KEGIATAN PENGABDIAN PKM 2019

BELADIRI (Belajar Debat Berbahasa Inggris Bagi Santri): Upaya Meningkatkan Kemampun Santri Dalam Berbicara

Selain pendidikan, pengajaran dan penelitian, pengabdian masyarakat merupakan salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sebagai realisasi dari Tri Dharma ini, Tim Dosen Sastra Inggris Unpam yang terdiri dari Sukma Septian Nasution, S.Pd., M.Pd (Ketua), Drs. Asep Ahmad Z.A., M.Pd, Abdul Aziz, S.S., M.A., Drs. Suwardi, MM, Bambang Irawan, S.S., M.Pd melaksanakan Pengabdian Masyarakat di Pondok Pesantren Nurul Qur’an, Ciseeng, Bogor pada hari Jum’at, 11 Oktober s/d Minggu, 13 Oktober 2019. Adapun tema yang diusung dalam Pengabdian Masyarakat kali ini ialah “BELADIRI (Belajar Debat Berbahasa Inggris bagi Santri): Improving The Students’ Speaking Skill by Performing Parliementary Debate.”

Selain melibatkan Tim Dosen Sastra Inggris, Pengabdian kepada Masyarakat juga melibatkan beberapa mahasiswa Sastra Inggris diantaranya: Dina Diandora, Arshista Firdiana Pramadita, Rai Rahadi Sularsono, Jihan Safira Amany dan Rahayu Rahmaningsih.

Ketua PKM, Septian Sukma Nasution, mengatakan bahwa karena UNPAM memiliki visi yang menggabungkan sisi humanis dan religious, tentunya PKM yang dilaksanakan juga harus mengejawantahkan dan mengartikulasikan dua aspek itu. Karena itu, dalam penyampaian materi, Septian menegaskan bahwa belajar bahasa ialah sunnah Nabi.

Dalam teks-teks keagamaan, imbuhnya, kita dapat temukan anjuran Nabi atau bahkan perintah Nabi untuk mempelajari bahasa. Misalnya, perintah Nabi kepada sekretarisnya yang bernama Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa Ibrani. Akhirnya, kata Septian, Zaid bin Tsabit pun mempelajari bahasa Ibrani dan dapat menguasanya dalam waktu tujuh belas hari. Karena itu, santri juga, kata Septian, harus menguasai bahasa asing sebagai implementasi dari ajaran-ajaran agama. PKM ini juga menitiktekankan pada kemampuan berbicara dengan materi debat sebagai lokus utamanya.

Di sisi lain, dalam pengarahannya, Drs. Asep Ahmad, Z.A. juga menyampaikan: “kami sampaikan dalam materi tentang debat bahwa para santri agar tidak terpaku kepada persoalan-persoalan grammatika dalam mempelajari bahasa Inggris. Jadi dalam berdebat dengan menggunakan bahasa Inggris, santri tidak boleh takut dan khawatir dengan struktur grammar bahasa Inggris. Memang grammar sangat dibutuhkan dalam skill writing tapi terlalu fokus kepada grammar justru akan menghambat kemampuan berbahasa Inggris lainnya seperti speaking. Grammar akan menghambat kita dengan memberi kekhawatiran yang tidak perlu akan kesalahan.”

Bambang Irawan dalam pemaparannya di hadapan santri mengetengahkan keterkaitan bahasa Inggris dan teknologi. Bambang menekankan bahwa kemampuan berbicara itu sangat penting dalam menghadapi era globalisasi dan teknologi 4.0. Selain itu, grammar baginya juga penting tapi dalam meningkatkan kualitas berbicara grammar jangan jadi kerangka yang dapat memengaruhi aspek pembicaraan. Justru karena itu (penekanan pada grammar), katanya, kemampuan bicara kita menjadi berantakan dan takut akan salah.

Dalam acara ini, di sela-sela materi, santri juga dibagi menjadi beberapa kelompok dan dilatih untuk percaya diri dalam berbicara. ketika membimbing salah satu kelompok santri,  Drs. Suwardi dan Abdul Aziz, menekankan aspek pelafalan dalam bahasa Inggris. Pelafalan atau pronunciation merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran speaking bagi kalangan santri.

Sumber: sasing.unpam.ac.id