OPINI OPINI 2020

Dampak Kekerasan Anak di Medsos Akibat Cyber Bullying

Terakhir ini kasus-kasus bullying di media sosial atau medsos menggemparkan dunia tidak hanya terjadi pada dunia nyata saja tapi terjadi di dunia maya. Kita tahu bullying yang diberikan bukan hanya berupa kekerasan raga atau fisik namun juga kekerasan verbal. Sangat miris ketika kita mengetahui kasus bullying bukan hanya kasus atau berita yang sangat memprihatinkan bagi anak dan generasi masa depan dampaknya sangat memilukan kita telisik bunuh diri, membunuh karena dendam, psikologis berat dan lainnya.

Hal ini dibutuhkan untuk melakukan bullying atau disebut juga Netizen di Media Sosial (Medsos) bagi para generasi muda, ada baiknya bagi kita untuk segera menyadari ketidaktahuan kejahatan dalam melakukan perbuatan tersebut para netizen atau para bullying.

Masa peralihan ini yang disebut juga masa transisi dari anak-anak menuju usia dewasa tidak mudah dilalui bagi sebagian orang, pencarian jati diri inilah kemauan untuk berekspresi di media sosial kerap membuat jadi korban bullying di medsos (media sosial). Bukan hanya orang terkenal atau artis saja bisa jadi korban cyber bullying. Karena, bullying di medsos oleh teman rumah, teman sekolah pun bisa membuat remaja menjadi depresi berat yang berujung pada psikologis yang hancur.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PP & PA) menunjukkan data yang dihimpun enam persen atau sekitar 5,2 juta anak dari seluruh jumlah anak di Indonesia yang mencapai 87 juta menjadi korban kekerasan dalam berbagai aspek.

Menteri I Gusti Ayu Bintang Darmawati adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, temuan ini merupakan masalah yang serius, karena apa yang dialami anak saat ini menentukan Indonesia di masa depan, menyebutkan banyaknya kasus kasus kekerasan di medsos akibat bullying menimpa anak akibat internet tanpa batas. Hal ini bisa mengakibatkan dampak yang buruk terhadap anak itu sendiri seperti: si anak berdampak pada mental bunuh diri, murung, minder atau psikologis lainnya yang dapat merusak mental si anak. Hal ini dilakukan dengan konvensi hak anak yang meliputi pemenuhan hak anak dan memberikan perlindungan khusus.

Pemenuhan hak anak, tambah menitik beratkan pada upaya pencegahan yang meliputi pemenuhan hak sipil anak, kasih sayang terhadap kedua orang tuanya lingkungan keluarga dan pengasuhan, kesehatan dasar dan kesejahteraan serta upaya pemenuhan pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya bagi anak.

Di era otonomi perlindungan anak kita bangun dalam bentuk kabupaten layak anak dengan target akhir mencapai Indonesia layak anak pada 2030. Menerapkan sebuah sistem, yang mana tujuan akhirnya memenuhi hak anak dan menjaga jangan sampai dia menjadi korban. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengungkapkan, anak pelaku cyber bullying sebenarnya juga korban, bisa karena ketidakmampuan orangtua dalam mengasuhnya atau kemiskinan. “Anak walaupun pelaku cyber bullying sebenarnya adalah korban. Paling tidak masalah pengasuhan dari orang tua yang tidak mampu menangani anak itu, ujar Sekretaris Kementerian PPPA (Pemberdayaan  Perempuan dan Perlindungan Anak).

Namun, ketika seseorang menjadi korban bullying di medsos atau media sosial, ia bisa diserang oleh ratusan orang tak dikenal atau dikenal setiap saat. Yang merasa tidak kenal dengan korbannya, maka si pembully semakin merasa bebas mengatakan apapun pada si korban. Semakin kata-kata atau hujatan dalam bentuk dunia maya yang datang adalah depresi berat oleh si remaja korban bullying makin besar bahkan ke arah bunuh diri, menyakiti diri sendiri kepada si anak hasil bully.

Upaya pencegahan kepada si anak hasil bully yang kita lakukan adalah, berikan dukungan, artinya disini “bullying itu sangat berdampak dan mempunyai efek di kehidupan si anak tersebut. Meski hanya sebaris atau sekata saja dampak bisa sangat dalam bagi si anak yang membacanya, upaya pertama, kita bisa membantu memulihkan mentalnya ke pribadi anak yang mengalami bully, upaya ke dua hindari memviralkan kasusnya agar si anak tidak terkenal di medsos, upaya ketiga, ingatkan korban untuk istirahat artinya untuk stop baca media sosial agar tenang jiwa si anak hasil bully.

Anak yang menjadi korban bullying agar juga mengatur privacy setting media sosial seperti facebook, instagram, chat, twitter agar para orang lain atau netizen yang kita sering dengar agar tidak bebas untuk berkomentar dengan bahasa yang merusak psikologis dari anak tersebut. Dikuatirkan bisa pem-bully akan semakin menghujat korban dan merendahkan jiwa si anak. Yang harus diperhatikan adalah kita harus memerhatikan jiwa dan kesehatan mental korban si anak agar cepat proses psikologis si anak korban bullying.

Menutup tulisan ini, siapa pun bisa jadi korban cyber bullying, jika bukan kita, anak kita, saudara, teman, murid dan bahkan pasangan kita sendiri. Menahan diri untuk mem-bully akan menyehatkan  psikologis, mental dan diri kita sendiri agar dapat membantu orang sekitar kita yang menjadi korban cyber bullying. Yuk, jadi orang bijak yang benar-benar jadi bijak. (*)

Sumber : Koran Tangsel Pos 3 April 2020 (Oleh: Devi Fitria Wilandari – Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang Tangerang Selatan)