OPINI OPINI 2020

Marketing Strategi Di Masa Pandemi Covid-19

Wabah merupakan musibah yang tidak bisa kita hindari, tapi harus kita sikapi dengan arif dan bijaksana. Sejak kemunculan sebuah makhluk yang namanya Virus Corona (Covid 19) di Wuhan Negeri China sejak Desember 2019, berdampak pada sendi-sendi kehidupan sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dan banyak lagi pada lumpuh. Terlebih ketika Virus Corona tersebut mewabah ke seluruh negara-negara di dunia, termasuk salah satunya ke Negara Indonesia.

Di awal Maret 2020 pemerintah sudah mengumumkan bahwa keberadaan Virus Corona merupakan sebuah pandemi, sehingga setiap institusi, baik institusi pendidikan dari mulai TK, SD, SMP, SMA, sampai Perguruan Tinggi, institusi bisnis, komunitas sosial, keagaamaan, dan institusi lainnya yang melakukan interaksi langsung agar diliburkan dalam arti semua aktivitas dilakukan di rumah (Work From Home).

Indonesia karena memiliki jumlah penduduk yang cukup besar yaitu sebanyak 267 juta jiwa (BPS, 2019) dengan wilayah yang tersebar, walaupun pemerintah melakukan gerak cepat dalam penanganan Covid 19, tetapi jumlah kasus dan yang meninggal dunia begitu cepat pergerakannya. Sampai saat penulis menorehkan tinta ini tercatat 9.096 kausus positif Covid 19. Langkah lain yang dilakukan oleh pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kebijakan yang diambil pemerintah ini berdampak pada goyahnya berbagai sektor kehidupan, di antaranya sektor ekonomi dan bisnis. Setiap orang harus dirumah saja, bekerja di rumah, belajar di rumah, transaksi di rumah, bahkan ibadah pun di rumah. Ini berdampak pada para pelaku usaha, terutama para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Usaha Mikro dan Kecil (UKM), maupun pelaku usaha skala besar.

Hal itu karena dengan adanya kebijakan pemerintah Work From Home (WFH) dan atau Stay at Home, jelas tingkat permintaan (demand) efektif yang langsung di lapangan (pasar) secara signifikan menurun. Mereka yang sumber penghasilannya tidak tetap seperti ojek online (ojol), supir taksi, buruh bangunan, buruh tani, buruh kebun, dan yang lainya yang tidak tetap penghasilannya otomatis permintaan efektif menurun.

Untuk memberikan solusi kepada masyarakat yang berpenghasilan tidak tetap tersebut pemerintah memberikan bantuan langsung berupa listrik  450 watt gratis dan 900 watt bayar hanya 50 % sampai akhir bulan Juni 2020. Selain listrik juga ada penurunan pajak, penundaan waktu pembayaran kredit, dan bantuan langsung kebutuhan pokok, sehingga harapannya permintaan efektif tetap tumbuh. Yang jadi permasalahannya adalah masyarakat harus di rumah saja, sedangkan masyarakat tetap harus memenuhi kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan harapannya (expectaions).

Jika kita lihat dari sisi ekonomi dan bisnis ini menjadi masalah besar, karena dari sisi penawaran (supply) pihak perusahaan akan menurun secara signifikan karena tingkat permintaan ((demand)  dari masyarakat menurun juga secara signifikan sehingga keseimbangan pasar (equilibrium) sulit terjadi. Kalau ini terjadi akan muncul gap atau kesenjangan di masyarakat. Oleh karena itu untuk menghilangkan gap tersebut selain pemerintah membuat kebijakan listrik gratis, penurunan pajak, penundaan waktu pembayaran kredit, dan sembako langsung perlu adanya sebuah solusi bagi pihak pelaku usaha (perusahaan) agar produksi barang tetap berjalan, dan pihak masyarakat(konsumen) yang selama pandemi ini harus di rumah saja mudah melakukan pemenuhan kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan harapannya (expectaions).

Solusi efektif dari permasalahan di atas jika dilihat dari sisi Ilmu Manajemen Pemasaran yaitu dengan memanfaatkan teknologi yang selama ini sudah dimilki oleh masyarakat yaitu smartphone.  Pemenuhuan kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan harapannya (expectaions) dapat dilakukan melalui strategi pemasaran online. Masyarakat yang diharuskan dirumah saja, dengan tenang, aman, dan nyaman melaksanakan aktivitasnya ketika membutuhkan barang atau perlu transaksi, maka pihak perusahaan dapat menggunakan layanan online.

