OPINI OPINI 2020

Reynhard dan Hukuman untuk Pemerkosa Sesama Jenis

Nama Reynhard Sinaga (RS) belakangan ini menjadi perbincangan dan pemberitaan berbagai media Indonesia dan tengah menjadi headline di sejumlah media di Inggris. Bukan karena prestasi yang diukirnya, akan tetapi menyangkut 159 kasus pemerkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria yang dilakukannya selama kurun waktu dari 1 Januari 2015 sampai 2 Juni 2017. Atas kasus ini RS dihukum seumur hidup oleh Pengadilan Manchester, Inggris. Konon kabarnya, kasus ini merupakan kasus terbesar sepanjang sejarah hukum di Inggris.

Lalu bagaimana kasus ini bisa terjadi? Mengingat secara pribadi pelaku adalah orang yang secara intelektual sangat mumpuni dan juga berasal dari keluarga yang terbilang cukup berada. Secara riwayat pendidikan tidak akan mungkin pelaku akan melakukan perbuatan bejat ini, karena pelaku mengetahui dan memahami bahwa itu adalah perbuatan yang tidak benar. Atau apakah pelaku dahulu pernah mengalami peristiwa yang sama, sehingga kemudian  menjadi alasan untuk melakukan perbuatan tersebut kepada orang lain? Entahlah!

Menurut dr. Boyke Dian Nugraha dalam wawancara di realita TV mengatakan bahwa 70% orang yang pernah disodomi mereka akan melakukan sodomi kepada anak-anak atau orang lain atau orang dewasa. Bahkan dr. Boyke menyampaikan pandangannya bisa saja pelaku adalah orang yang terpengaruh dengan lingkungannya. Apapun alasan pelaku melakukan perbuatan tersebut, suatu hal yang menarik dari kasus RS ini adalah bahwa saat persidangan berlangsung pelaku tidak menunjukkan penyesalan sama sekali.

Dalam kasus RS, wartawan BBC Endang Nurdin yang sempat dua kali hadir saat persidangan berlangsung, ketika diwawancarai kompas TV yang dipandu Rosianna Silalahi mengatakan bahwa saat persidangan berlangsung menurut hakim yang memeriksa persidangan tersebut, pelaku tidak menunjukkan penyesalan sama sekali, bahkan pelaku nampak menikmati jalannya persidangan. Pelaku tidak menunjukkan empati kepada para korban. Padahal para korban mengalami trauma yang begitu mendalam. Bahkan ada sebagian yang mencoba bunuh diri.

Kasus pemerkosaan yang dilakukan RS tentu saja harus dapat diambil hikmah dan pelajaran  bagi masyarakat Indonesia. Bahwa apa yang dilakukan oleh pelaku adalah perbuatan yang dilarang oleh agama. Jangankan memperkosa seorang laki-laki, memperkosa wanita saja sudah dilarang oleh agama, sebab hal itu merupakan perbuatan yang tidak diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam memandang kasus RS tentu saja semua orang akan melihat bahwa pelaku adalah seorang homoseksual. Di kehidupan sosial, perilaku homoseksual memang menjadi urusan yang privat. Namun demikian perilaku homoseksual merupakan perilaku yang tidak wajar demi mendapat kepuasan. Dalam hukum pidana Indonesia homoseksual bukanlah suatu tindak pidana. Meskipun begitu hukum nasional dalam arti luas tidak memberi dukungan bagi kelompok homoseksual. Apa yang dilakukan oleh RS sudah dapat dikategorikan sebagai suatu perbuatan yang sesungguhnya menodai serta melecehkan harkat kemanusiaan.

Dalam banyak kasus, kejahatan seksual dapat saja dilakukan oleh heteroseksual maupun homoseksual dalam bentuk pemerkosaan. Jika kejahatan pemerkosaan dikaitkan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia, maka sangat jelas sekali bahwa KUHP hanya mengatur aturan tentang tindakan pidana pemerkosaan heteroseksual yang dalam hal ini pelakunya atau yang melakukan adalah seorang pria kepada seorang wanita yaitu dengan adanya penetrasi penis ke vagina. Maka dalam KUHP belum diatur pemerkosaan homoseksual dengan unsur pelaku dan korbannya sesama jenis yang sudah dewasa.

Hukuman bagi pelaku pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang pria kepada wanita atau kejahatan seksual yang dilakukan oleh kaum heteroseksual dijelaskan dalam Pasal 285 KUHP. Pasal tersebut berbunyi: “barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, dihukum karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun.” Jadi menurut Pasal tersebut pemerkosa dihukum selama dua belas tahun namun yang diperkosa adalah seorang perempuan.

Pada kasus RS korbannya adalah laki-laki. Dalam konteks hukum Indonesia, maka kasus ini tidak dapat dikategorikan sebagai pemerkosaan. KUHP, sekali lahi hanya mengenal pemerkosaan yang berbentuk persetubuhan  antara laki-laki dan perempuan. Apa yang dilakukan RS mungkin dapat dikategorikan sebagai perbuatan cabul. Perbuatan cabul merupakan segala perbuatan yang dianggap melanggar kesopanan/kesusilaan. Dalam bukunya “KUHP serta Komentar-komentarnya”. R. Susilo, menyatakan bahwa istilah perbuatan cabul dijelaskan sebagai perbuatan yang melanggar rasa kesusilaan, atau perbuatan lain yang keji, dan semuanya dalam lingkungan nafsu birahi kelamin.

Menutup tulisan ini, maka selama ini di Indonesia tidak ada aturan hukum tentang kejahatan seksual seperti pemerkosaan yang dilakukan orang dengan orientasi seksual homoseksual yang sudah sama-sama dewasa. Kalaupun ada yang mengatur kejahatan mengenai pemerkosaan dengan orientasi seksual homoseksual, biasanya dilakukan kepada seseorang yang diketahui atau sepatutnya diduga belum dewasa.

Sumber : Koran Tangsel Pos tanggal 13 Januari 2020.
Oleh: Oksidelfa Yanto (Dosen Ilmu Hukum Universitas Pamulang)