OPINI OPINI 2020

Menulis: Solusi “Ikat Ilmu”

Coba perhatikan budaya sekitar kita! Saat berbagai acara digelar, baik di lingkungan masyarakat, sekolah, rumah sakit, bahkan di lingkungan universitas sekalipun (lingkungan tempat para akademisi dilahirkan), perhatikan budayanya! Lihatlah, akan ada banyak peserta pelatihan yang saat acara berlangsung, cenderung lebih memilih untuk berswafoto, mereka disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk mendokumentasikan diri dan kegiatannya. Materi seminar tidak jarang, hanya di foto, atau praktisnya adalah disimpan melalui flashdisk. Terkesan biasa memang, namun sebetulnya ada substansi yang hilang. Apa kegiatan yang cenderung dilakukan setelah berswafoto? Ya, tidak jarang status whatsapp maupun berbagai sosial media mewarnai timeline ataupun si empunya akun sosial media tersebut.

Fenomena “update status” merupakan paralel kegiatan yang dilakukan setelah menyibukkan diri dengan berfoto. Tidak semua peserta memang, itu sebabnya penulis mengatakan kecenderungan. Hal ini merupakan hasil observasi penulis atas beberapa kegiatan yang penulis lakukan selama penulis menjadi professional maupun saat penulis menjadi akademisi. Sebagai makhluk sosial dan di era digital ini, banyak budaya-budaya baru yang “lahir” dan cenderung mereduksi budaya lama yang bernilai luhur. Satu dari beberapa budaya yang penulis maksudkan adalah budaya menulis.

Menulis merupakan sarana mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya pengetahuan, daya dan kemampuannya saja tetapi juga menyertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya. Menulis merupakan kegiatan luhur yang lahir dan tidak dapat dilepaskan aktifitasnya dari kegiatan sebelumnya, yakni membaca. Seseorang dapat menuliskan sesuatu, jika ia memiliki “input” membaca. Membaca sendiri dalam bahasa arab berasal dari kata qaraa (membaca), yang pada awalnya berarti menghimpun. Membaca merupakan aktivitas menghimpun atau merangkai huruf lalu diucapkan. Selain itu, kata qaraa, dapat juga berarti menelaah, mendalami, meneliti, menyampaikan dan sebagainya. Dalam peradaban Islam, membaca dan menulis itu merupakan budaya yang ditumbuhkembangkan dan tersurat dalam Al Qur’an. Selain itu, menulis merupakan aktivitas dalam menciptakan kebudayaan, menghasilkan pengetahuan baru dan membangun peradaban dinamis yang maju.

Menulis merupakan aktivitas penting dalam Islam, yang dapat melahirkan berbagai manfaat fenomenal, diantaranya:

  1. Menulis dapat melestarikan ilmu. Imam Syafi’i rahimahullah pernah bertutur: Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat, termasuk kebodohan kalau engkau berburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan Asy-Syafi’i). Daya ingat manusia lemah dan terbatas, karenanya kita dianjurkan agar mencatat ilmu.
  2. Menulis merupakan sarana ummat dalam berdakwah. Tulisan merupakan sarana memperkenalkan dan menyampaikan pengetahuan kepada khalayak luas. Melalui tulisan, segala sesuatu dapat disampaikan secara terperinci dan detail.
  3. Sarana mengembangkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang ketika dunia tulisan tidak mengalami perkembangan. Allah mengabadi-kan di dalam Al-Qur’an “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhan-ku, di dalam sebuah kitab!” (Q.S Ta Ha: 52).
  4. Sarana mendapatkan amal jariyah. Ketika ilmu yang bermanfaat, yakni ilmu syar’i (ilmu agama) yang seseorang ajarkan kepada orang lain dan orang lain tersebut terus mengamalkan, atau menulis buku agama yang bermanfaat dan terus dimanfaatkan setelah ia meninggal dunia, menjadi bagian dari amalan yang tidak terputus pahalanya.

Menutup tulisan ini, ketika kita disuguhkan dengan berbagai akses informasi yang demikian mudah diperoleh hari ini, budaya menggampangkan materi suatu ilmu dengan memfoto, copy paste, dan tidak lagi mengikat ilmu dengan budaya menulis ini akan mereduk si budaya luhur yang sudah diajarkan oleh Islam. Peradaban modern dan maju justru lahir dari kaum intelektual yang mengikat ilmu dengan menulis, dan tentunya juga mengikat ilmu dengan mengamalkannya. (*)

Sumber : Koran Tangsel Pos tanggal 17 Maret 2020. Oleh: Vivi Iswanti Nursyirwan (Dosen Universitas Pamulang Tangerang Selatan)