulisan “Kang Helmy” bahwa banyak dari kita yang memiliki banyak urusan usaha atau bisnis dalam ikhtiarnya mencari rizki, tetapi terkadang mengabaikan :  Pertama,  tidak percaya akan jaminan rizki.  Allah Ta’ala menjamin rizki, bahkan cicak yang jalannya merayap pun dapat memakan nyamuk yang terbang. Dimasa covid 19 yang tak kunjung reda pun meski berbagai hal sudah mengalami kemunduran maka harus tetap ingat akan jaminan rizki dari Tuhan Semesta Alam, semangat ikhtiar dan berdoa.  Selalu tersenyum dan bahagia di awal pagi dan berfikir optimis.

Kedua, tidak merasa perlu laporan kepada Allah SWT  “Sang Bos”  langit dan bumi. Sebagai seorang marketing menerima target penjualan dari manajer marketing, akan selalu up to date  laporan ke pimpinan kita untuk pencapaian setiap waktu penjualan kita. Maka dari itu Sang Pemilik langit dan bumi kita siapa?  Kita harus laporannya kepada  siapa? Mari kita renungkan….. segeralah dalam setiap langkah untuk selalu laporan ke Sang Pemilik segalanya.

Ketiga,  Tidak memposisikan bahwa bisnis hanyalah dalam rangka menjalankan tugas dan perintah dari Allah SWT. Padahal menjemput rejeki adalah perintah Allah SWT. “Apabila telah ditunaikan solat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS Al-Jumu’ah: 56).  Sangat  lah jelas dengan dalil tersebut bahwa kegiatan bekerja kita tiap hari adalah diniatkan untuk ibadah atas perintah Sang Pencipta.

Keempat, Masih adanya “ketamakan” terselubung.  Agak sulit mendeteksi apakah diri kita tamak atau  tidak, selalulah introspeksi diri.  Tetapi point ini dapat dijadikan ikhtiar kita dalam memperbaiki diri. Ketamakan merupakan sikap tercela yang merusak, sebabnya  adalah ragu akan ketentuan Sang Khalik, sehingga gerak geriknya terburu-buru bernafsu dan takut “kehilangan momentum” dan lupa diri semuanya ingin dimiliki.  Virus melanda disaat akan masuknya bulan  Ramadhan. Bulan dimana penuh keberkahan dan ampunan, saatnya manusia bermuhasabah diri dan memohon ampunan dan memohon untuk segera normal kembali dengan kondisi lebih baik lagi dari masa sebelumnya.

Pemerintah sangat tepat menganjurkan untuk tidak mudik, dan melakukan ibadah dari rumah. Salah satu ikhtiar untuk pemutusan penyebaran covid-19  harus dicermati dan direnungi serta dipatuhi. Masa Ramadhan adalah masa manusia bermanja-manja dengan Rabbnya, bukan bulan dimana persiapan untuk mengumpulkan harta sebagai ajang pamer di acara silaturahmi, bukan juga ajang pamer fashion, makanan, perabotan di hari kemenangan, tetapi bersimpuh  agar badai cepat berlalu  dan saling berempati antara manusia yang saling membutuhkan. “Orang yang pintar adalah orang yag senantiasa bermuhasabah dirinya, dan beramal sebagai persiapan untuk sesudah kematian, orang yang lemah ialah orang yang meperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan (mendapat kemenangan) dari Allah.” HR. Tirmizi.

*) Penulis adalah Dosen Universitas Pamulang

Penulis : Anah Furyanah, S.E.,M.M. Dosen Universitas Pamulang

Sumber : visione.co.id