OPINI OPINI 2019

Pesan Damai dari Papua Menuju Indonesia Satu

Baru-baru ini Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja pertamanya ke Papua pasca dilantik sebagai Presiden. Kunjungan kerja pertama Presiden Joko Widodo ke Papua ingin memperlihatkan bahwa Papua tetap menjadi prioritasnya. Persoalan Papua menjadi salah satu poin penting yang harus diselesaikan oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH. Ma”ruf Amin yaitu menjaga nilai-nilai persatuan dan kesatuan berbangsa serta bernegara di tanah Papua.

Sebagaimana kita ketahui, tanggal 20 Oktober 2019 untuk yang kedua kalinya Presiden Joko Widodo dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia masa bakti 2019-2024. Jika pada periode sebelumnya yaitu 2014-2019 Presiden Joko Widodo mengandeng Jusuf Kalla sebagai Wakilnya, namun pada periode kedua ini Presiden Joko Widodo berpasangan dengan Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin. Beliau berdua dipercaya oleh rakyat menahkodai kapal besar Indonesia dengan segala janji yang disampaikan. Pasca pelantikan segenap janji yang disampaikan dalam kampanye pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tentu harus dapat diujudkan ditengah kehidupan masyarakat. Apalagi beliau berdua bukan lagi pimpinan golongan tertentu. Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin telah menjadi pimpinan semua masyarakat Indonesia tanpa membedakan suku, agama dan ras serta perbedaan partai politik.

Diantara pekerjaan rumah yang harus menjadi prioritas pemerintahan baru kedepan adalah persoalan menjaga persatuan dan kesatuan dalam kehidupan masyarakat. Kekerasan-kekerasan yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan meruntuhkan persatuan serta keharmonisan dalam kehidupan berbangsa tidak boleh terjadi dalam negara kesatuan Indonesia. Betapa pertikaian yang terjadi dalam waktu belakangan ini membuat kita sebagai masyarakat sedih.

Kekerasan di Papua beberapa waktu lalu telah menyisakan kesedihan yang amat dalam bagi semua elemen masyarakat yang ada di Papua. Bahkan mungkin bukan saja masyarakat Papua yang merasakan, namun juga dirasakan langsung oleh semua masyarakat Indonesia. Masyarakat sangat menyayangkan kekerasan yang terjadi di Papua yang telah memakan korban jiwa yang tidak bisa dianggap enteng. Tidak ada masyarakat yang menginginkan adanya pertikaian dan kekerasan di tanah Papua. Karena bagaimanapun Papua adalah bagian dari wilayah Indonesia yang harus selalu dijaga ketentraman dan kedamaiannya. Apalagi di tanah Papau tidak saja masyarakat suku adat asli yang tinggal, namun juga dihuni oleh masyarakat adat lainnya yang berasal dari berbagai suku bangsa di Indonesia.

Masyarakat Papua juga bercampur dengan masyarakat suku Minang, suku Jawa dan berbagai macam suku lainnya yang ada di bagian Timur Indonesia, seperti Sulawesi dan Kalimantan. Mereka sudah datang dan tinggal mencari penghidupan di tanah Papua sejak lama. Namun ulah sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab dengan segala persenjataan yang dimiliki telah menyebabkan kehidupan masyarakat Papua yang hidup damai dengan masyarakat pendatang lainnya menjadi mencekam dan menakutkan. Para pengacau telah melakukan perbuatan pelanggaran hak asasi manusia.

Kekerasan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan membuat pendiri bangsa ini bersedih. Karena sejatinya, keberagaman dalam bingkai kebhinekaan dapat dijadikan modal utama dalam menciptakan persatuan dan kesatuan. Dalam sejarah perjuangan para pejuang bangsa sudah ditanamkan bahwa memperjuangkan, mempertahankan dan juga mengisi kemerdekaan adalah tugas dan tanggungjawab generasi bangsa ini. Persatuan dan kesatuan yang harusnya dijaga akan menjadi tanggungjawab anak bangsa Indonesia dengan segala perbedaan dan keberagaman yang ada.

Kedepan Presiden dan wakil Presiden terpilih tidak bisa bermain main dengan retrorika. Terujudnya Indonesia damai dengan segala perbedaan tanpa kekerasan dan pertikaian harus dimaksimalkan di tengah kehidupan masyarakat. Pemimpin nasional harus membawa Indonesia menjadi lebih baik, tanpa konflik dan kekerasan. Bangsa Indonesia merupakan sebuah negara kesatuan yang terdiri dari suku, budaya dan agama.

Bhineka Tunggal merupakan harga mati dan modal utama untuk kita tetap memegang persatuan dan kesatuan. Semua komponen bangsa harus dapat bergandengan tangan guna mendorong terwujudnya kedamaian dalam perbedaan.

Sebagai negara besar dengan jumlah penduduk yang memiliki corak adat istiadat, agama dan budaya yang beraneka ragam, maka negara Indonesia tentu akan mampu menjadi negara yang solid, kompak dan selalu mengedepan perbedaan dengan saling hormat-menghormati menuju Indonesia satu dengan satu tekad Indonesia adil, makmur dan sejahtera. Kita sebagai anak bangsa harus menjaga dan memegang teguh cita-cita yang telah diwariskan oleh pendiri bangsa, yaitu cita-cita menyatukan Indonesia satu. Semoga kunjungan Presiden Joko Widodo ketanah Papua akan membawa pesan damai khususnya bagi Papua dan Indonesia umumnya menuju Indonesia satu. ***

Sumber: Koran Tangsel Pos, Senin 4 November 2019
Oleh: Oksidelfa Yanto (Dosen Ilmu Hukum Universitas Pamulang Tangerang Selatan)