OPINI OPINI 2020

Anomali Covid-19 dan Paradoks Bulan Ramadhan

Qadarullah saat ini kita memasuki bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, meski ada yang berbeda puasa tahun ini. Insya Allah ta’ala ganjaran pahala yang diberikan akan tetap luar biasa. Walau sudah empat bulan kurang wabah Corona menjangkiti negeri ini, masyarakat muslim Indonesia khususnya tak menyurutkan semangat untuk tetap menjalani puasa yang jatuh pada 1 Ramadhan 1441 H yakni pada hari Jumat, tanggal 24 April 2020.

Berdasarkan data yang dihimpun melalui Kompas hingga Rabu (22/4/2020) pukul 12.00 WIB, terdapat penambahan 283 pasien Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Bertambahnya jumlah pasien menyebabkan total ada 7.418 kasus Covid-19 di Tanah Air, sejak kasus ini diumumkan per 2 Maret 2020. Diyakini data ini akan terus bertambah mengingat “klasemen” Indonesia berada diposisi 35 dengan total 7.418 terinfeksi dan 635 meninggal dari 50 negara dengan kasus positif virus corona terbanyak menurut Worldometer.

Meski banyak hipotesa hipotesa yang berkembang bahwa masa puncak dari wabah ini pada bulan mei, semisal saja disampaikan oleh Deputi V Badan Intelijen Negara (BIN) Bidang Intelijen Teknologi, Mayjen TNI Afini Boer, dalam diskusi bertajuk Bersatu Melawan Corona di kawasan Kebayoran Baru mengatakan masa puncak dari virus Covid-19 ini terjadi di bulan Mei alias pada bulan Ramadhan. Tentu sah sah saja bila ada hipotesa seperti itu.

Penulis berasumsi bahwa justru selama bulan suci Ramadhan ini tingkat kesembuhan akan naik secara signifikan, dimana angka kematian tidak lagi mendominasi angka kesembuhan. Anomali anomali yang terjadi saat ini seharusnya menjadi momentum pemerintah pusat dan daerah bersinergi memberangus wabah ini, rendahnya kesadaran masyarakat kita dan sikap acuh tak acuh ditenggarai juga menjadi penyebab bertambahnya list kematian dari virus berbahaya ini. Mengingat masyarakat akan lebih fokus dalam beribadah selama sebulan kurang ini, sehingga optimalisasi kebijakan para stake dan share older yang diterapkan berjalan dengan baik dan para nakes yang berjuang di front line akan lebih efektif nan efisien.

Adalah bulan suci Ramadhan bulan yang penuh rahmat dan kemuliaan. Dimana harapan itu akan turun melalui panjatan doa, murottal Qur’an dan lantunan kalam ilahi yang akan bergema selama 30 hari kedepan. Tentulah berpuasa selama Ramadhan banyak sekali manfaat yang akan didapat, sebab dengan berpuasa dapat meningkatkan sistem imunitas bagi tubuh dari serangan virus dan bakteri, kadar imunitas diri kita justru diperbaiki juga ditingkatkan. Selain berpuasa, seseorang yang membaca Al-Quran dengan rileks tadabbur atau berimajinasi maka gelombang otaknya berada dalam frekuensi gelombang otak tertentu.

Berdasarkan penelitian Rose (2007: 14) dan Sentanu (2011: 71) menggunakan alat Elektroensefalografi didapatkan pola gelombang otak ketika melakukan aktivitas tertentu. Secara prinsip, gelombang otak manusia sebagaimana dikatakan oleh Joaquim Filipe dalam bukunya “Agents and Artificial Intelligence”, gelombang otak manusia dikategorikan dalam 5 kategori/jenis, yaitu Beta, Alpha, Theta, Delta dan Gamma. Masing-masing jenis gelombang ini sifatnya berkorelasi dengan kondisi mental yang berbeda.

Ketika seseorang melantunkan ayat suci Al-Quran maka ia masuk dalam gelombang Alpha, yakni gelombang otak Alpha menghubungkan antara masuknya informasi pikiran sadar dan bank memori dalam pikiran bawah sadar manusia. Membaca Al-Qur’an dalam keadaan gelombang Alpha akan membuat imunitas tubuh meningkat, pembuluh darah terbuka lebar, detak jantung menjadi stabil, dan kapasitas kepekaan panca indra kita meningkat.

Menurut Gunawan (2007: 53) bahwa gelombang otak tersebut tidak terjadi secara sendiri-sendiri melainkan secara simultan. Gelombang otak Beta, Alfa, Teta, dan Delta tersebut sebenarnya terjadi secara pararel pada satu waktu. Kondisi terbaik ketika melakukan pembelajaran yaitu ketika didominasi oleh gelombang otak Alfa dan Teta. Kondisi Alfa Teta terjadi ketika seseorang dalam keadaan ikhlas, khusyu, yakin, istiqamah, sabar, syukur, senang, terharu, tenang, serta hanyut dalam alur makna Al-Qur’an, menikmati proses menghafal Al-Qur’an maupun fokus terhadap apa yang saat itu dikerjakan, dan pada saat yang sama terjadi proses perbaikan imun yang masif, dengan imunitas yang meningkat maka tubuh kita akan mampu mengalahkan virus corona ini. Kondisi khusyu’ seperti ini terjadi juga pada saat Ruqiyah dengan Al-Qur’an dan mengumandangkan adzan.

Dengan demikian korelasi antara rasa tenang di rumah dalam mematuhi pembatasan sosial, kenyamanan dalam menerapkan sosial distancing, dan kekhusyuan dalam melaksanakan ibadah puasa berdampak baik terhadap tingkat imunitas kita. Oleh karenanya marilah masyarakat Indonesia bersatu padu, tingkatkan kadar keimanan dalam beribadah, manfaatkan momentum yang baik ini untuk memutus mata rantai serta menghancurkan virus Covid-19 ini dengan ibadah yang kita niatkan semata mata untuk mendapatkan ridho-NYA. Semoga Allah ta’ala senantiasa menurunkan keberkahan dan kesembuhannya di bulan yang penuh rahmat ini. Aamiin yra.

Penulis : Mawardi Nurullah, M.Pd

Dosen Prodi S1 Akuntansi Universitas Pamulang

Sumber : wartabanten.id