KEGIATAN PENGABDIAN PKM 2019

Pengetahuan Keuangan, Pembukuan dan Perpajakan Meningkatkan Kualitas Hidup Bagi Masyarakat Di Lingkungan Kedaung

Pamulang (WB) – Di wilayah Kedaung, Pamulang, Kota Tangerang Selatan relatif tidak jauh dari Kampus Universitas Pamulang masih banyak ditemukan kondisi masyarakat yang memerlukan perhatian kita. Kami melihat bahwa masyarakat dalam berwirausaha relatif kurang memperhatikan aspek keuangan yang baik, penatausahaan (pencatatan atau pengadministrasian keuangan) dan perpajakannya yang berperan penting dalam maju tidaknya kegiatan atau aktifitas berdagang/wirausaha yang dilakukan oleh warganya.

Mereka berwirausaha sebatas untuk mencukupi kebutuhan pokok bahkan tidak sedikit yang mengalami kemunduran. Padahal jika banyak warga yang usahanya berkembang atau maju bisa berdampak pada peningkatan perekonomian warga, penyerapan tenaga kerja, dan lain-lain. Kami melihat bahwa kurang berkembangnya kegiatan usaha yang dijalani warga disebabkan diantaranya adanya kekurangpahaman atau keengganan warga bersentuhan dengan lembaga keuangan (d/h perbankan) yang mereka anggap bertentangan dengan kaidah-kaidah agama (d/h bank mengandung riba) atau administrasi yang berbelit.

Disamping itu aspek lainnya adalah tata kelola atau administrasi kegiatan usaha yang masih asing bagi sebagian warga dan dianggap tidak terlalu penting untuk diterapkan karena prinsip yang mereka anut seperti telah disebutkan diatas, akibatnya para warga tidak memiliki perencanaan untuk masa depan usahanya (mengembangbangkan usahanya) dan malah justru yang terjadi sebaliknya cenderung mengalami kemunduran dan kebangkrutan yang akhirnya kondisi inilah menimbulkan pemikiran praktis dari para warga untuk memanfaatkan pinjaman dari para rentenir (d/h Bank Keliling) yang mengakibatkan banyak dari para warga yang sampai menggadaikan/menjual harta benda miliknya bahkan tempat tinggalnya karena terlilit hutang pada rentenir dengan bunga yang diluar kewajaran.

Faktor yang lain yang berperan penting adalah aspek perpajakan yang bagi masyarakat relatif terasa asing  di telinga mereka, padahal menjadi hal yang sangat penting dipahami khususnya bagi warga desa yang kurang terjangkau oleh akses perpajakan, karena disatu sisi pemenuhan kewajiban perpajakan ini menjadi salah satu persyaratan yang berlakukan baik oleh lembaga pemerintah maupun swasta ketika memberikan pelayanan kepada warga serta masyarakat memilki kewajiban (selain hak) sebagai warga negara untuk ikut andil dalam pembangunan melalui pajak.

 

Kegiatan PKM ini diketuai oleh Sapta Setia Darma, S.E., M.Ak dengan narasumber Chaidir Djohar, S.IP, M.M., I Ketut Wenten, S.E., M.M., dan Alexander Raphael, S.Sos, M.Ak, BKP serta melibatkan 3 orang mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Studi S1 Akuntansi.

Sasaran kegiatan PKM berlokasi tidak terlalu jauh dari lingkungan kampus Universitas Pamulang, yakni dilingkungan Kedaung, Kecamatan pamulang, Kota Tangerang Selatan yang struktur masyarakatnya mayoritas berwirausaha, selain itu memiliki tingkat kepadatan yang relatif tinggi.

“Oleh karena sebagai bentuk aktivitas Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang salah satunya Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) para dosen Program Studi S1 Akuntansi Universitas Pamulang, Banten berupaya melakukan kegiatan PKM “Pengetahuan Keuangan, Pembukuan dan Perpajakan Meningkatkan Kualitas Hidup Bagi Masyarakat Di Lingkungan Kedaung, Pamulang, Kota Tangerang Selatan” dari tanggal 26-28 Oktober 2019,” ungkap Sapta.

Sapta juga menambahkan “Kegiatan ini memfokuskan pada pemberian pengetahuan dan keterampilan dibidang keuangan perbankan, pengelolaan keuangan secara sederhana serta perpajakan dengan adanya kegiatan ini diharapkan masyarakat memiliki kesadaran keuangan (bagaimana mengelola keuangan yang baik dan benar sesuai dengan kondisi yang ada termasuk bagaimana mengakses pada perbankan) sehingga akan timbul motivasi untuk mengembangkan atau merintis kegiatan yang bisa memberikan nilai tambah ekonomi, melakukan tata kelola atau administrasi (pencatatan) atas setiap aktifitas usahanya agar semua terdokumentasi dengan baik sehingga mereka bisa mengetahui keluar masuknya uang dari hasil usahanya,” lanjutnya.

Masih kata Sapta “Ini menjadi pegangan untuk merencanakan masa depan aktifitas usahanya dan yang terakhir masyarakat mengetahui dan menyadari peran dan fungsinya sebagai warga negara yang harus ikut andil dalam pembangunan melalui pelaksanaan hak dan kewajiban dibidang perpajakan yang berdampak juga secara tidak langsung bagi kelangsungan usahanya, misalnya ketika masyarakat mengakses fasilitas perbank-an, mengurus ijin berusaha, dan administrasi kependudukan lainnya akan dimintai/salah persyaratannya adalah terkait kewajiban perpajakannya (misalnya NPWP, dan lain-lain),” pungkasnya.

Berdasarkan hasil pengamatan/survey yang telah kami lakukan dengan melakukan kunjungan ke tokoh masyarakat dan pengurus (ketua rukun warga, para ketua rukun tetangga, perwakilan organisasi warga, dan lain-lain) selain untuk bersilaturahmi juga mengadakan tanya jawab, maka diperoleh data sebagai berikut; luas wilayah dilingkungan kedaung sekitar 3 hektar dengan jumlah penduduk berkisar 1500 jiwa, dan dari jumlah ini tediri dari rata-rata tingkat pendidikan masyarakat adalah sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), hampir mencapai 85% nya jumlah penduduk mencari nafkah dengan berdagang atau berwirausaha, selain itu sebagian besar jumlah penduduknya adalah perempuan.

Dari gambaran struktur tersebut berdampak pada atau mempengaruhi pola perilaku masyarakatnya yang cenderung berpikir praktis sehingga relatif tidak terlalu atau memperhitungkan akibat dari tindakannya.

Beberapa permasalahan yang ditemukan atau terjadi diantaranya banyaknya warga yang terjerat rentenir (d/h bank keliling) yang menjadi solusi praktis dan cepat dalam mengatasi permasalahan keuangan atau permodalan yang dihadapi (khususnya bagi para warga yang berwirausaha), kondisi ini terjadi karena kurangnya masyarakat akan pengetahuan dan pemahaman tentang manajeman keuangan atau pengelolaan keuangan, kurangnya mendapatkan akses keuangan atau permodalan, dan sebagai dampaknya masyarakat tidak bisa mengembangkan usahanya karena modal usaha atau pemasukan dana yang diperoleh hanya cukup untuk membayar bunga pinjaman ke renterir yang diluar kewajaran, bahkan ada beberapa warga terpaksa menggadaikan/menjual harta yang sangat berharga yang dimilikinya (misal tempat tinggalnya) untuk membayar hutangnya.

Kegiatan ini dimulai dengan pemberian materi  keuangan dan perbank-an, administrasi keuangan (pencatatan atau pembukuan) dan pajak untuk usaha kecil. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi berupa uraian dan pelatihan/praktek tentang pengelolaaan keuangan untuk usaha kecil dan keluarga,  Dan setelah itu dilanjutkan dengan pemahaman tentang peran dan fungsi pajak (terutama pajak untuk usaha kecil/keluarga) serta hak dan kewajiban pajak yang dimilliki oleh setiap warga sesuai dengan ketentuan yang berlaku (termasuk fasilitas pajak yang bisa dimanfaatkan oleh usaha kecil dan keluarga) disertai dengan memberikan illustrasi berupa langkah-langkah untuk pembuatan identitas pajak, menghitung, membayar dan melaporkan pajak, sehingga pada akhirnya masyarakat menyadari hak dan kewajiban pajak yang dimilikinya.

Para warga yang terdiri dari para tokoh masyarakat, pengurus rukun warga, rukun tetangga, perwakilan lembaga (karang taruna, pendidikan anak usia dini, lembaga masjid, dan lain-lain) menunjukan ketertarikan yang cukup besar dengan mengikuti bagian tiap bagian dari rangkaian kegiatan PKM ini mulai dari awal sampai akhir dan banyaknya pertanyaan, masukan yang disampaikan kepada narasumber, serta pada bagian akhir ada permintaan dari warga untuk melanjutkan kegiatan serupa dan tidak berhenti sampai disini saja. (kiki)

Sumber : wartabanten.id