OPINI OPINI 2020

Tontonan Film Membawa Petaka

Baru-baru ini masyarakat luas dihebohkan dengan adanya suatu kejadian pembunuhan di Sawah Besar, Jakarta Pusat, yakni bocah berusia 5 tahun berinisial APA dibunuh oleh seorang remaja wanita berusia 15 tahun berinisial NF. Hal yang mencengangkan bahwa pelaku pembunuhan tersebuy merupakan tetangga APA yang juga merupakan kakak dari teman main korban. Kejadian naas tersebut terjadi ketika korban berada di rumah pelaku, jarak rumah korban dengan pelaku terbilang berdekatan. Karena memang lingkungan yang mereka tinggali tergolong lingkungan kumuh dengan gang-gang kecil yang menghimpit.

Korban tersebut memang terbiasa bermain di rumah pelaku, korban tersebut merupakan terman bermain adik pelaku. Ketika hari naas itu menimpa korban, situasi di rumah pelaku hanya ada mereka berdua saja, kemudian timbullah hasrat ingin membunuh pada diri pelaku. Pelaku meminta korban untuk mengambilkan mainan yang terjatuh di dalam bak kamar mandi. Kemudian korban pun menuruti keinginan pelaku. Ketika korban sedang mengambil mainan di dalam bak kamar mandi tersebut, pelaku mulai melaksanakan aksinya dengan menenggelamkan korban. Hingga akhirnya korban lemas dan tak bernyawa lagi.

Kemudian jasad korbang dimasukkan ke dalam ember, lalu jasad tersebut ditutup dengan sehelai sprei agar keluarga pelaku tidak ada yang curiga. Semula pelaku ingin membuang jasad bocah naas tersebut, tapi pelaku bingung dan merasa situasi tidak aman jika pelaku membawa jasad tersebut keluar dari rumah. Hingga akhirnya pelaku mengikat jasad bocah itu kemudian disimpan  di dalam lemari pakaian pelaku. Kemudian keesokan harinya pelaku melaporkan diri ke Polsek Metro Taman Sari mengakui telah membunuuh bocah.

Setelah diintrogasi oleh pihak Polisi, pelaku merasa puas telah membunuh bocah malang tersebut. Hemat penulis ada perilaku menyimpang pada remaja ini. Perilaku ini dilatarbelakangi karena pelaku sering menonton film horror. Pelaku terinspirasi melakukan pembunuhan dari film Chucky si boneka pembunuh dan film Slander Man. Dari olah TKP Polisi terkejut menemukan fakta-fakta berupa gambar-gambar serta curahan hati dalam bahasa Inggris. Sangat disayangkan pelaku ini sepertinya anak yang cerdas.

Dalam kasus ini juga dilatarbelakangi kondisi lingkungan keluarga yang kurang mengarahkan anak tersebut, seperti tontonan yang sering ditonton, seharusnya peran penting orang tua untuk mendampingi serta mengarahkan tontonan seperti apa yang layak ditonton untuk usianya. Dalam kasus pembunuhan ini Polisi menerapkan Pasal 338 juncto 240 KUHP tentang pembunuhan berencana serta UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak untuk memproses kasus tersebut.

Dalam pasal tersebut pelaku dapat dijatuhi hukuman mati atau pidana penjara paling lama 20 tahun, dalam hal pidana anak ini dikurangi setengah dari hukuman pada orang dewasa. Akan tetapi Polisi masih menunggu hasil tes kejiwaan pada remaja tersebut. Jika hasil tes kejiwaan tersebut menyatakan pelaku terbukti memiliki gangguan kejiwaan, maka hukuman mati atau hukuman penjara dalam pasal yang dikenakan dapat gugur.

Apabila pada hasil tes kejiwaan pada pelaku menunjukan kalau pelaku ini merupakan seorang psikopat maka kasus ini berlanjut, Pelaku bisa saja terancam dengan pasal tersebut. Disinilah peran pentingnya orang tua dalam mendidik anak, serta memberikan pendiidkan agama sedari dini terhadap anak untuk membentengi dirinya dari melakukan hal-hal yang dilarang agama dan yang dilarang oleh perundang-undangan. Orang tua juga wajib untuk mengontrol setiap tontonan yang ditonton anak-anaknya, orang tua wajib mendampingi setiap tontonan anaknya serta memberikan pengarahan terhadap anaknya pada tontonannya itu.

Menutup tulisan ini, kedepan sebagai orang tua kita tentu tidak lagi menginginkan kejadian serupa terulang kembali. Dari itulah, sudah menjadi kewajiban sebagai orang tua untuk memperhatikan dan menjaga anak-anaknya dalam menonton tayangan film yang baik dan bermanfaat. Baik itu tv maupun media sosial lain. Dalam kasus remaja NF yang membunuh karena sering menonton film horror yang penuh dengan adegan menyeramkan, bahkan membunuh kedepan tidak boleh lagi terjadi.

Tak ada cara lain, kedepan tentu orang tua dimana saja berada untuk selalu memperhatikan anaknya dalam menyaksikan film yang ditontonnya. Sebagai orang tua kita harus tetap memperhatikan apa yang anak-anak lihat. Sehingga bisa melihat apa yang baik ditonton anak-anak. Anak adalah masa depan bangsa. Mari jaga dan lindungi anak-anak dari berbagai macam bahaya dan ancaman bagi diri dan lingkungannya. (*)

Sumber : Koran Tangsel Pos tanggal 24 Maret 2020. Oleh: Dea Mahara Saputri (Dosen Fakultas Hukum Universitas Pamulang Tangerang Selatan)