Pihak perusahaan juga diuntungkan karena dengan pemasaran online tersebut, maka tidak hanya dari aspek distribusi saja, akan tetapi dari sisi lain seperti dapat membuka outlet jariangan lebih luas, seperti komunitas-komunitas masyarakat dapat dikelola melalui media online, harga lebih kompetitif, dan produk lebih bervariatif dalam arti tidak hanya produk berwujud (tangibel), akan tetapi dapat menawarkan dan mengelola produk tidak berwujud (itangible). Pihak perusahaan dapat memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang sudah ada di perangkat smartphone, seperti Whatsapp, shopee, gojek, grab, tokopedia, lazada, dan lain-lain. Pihak masyarakat pun dengan mudah memanfaatkan aplikasi tersebut.

Untuk kebutuhan pulsa menurut penulis di luar masa pandemi pun mereka menggunakan pulsa, apalagi di masa pandemi ini banyak penawaran dari berbagi perusahaan provider, sehingga ini perlu ditangkap oleh para pelaku usaha dan juga oleh masyarakat (konsumen) dalam rangka menyeimbangkan antara permintaan pasar(demand) dan penawaran pasar (supply). Untuk perusahaan berskala besar sudah banyak yang memanfaatkan teknologi ini, akan tetapi masih banyak para pelaku usaha mikro dan kecil yang belum memanfaatkannya secara maksimal.

Pemanfaatan teknologi di masa pandemi ini memang memaksa mereka untuk melakukannya karena kebutuhan yang mendesak. Akan tetapi disadari atau tidak bagi pelaku usaha dan masyarakat (konsumen) yang selama ini memiliki teknologi khususnya smartphone, akan tetapi belum memanfaatkannya secara maksimal untuk berbisnis bagi pelaku usaha dan untuk transaksi pembelian bagi masyarakat (konsumen) ini merupakan sebuah pembelajaran yang alami (natural).

Sebagai contoh para pelaku usaha mikro dan usaha kecil yang harus memaksakan pemanfaatan teknologi smartphone untuk penerapan strateg pemasaran yaitu Usaha makanan Martabak, warung nasi khas Tegal (Warteg), nasi goreng, rumah makan, pedagang sayur, pemotongan ayam, daging sapi dan tukang ikan, sekarang yang sedang booming di Bulan Suci Ramadhan pedagang Kolek, toko kue kering, pedagang rempah-rempah seprti jual jahe merah, kunyit, temulawak, sereh, kayu manis, sampai pedagang kelontongan memaksa diri untuk memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produknya.

Jika  pandemi Covid 19 sudah berakhir, maka strategi ini tetap dapat dilakukan bahkan harus ditingkatkan melalui inovasi teknologi. Hal itu dapat kita lihat bagi masyarakat (konsumen) trend yang terjadi setiap hari bergelut dengan kesibukan dari pagi sampai dengan malam, hal yang tidak mungkin untuk mengantri di bank untuk transaksi, mengantri di supermarket belanja kebutuhan sehari-hari, mengantri membeli obat di apotek, dan banyak lagi. Bagi pihak pelaku usaha, bahwa tingkat persaingan semakin meningkat dan ketat, maka perlu adanya inovasi pelayanan yang prima melalui pemanfaatan teknologi tersebut.

Di sisi lain pemanfaatan teknologi tersebut dalam penerapan marketing strategi bersamaan dengan kebijkan pemerintah melalui listrik gratis dan discount, penurunan pajak, penundaan waktu pembayaran kredit, dan bantuan langsung sembako  ini merupakan sebuah upaya menyeimbangkan keseimbangan pasar (equilibrium) atas permintaan (demand) dan (supply), sehingga harapannya gap pasar dapat di minimalisir.

Di era industri 4.0 ini orang yang bodoh itu bukan orang yang tidak bisa baca tulias saja, seperti dikutif dari Alvin Toffler (1980) dalam bukunya “The Third Wave” mengatakan bahwa “Tomorrow’s illiterate will not be the man who can’t read; he will be the man who has not learned how to learn” Jadi, pada waktu dia menulis buku tersebut di tahun 80-an, dia sudah mengatakan bahwa definisi orang yang buta aksara di masa yang akan datang, bukanlah orang yang tidak bisa membaca, melainkan orang yang tidak tahu bagaimana caranya belajar. Karena, hanya orang yang memiliki kemampuan untuk terus belajarlah yang akan survive atas perubahan yang arahnya belum kita ketahui sekarang.

Oleh karena itu hikmah dari pandemi Covid 19 ini bagi para pelaku usaha khususnya dan bagi masyarakat luas pada umumnya dengan memaksakan diri memanfaatkan teknologi smartphone kita jadikan pembelajaran natural agar perusahaan kita tetap survive, masyarakat pun juga tetap survive. (Udin Ahidin-Unpam)

Sumber: reportase.tv
Oleh: Udin Ahidin, Dosen Program Studi Manajemen S-1 Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang