OPINI OPINI 2020

Manajemen Operasional pada Koperasi BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) di Masa Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak yang signifikan terhadap operasional dari badan usaha yang berada di institusi keuangan mikro syariah (IKMS), seperti BMT (Baitul Maal Wat Tamwil). Sebagai salah satu badan keuangan yang berada di bawah pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM, yaitu Koperasi/Unit Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS/USPPS), BMT termasuk koperasi yang terdampak akibat kebijakan pemerintah selama masa pandemi COVID-19. Pertama, dampak yang umum terjadi sebagai akibat kebijakan pemerintah untuk melakukan social distancing dan juga work at home membuat BMT kesulitan untuk mengumpulkan anggota. Hal ini terjadi karena BMT pada masa-masa pandemi ini sulit bertemu langsung dengan masyarakat yang ingin menjadi anggota BMT sehingga terjadi kesulitan bagi BMT untuk mendapatkan anggota baru. Dampaknya adalah kas yang dimiliki oleh BMT pun tidak sebanyak masa sebelum terjadinya pandemi COVID-19 ini.

Kedua, dampak yang dirasakan oleh BMT dengan adanya kebijakan pemerintah untuk social distancing (jaga jarak) serta work from home (WFH) atau bekerja dari rumah membuat anggota BMT banyak yang melakukan  penarikan uang untuk kebutuhan sehari-hari dan juga pada bulan puasa Ramadan 1441 H. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kita bisa lihat bahwa dampak dari adanya pandemi COVID-19 membuat masyarakat harus stay at home alias di rumah saja dan work at home atau bekerja di rumah yang tentunya pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari semakin besar dan meningkat dibandingkan dengan hari-hari biasa. Pun, kebutuhan pada bulan Ramadan yang tentunya membutuhkan dana yang besar untuk konsumsi buka puasa dan untuk sedekah yang biasa mereka berikan di masa Ramadan sehingga anggota BMT banyak yang melakukan penarikan dana di BMT.

Ketiga, anggota BMT banyak juga yang melakukan penarikan uang untuk menyambut Idul Fitri 1441 H. Kebutuhan hari raya memang harus terpenuhi meskipun sedang masa pandemi COVID-19 seperti saat ini. Kebutuhan untuk membeli kue lebaran, baju lebaran, THR, dan zakat maupun sodaqoh membuat anggota BMT banyak yang melakukan penarikan dana di BMT. Kondisi inilah yang membuat koperasi harus banyak mengeluarkan dana untuk keperluan anggota.

Keempat, pembatasan operasional pada karyawan BMT dan penerapan WFH (work from home) sehingga pendapatan yang diterima oleh BMT juga menurun. Adanya pembatasan operasional pada karyawan ini memang berdampak pada penurunan pendapatan pada koperasi BMT karena mereka hanya bekerja beberapa hari dan waktu tertentu atau bahkan ada yang harus work at home sehingga sulit untuk bertemu dengan anggota yang ingin menabung di BMT.

Kondisi inilah yang menjadikan permasalahan operasional di BMT itu sendiri sehingga BMT membuat kebijakan-kebijakan agar operasional dapat berjalan dengan lancar. Berikut ini langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh BMT untuk menjaga keberlangsungan BMT selama masa pandemi COVID-19.

Pertama, selama masa WFH dan juga untuk memutus mata rantai virus Corona ini, maka BMT melakukan penyelenggaraan rapat anggota tahunan secara daring atau online dan  BMT tidak melaksanakan secara fisik. Hal ini berarti bahwa BMT harus mencarikan solusi yang tepat agar rapat tahunan dapat terselenggara dengan baik dan lancar selama masa pandemi ini. Untuk menghindari adanya kontak fisik dan pertemuan dengan anggota serta pengurus, maka BMT dapat melakukan rapat melalui media online, misalnya zoom, google meet, dan aplikasi lainnya. Tidak hanya itu, laporan keuangan tahun buku dapat dikirimkan oleh pengurus ke rumah masing-masing anggota ataupun dengan mengirimkan laporan melalui surat elektronik (e-mail). Penulis melihat upaya ini sangat efektif sebagai cara untuk menghindari kontak langsung dengan anggota dan laporan keuangan tutup buku dapat diterima dengan baik oleh anggota.

Kedua, setelah mendapatkan laporan keuangan tahun buku, maka anggota dapat memberikan tanggapan secara tertulis dan dilaporkan ke koperasi BMT. Hal ini saya kira sangat efektif untuk menjaga keharmonisan dan komunikasi yang baik antara anggota dan pengurus. Mengapa demikian? Kita bisa melihat bahwa sumber dana koperasi BMT salah satunya berasal dari simpanan yang diberikan oleh anggota sehingga perlu adanya komunikasi yang baik antara anggota dan juga masukan-masukan dari anggota yang sangat diperlukan oleh pengurus untuk pengelolaan keuangan pada tahun berikutnya.

Ketiga, selama masa pandemi COVID-19, maka pengurus BMT memberikan kebijakan  dalam pembagian SHU (sisa hasil usaha) yang langsung dimasukkan ke dalam rekening anggota. Tidak seperti biasanya, pembagian SHU selama masa pandemi ini diberikan melalui rekening anggota sebagai upaya untuk menghindari kontak fisik secara langsung dengan anggota, Tidak hanya itu, pembagian SHU melalui rekening anggota BMT juga lebih efektif dan memudahkan kedua belak pihak.

Keempat, laporan pertanggungjawaban pengurus disampaikan melalui daring dan cetak yang dikirim ke rumah anggota. Pengurus membuat laporan yang selanjutnya dikirim secara daring melalui surat elektronik (e-mail) yang dikirimkan ke anggota BMT. Tidak hanya itu, pengurus juga mengirimkan laporan pertanggungjawaban pengurus melalui media cetak yang selanjutnya dikirimkan ke rumah masing-masing anggota BMT.

Kelima, dalam upaya perekrutan anggota baru BMT, maka ada beberapa cara yang dilakukan oleh BMT. Langkah yang dilakukan adalah dengan membuat broadcast di media sosial untuk menginformasikan bahwa BMT membuka anggota baru dan memberikan informasi terkait dengan BMT tersebut serta syarat apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi anggota BMT. Saya berpendapat bahwa upaya broadcast di media seperti WA, telegram, FB, dan media sosial lainnya ini lebih efektif untuk menarik minat anggota baru. Tidak hanya itu, pengurus dapat membuat pamflet terkait dengan usaha-usaha yang sudah ada di BMT dan melampirkan di media sosial sehingga masyarakat tahu tentang usaha yang ada di BMT tersebut dan tertarik untuk menjadi anggota.

Keenam, dalam upaya memberikan pelayanan terhadap anggota selama masa pandemi ini maka pengurus dapat melakukan kerja secara shift atau bergantian sehingga anggota dapat terlayani dengan baik. Jika melakukan kerja maka pengurus dan anggota harus menerapkan protocol kesehatan sehingga dapat memutus rantai penyebaran virus ini. Upaya yang bisa dilakukan oleh pengurus selama bekerja di kantor dengan menyediakan hand sanitizer di depan kantor serta memberikan batasan jarak 1 meter pada saat berkomunikasi dan menggunakan masker.

Ketujuh, selama masa pandemi ini, pengurus juga menyediakan layanan berbasis online sehingga memudahkan anggota untuk melakukan transaksi. Baik yang ingin mengambil uang maupun yang ingin memberikan setoran atau membayar zakat dan sodaqoh. Pelayanan melalui media online sebaiknya dipermudah dengan menggunakan layanan whatssapp (WA) maupun surat elektronik dan pengurus harus selalu aktif memberikan pelayanan secara online sehingga anggota dapat terlayani dengan baik dan operasional BMT berjalan dengan lancar.

Keberlangsungan BMT menjadi bagian yang sangat penting diketahui bersama oleh anggota dan pengurus sehingga perlu adanya komunikasi yang hangat antara keduanya, terlebih lagi di masa pandemi COVID-19 ini. BMT memberikan manfaat yang luar biasa di kalangan masyarakat sehingga kehadiran BMT memang sangat diperlukan terutama oleh pelaku UMKM. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat untuk keberlangsungan BMT di masa-masa yang akan datang dan semoga COVID-19 ini segera berakhir dan kita dapat menjalankan operasional BMT seperti sedia kala. Aamiin.

Sumber: visione.co.id
Oleh: Ajimat, S.Si., M.M.
*) Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang dan Pendiri BMT Al-Mujahidin