OPINI OPINI 2020

Fenomena Cyber Bullying Dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar

Tahun lalu tepat di bulan September 2019, saya mendapat kesempatan menghadiri undangan pengukuhan Guru Besar Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Yasonna H Laoly. Beliau dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Kriminologi pada Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian/PTIK.

Dalam pengukuhan tersebut beliau menyampaikan pidato dengan judul “Dampak Cyber Bullying dalam Kampanye Pemilu Terhadap Masa Depan Demokrasi di era 5.0”.

Bagi saya, setelah mendengarkan paparan pidato yang disampaikan di tengah tamu undangan dan para pejabat negara termasuk juga Wakil Presiden, tentulah amat sangat menarik. Disamping kaya akan ide dan gagasan, pidato tersebut telah menambah wawasan dan pemahaman terhadap persoalan cyber bullying dihubungkan dengan kemajuan teknologi informasi.

Dalam pidatonya, Yasonna mengatakan bahwa fenomena cyber bullying merupakan contoh konkret, bagaimana teknologi internet tidak selalu sinkron dengan tujuan penemuannya untuk memudahkan hidup dan memakmurkan manusia.

Cyber bullying yang kerap disebut juga electronic bullying merujuk pada tindakan penyerangan verbal, seperti mengancam dan mengancam dan menyebarkan desas-desus di dunia maya menjadi surga baru bagi para pelaku cyber bullying. Orang menyebut zaman sekarang sebagai era post-truth yang secara harfiah berarti era pasca kebenaran, namun yang dimaksud ialah bahwa kebenaran tidak lagi dianggap penting, yang penting ialah orang percaya atau tidak. Maka hoaks menjadi industri yang bernilai ekonomis tinggi karena orang memburunya.

Dalam suatu masyarakat dengan kesadaran hukum yang rendah, hoaks menjadi santapan sehari-hari yang dikonsumsi oleh berbagai lapisan sosial tanpa mepermasalahkan apakah itu suatu pelanggaran atau kejahatan. Akibatnya produksi hoaks dengan berbagai motif dan tujuan terus berlangsung dengan korban-korban yang semakin banyak.

Hoaks kemudian menjadi kejahatan cyber yang berkembang sedemikian rupa tanpa mengenal batas wilayah, pelakunya bisa laki-laki dan bisa wanita. Pelakunya bisa orang tua atau anak remaja sekalipun. Kejahatan cyber berkembang tanpa mengenal ruang dan waktu. Pelakunya bisa berada dalam wilayah negara Indonesia, atau mungkin di wilayah teritorial negara lain di luar wilayah negara Indonesia, namun dampaknya sangat mungkin dirasakan di Indonesia.

Hoaks telah mendapatkan tempat ketika media sosial menjadi sangat umum, dan berkembang di zaman bebasnya akses penggunaan internet. Dimana dan kapan saja, media sosial digunakan banyak orang, misalnya Twitter, Facebook, Google, Instagram, BBM, WhatsApp dan lain-lain.

Media sosial telah berubah menjadi sebuah kebutuhan primer bagi sebagian orang. Kegiatan yang dulunya dapat dilakukan tanpa adanya media sosial, saat ini seakan tidak dapat dilakukan tanpa yang namanya media sosial. Banyak orang menuangkan perasaan melalui update status, mengupload peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupannya juga lewat media sosial. Baik peristiwa perkawinan, percintaan dan karier. Baik itu politik, hukum dan sosial. Namun nyatanya, peristiwa unik yang pernah terjadi dalam kehidupan manusia tersebut terkadang hanyalah sebuah hoax atau isu belaka yang dengan sengaja disusun sebaik mungkin agar nampak sangat meyakinkan.

Dalam banyak pemikiran, hoax menjadi dua tujuan. Pertama untuk sekedar lelucon diantara sesama kelompok pengguna media sosial. Kedua, bertujuan jahat, sengaja di-shareuntuk menipu atau mengecoh. Sehingga berdampak pada keburukan dari orang atau kelompok yang dituju. Berita hoax yang marak dalam kehidupan masyarakat melalui media sosial, seperti WhatsApp atau blackberry tentu membuat sebagian masyarakat resah dan was-was. Pelaku penyebar hoax terkadang menyerang dan menjatuhkan nama baik. Bahkan berita hoax terkadang memiliki kekuatan untuk mengubah atau memperkuat pandangan seseorang akan suatu hal.

Sebab mungkin saja berita hoax tersebut ditujukan kepada seseorang, kelompok orang yang memiliki sisi negatif. Misalnya dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah. Ketika calon yang diusung tidak disenangi, maka ketika ada berita mengenai calon tersebut, biasanya orang yang membaca langsung merespon dan kemudian menyetujui seolah-olah hal itu benar. Padahal informasi dan beritanya bersifat negatif dan mengandung unsur kebohongan. Jadi belum tentu kebenaran dari berita itu, akan tetapi sudah terlanjur dikonsumsi oleh masyarakat.

Pada akhirnya kasus kejahatan yang terjadi melalui media sosial atau lebih akrab disebut dengan cyber bullying, sudah pasti akan memberi dampak buruk pada korbannya. Untuk itu, sekecil apapun dampak yang ditimbulkan dari cyber bullying, tentu tidak bisa dianggap enteng. Jika dibiarkan kondisi ini akan membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika cyber bullying terus dibiarkan bukan tidak mungkin akan berujung pada terjadinya hal-hal yang mungkin tidak diharapkan.

Pada akhirnya semua kita sebagai anak bangsa sepakat sebagaimana yang disampaikan Yasonna H. Laoly, bahwa internet dibuat oleh manusia dan karena itu harus diarahkan menuju pemanfaatan yang lebih manusiawi. Berharap dengan hadirnya era society 5.0 dapat memanusiakan kembali manusia di hadapan teknologi digital, sehingga kasus-kasus kekerasan dan kejahatan di dunia maya berupa cyber bullying dapat direduksi. Semoga.

Sumber :
Oleh: Oksidelfa Yanto (Penulis adalah Dosen Ilmu Hukum Universitas Pamulang)