OPINI OPINI 2020

Cara Menghadapi Kelas Dengan Kesenjangan Kemampuan Murid Yang Tinggi

Terkadang ketika mengajar, kita harus berurusan dengan siswa dengan tingkat kemahiran awal yang beragam. Sementara itu pelajaran yang diberikan adalah pelajaran standar institusi dengan tingkat kesulitan yang sama. Dengan target pencapaian yang sama misalnya nilai minimal kelulusan maka  pengajar menghadapi beberapa tantangan. Diantaranya adalah cara memilih aktivitas belajar untuk mengakomodasi siswa dengan kemampuan beragam tersebut. Memilih aktivitas belajar yang terarah menarik dan memotivasi siswa yang kemampuannya masih kurang dan pada saat yang sama juga memberikan tantangan belajar bagi siswa yang kemampuannya sudah cukup baik bahkan yang jauh lebih baik dari teman-temannya. Menyeimbangkan semua aspek kebutuhan siswa merupakan solusi terbaik.

Ada beragam cara yang bisa dilakukan salah satunya yang paling populer adalah dengan grouping atau pengelompokan. Pengelompokan adalah cara yang sangat lazim dilakukan oleh guru namun pengelompokan seperti apa yang sekiranya yang dapat mengarah pada tujuan adalah yang akan dibahas disini? Dalam ‘Social Development Theory” yang diperkenalkan oleh Vygotsky (1978) ada aspek yang dikatakan sebagai “More Knowleageable Others” yang merupakan pihak yang lebih berpengetahuan dalam belajar. Dalam prakteknya pihak tersebut tidak melulu harus sang pengajar.  Dalam pengelompokan ini pihak tersebut adalah teman sekelas yang akan memberikan ‘peer group influences and motivation’ yaitu pengaruh teman sekelas yang lebih mampu memberikan pengaruh dan motivasi bagi yang kurang. 

Maka secara bertahap berikut adalah model pengelompokan yang saya maksud:

  1. Pengelompokan yang dilakukan selama sebagian besar waktu semester atau bahkan bisa dilakukan sepanjang semester.
  2. Ada beberapa fase dalam proses perkembangan siswa dengan metode pengelompokan ini. Dalam dua atau tiga pertemuan pertama, kita masih akan melihat dengan jelas bahwa ada kesenjangan besar antara siswa yang lebih mampu dan yang kurang. Kita akan melihat beberapa siswa yang kurang akan enggan berpartisipasi. Dan siswa yang lebih cakap akan aktif dan kemudian mulai tidak tertandingi dan mendominasi. Namun, setelah empat atau lima pertemuan, kita akan mulai melihat bahwa kesenjangan semakin kecil. Kita akan menemukan semakin banyak orang mulai terbiasa  dan menjadi percaya diri dalam berpartisipasi. Sebagian besar, di akhir semester, kita akan melihat bahwa kesenjangan kemampuan akan terlihat lebih kecil  dari awal.
  3. Saat berkelompok, pengajar harus membimbing siswa dan mengendalikan aktivitas mereka. Artinya, pengajar harus, pertama, memberikan instruksi yang jelas. Kemudian, pengajar juga harus dapat menciptakan kegiatan yang melibatkan semua anggota kelompok untuk berpartisipasi dalam pemaparan bahasa sasaran (dalam pengalaman saya adalah belajar bahasa) dan tentu saja bagi setiap siswa dalam kelompok tersebut untuk menggunakan target bahasa yang diharapkan. Yang dimaksud disini adalah pengajar harus selalu memantau apa yang mereka kerjakan dalam kelompok.
  4. Siswa dengan tingkat kemahiran tinggi akan mudah bosan. Oleh karena itu, menugaskan mereka dengan peran tertentu dalam kelompok akan meningkatkan minat mereka. Pada tahap awal pengajar bisa menggunakan siswa ini untuk mengajarkan yang kurang melalui kegiatan kelas.
  5. Pada pertengahan semester, karena kesenjangan biasanya menjadi lebih kecil, kita bisa mulai meningkatkan tingkat partisipasi siswa yang kurang mampu. Ketika mereka menjadi lebih percaya diri dalam kelompok tersebut, secara bertahap pengajar dapat mengubah perannya. Terkadang, kita bisa meminta yang kurang mampu misalnya berbicara atas nama kelompok mereka. Atau menjadi pemimpin dalam kelompok tersebut.

Akhirnya tujuannya adalah untuk membuat siswa dengan kemampuan yang baik untuk terus belajar dan berbagi dan bagi orang yang kurang mahir untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, metode pengelompokan ini dianjurkan.

Selamat mengajar!

Penulis: Dwi Rahayu (Dosen Sastra Inggris Universitas Pamulang)