Pelatihan Akuntansi Pada Pengelolaan Bank Sampah “Mengubah Sampah Menjadi Rupiah”

Pemahaman masyarakat Indonesia akan pentingnya pemanfaatan sampah masih perlu ditingkatkan. Barang rusak, benda tak terpakai, kemasan produk sisa makanan, semua dibuang begitu saja. Sebagian bertumpuk di tempat pembuangan akhir, selebihnya berserakan di jalan atau mengambang di sungai. Kementrian Lingkungan Hidup mencatat pada 2018 rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan 0,70 kilogram sampah per orang per hari. Artinya, ada sekitar 180 ton sampah yang dibuang oleh seluruh penduduk Indonesia dalam sehari.

Namun, kebanyakan dari kita tampaknya belum sadar akan pentingnya pengelolaan dan pengolahan sampah dengan baik. Selama sampah di depan rumah diangkut setiap hari oleh petugas kebersihan, maka sepertinya tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan. Pernahkan kita mempertanyakan apakah para petugas kebersihan itu akan menumpuk sampah kita di suatu tempat atau mengolahnya kembali? Semua hal itu tidak lagi terpikirkan oleh kita.

Penyelesaian masalah sampah tidak bisa dilakukan dengan hanya mengandalkan petugas kebersihan saja. Seluruh lapisan masyarakat harus turut serta membantu pemerintah untuk bergerak bersama dalam menangani masalah sampah. Salah satunya dengan penerapan prinsip 4R (reduce, reuse, recycle dan replace) dalam wujud Bank Sampah. Sistem ini berfungsi mengolah sampah dengan menampung, memilah dan mendistribusikan sampah ke fasilitas pengolahan sampah yang lain atau kepada pihak yang membutuhkan. Sehingga sampah di tempat pembuangan akhir bisa berkurang dan bahkan menambah nilai guna barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Bank Sampah adalah suatu sistem pengelolaan sampah kering secara kolektif yang mendorong masyarakat untuk berperan serta aktif didalamnya. Sistem ini akan menampung, memilah dan menyalurkan sampah bernilai ekonomi pada pasar sehingga masyarakat mendapat keuntungan ekonomi dari menabung sampah. Semua kegiatan dalam sistem bank sampah dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat. Melalui program ini, masyarakat diajarkan bagaimana memilah sampah organik dan non-organik sebelum disetorkan ke bank sampah. Sampah organik contohnya kertas, kayu atau ranting pohon, dedaunan, kulit buah dan sisa sayuran. Sedangkan sampah non-organik di antaranya botol plastik, tas plastik, kaleng dan produk-produk sintetis lainnya yang tidak dapat diuraikan secara natural oleh alam.

Seperti halnya bank konvensional, bank sampah juga memiliki sistem manajerial yang operasionalnya dilakukan oleh masyarakat. Melakukan pencatatan atas tabungan sampah masyarakat, pencatatan atas biaya operasional yang dikeluarkan serta menyajikan laporan keuangan atas kegiatan bank sampah tersebut sebagai pertanggungjawaban pengurus terhadap masyarakat. Dari latar belakang tersebut, sebagai salah satu unsur dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat. Universitas Pamulang bekerja sama dengan Kelurahan Babakan melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Dosen S1 Akuntansi yang bertemakan “Pelatihan Akuntansi Pada Pengelolaan Bank Sampah – Mengubah Sampah Menjadi Rupiah” pada hari Rabu, 06 November 2019.

Tim pelaksana PKM diketuai oleh Ibu Anisa, S.E., M.Ak., dengan aggota tim Ibu Nurbaeti, S.E., M.Ak., Ibu Novi Akhsani, S.E., M.Ak., Wiwit Setyawati, S.E., M.Ak., dan Ibu Zulfa Rosharlianti, S.E., M.Ak.,

Kelurahan Babakan sendiri berlokasi di Jl. Raya Pasar Jengkol RT.008/02 No. 36, Babakan, Kec. Setu,  Kota Tangerang Selatan 15345.

Pemilihan tema bank sampah menjadi sangat menarik karena dekat dengan keseharian warga Kelurahan Babakan, Setu, Tangerang Selatan.  Saat ini warga Babakan sendiri telah memulai Pengelolaan Bank Sampah, namun masih banyak terkendala terkait administrasi pencatatan dan keuangan. Karena minimnya pelaporan bank sampah, masyarakat masih belum menyadari bahwa sampah juga dapat memiliki nilai jual yang tinggi.

Oleh karenanya Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk membantu pengurus Bank Sampah dalam mengelola pembukuan dan membuat laporan keuangan sederhana sebagai pertanggungjawaban pengurus bank sampah terhadap masyarakat. Dengan adanya laporan yang menunjukkan angka Rupiah diharapkan dapat meningkatkan antusiasme masyarakat dalam mengumpulkan sampah karena dapat memberikan nilai ekonomis yang tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *