OPINI OPINI 2020

MENEROPONG PERILAKU BARU KONSUMEN

Oleh : H. Hastono S.E., M.M.
Dosen Manajemen Pemasaran Universitas Pamulang

Media Kontroversi – Pandemic Covid-19 yang terjadi di dunia yang sangat cepat dan radikal bak bergugurnya
bongkahan gunung es di kutub sepertinya benar – benar merubah perilaku pembelian konsumen,
bisa jadi ini sementara bisa juga seterusnya dan akan menjadikan new behavior dalam
pembeliannya.

Dengan adanya penetapan pembatasan social bersekala besar membatasi kontak phisik
dengan sesama memaksa konsumen terpaksa memenuhi kebutuhan sehari hari menggunakan
media daring.
Jika mengacu pada kasus-kasus wabah sebelumnya seperti Ebola, Sars, H1N1 sepertinya
kasus covid-19 diprediksi akan mempercepat perubahan perilaku konsumen dalam memenuhi
kebutuhannya dari 5 tahun menjadi 2 bulan, dan ini dimanfaatkan oleh peritail-peritail besar
dalam delivery produknya.
Seperti apa kira-kira perubahan perilaku Konsumen akibat pandemic yang sangat
mematikan ini?

Saya mencoba memetakan era pandemic Covid-19 dengan mengambil sebuah konsep
Product live cycle yang biasanya digunakan melihat siklus produk/organisasi, ada empat
tahapan : Introduction, growth, mature dan decline.

1. Tahapan Introduction.
Tatkala wabah corona mulai merebak di kota Wuhan di bulan Desember 2019,dan
dengan perkasanya merangsek ke berbagai negara- negara dunia termasuk Indonesia di bulan
akhir Februari 2020,gegerlah Dunia, walaupun diawal maret pejabat pejabat pemerintahan kita
menanggapi dengan berbagai candaan seolah olah virus biasa saja, namun masyarakat terlihat
sudah ketar-ketir. Perilaku pembelian mulai jauh dari normal dan impulsif, nyetok
memborong barang barang terkait dengan Virus ini seperti masker, hand sanitizer, tisu basah,
obat flu, vitamin C doses tinggi bahkan empon-empon untuk mendongkrak imunitas tubuh seperti jahe merah, kunyit, lengkuas, temulawak, temu kunci dan lain lain menjadi langka dan
harganya merangkak naik, apalagi ditambah para retailer yang mulai menahan barang tersebut
guna memaksimalkan margin nya.

2.Tahapan Growth
Di tahapan ini ditandai saat pemerintah Indonesia mulai membentuk gugus tugas
percepatan penanganan corona virus disease 2019 (COVID-19) pada 13 maret 2020 dengan
Peraturan Pemerintah (PP) nomer 7 tahun 2020 yang berada dalam lingkup Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) yang nge-link dengan kementerian terkait, mengumumkan
tiap hari tentang jumlah orang yang terinfeksi serta meninggal dunia
Wabah mulai tumbuh subur, penyiaran lewat media baik Real maupun medsos HOAX
yang gencar mewartakan bagaimana situasi kota Wuhan jalan-jalan yang melompong
ditinggal penduduknya bak film-film horor Zombie, Conjuring3, Grudge, Halloween kils,
menyebabkan ibu-ibu rumah tangga mulai kalut seperti perilaku Semut, memborong tidak
hanya barang terkait dengan kesehatan, namun sudah nyetok gula, berbagai produk mie,
snack, minyak goreng, sambel,gandum hingga beras untuk beberapa bulan kedepan
berbarengan dengan penerapan Pembatasan Social Bersekala Besar , Ramadhan serta moment
lebaran.
Seluruh masyarakat mulai lebih banyak stay dirumah membatasi bepergian keluar rumah
jika tidak penting penting amat.tempat-tempat keramaian : Hall, Mall, Bioskop, Club Malam,
Food Court, masjid, Gereja, Wihara,Terminal Bus, Stasiun Kereta Api, Bandara dan lainnya
sepi karena dihindari masyarakat yang was-was.
Masyarakat juga mulai mengurangi aktifitas berbelanja di Supermarket atau Pasar
tradisional, menghindari ngopi di café atau makan di restoran, resto fast food sekelas
McDonald’s, Kentucky Fried chicken,Pizza Hut,A&W, Burger King,Richeese Factory,Wendy’s
hanya melayani pemesanan take away atau melalui media daring. Mendongkrak belanja Online
dan layanan Food delivery menjadi solusi tepat masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari harinya (grocery).

3.Tahapan Maturity.
Jumlah pasien positif terjangkit, dan meninggal akibat Covid-19 meningkat yang rata rata
data yang terkonfirmasi sekitar 300 tambahan pasien yang positif, menyebabkan pemerintah
terkesan agak panic semua kebijakan mulai diluncurkan, anggaran diglontorkan, karena selain
berusaha membendung laju percepatan Pandemi namun juga juga harus mengkalkulasi secara
tepat dengan dampak yang mengikutinya yaitu sector usaha yang tutup dan pada akhirnya
merumahkan/ mem PHK kan karyawanya. Kantor-kantor Pemerintah, BUMN, Swasta yang
memaksa karyawannya tetap kerja dengan sistem work form Home, sekolahan SD,SMP,SLA,
kampus-kampus mengalihkan pembelajaran lewat e-learning, Seminar, workshop, ceramah
dalam audiensinya menggunakan Zoom, Google Meet dan kedokteran menggunakan Halodoc
dalam konsultasinya dan lain sebagainya.
Di tahapan ini lama kelamaan membentuk sebuah new trend, new life style, new habits,
new normal. Masyarakat mulai terbiasa menggunakan aplikasi-aplikasi di gadget pintarnya,
peritail peritail besar kecil memanfaatkan moment sebagai peluang baru untuk melayalani
konsumennya yang membentuk perilaku terbarunya.

4. Tahapan Decline
Para ahli kesehatan memprediksi kurva siklus hidup Covid-19 akan mencapai puncak
pandemic sekitar bulan Juni – juli atau paling lambat September 2020 Dunia bisa to say good
bye pada Covid-19, bersamaan dengan mulai masuknya musim panas di sebagian belahan
dunia bahkan jika mengutip dari Epidemiologi Indonesia dari Grifith University Australia
Dicky Budiman dan Epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono memprediksi puncak
pademi Covid pada pertengahan Mei, tentunya dengan catatan tidak terjadi mudik saat
menjelang Idul Fitri 1441 Hijriah.
Di tahapan ini perilaku masyarakat sudah terbiasa dengan perilaku baru,sering cuci
tangan dengan sabun di air yang mengalir, pakai masker dan jaga jarak saat beraktifitas di
banyak kerumunan, belanja terbiasa dengan pesan antar, konsultasi dokter lewat Halodoc,
untuk pelaku usaha bagaimana? Jawabannya ikuti kebutuhan dan keinginan Konsumennya
sesuai trend baru masyarakat dalam berbelanja. semoga prediksi-prediksi tersebut nyata
adanya, aamiin.

Sumber : mediakontroversi.co.id