OPINI OPINI 2019

Mahasiswa dan Dosen Harus Berkompetisi

BADAN Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi ( BANPT ) awal 2009 mengeluarkan peraturan nomor 2 tahun 2019 tentang format penilaian akreditasi versi 4.0. Format penilaian tersebut secara resmi menggantikan format lama.

  Ada beberapa perbedaan antara format lama dengan format baru tersebut. Format lama menanyakan dalam 7 standar, sedangkan format baru menanyakan dalam 9 kriteria. Selain pada penambahan 2 hal, bukan berarti format baru menjadi mudah. Format tersebut nantinya akan membuat pengelola program studi dan perguruan tinggi direpotkan dengan kriteria yang ditanyakan. Sembilan kriteria tersebut nantinya akan dijelaskan dalam 76 sub-item.

Rumitnya format penilaian akreditasi program studi membuat lebih dari 8.000 program studi mengajukan akreditasi dan reakreditasi di awal 2019. Rektor Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Johanes Eka Priyatna, M,Sc., Ph.D. menyebut format tersebut menghantui para pengelola perguruan tinggi. Para pengelola takut menghadapi format baru. Beda penilaian maka akan merubah kriteria penilaian dan hasil akreditasi nantinya.

Beberapa perbedaan kriteria penilaian salah satunya pada kualitas kerjasama, prestasi mahasiswa, keberadaan mahasiswa asing, kualitas output, kesibukan mahasiswa dan dosen dalam tridharma dan inovasi.

Kerjasama yang dilakukan perguruan tinggi tidaklagi terletak pada banyak dalam jumlah. Versi baru menuntut kerjasama agar lebih berkualitas satu kerjasama yang memiliki banyak tindaklanjut akan sangat berharga daripada sepuluh kerjasama tanpa diikuti tindaklanjut. Kedepannya, program studi tidak bisa hanya mengejar MoU yang sudah disepakati.

Prestasi mahasiswa saat ini tidaklagi pada prestasi akademik dan non-akademik saja. Prestasi dijabarkan menjadi bagaimana keterlibatan mahasiswa dalam tridharma perguruan tinggi. Mahasiswa harus terlibat aktif dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hasil dari kegiatan tersebut harus dibuat publikasi dalam minimal jurnal nasional terakreditasi.

Apakah berhenti sampai disitu? Tidak. Publikasi harus dibuatkan hak paten dan di integerasikan dalam pembelajaran. Untuk melihat publikasi mahasiswa, setiap publikasi nantinya akan dilihat bagaimana jumlah sitasinya selama 3 tahun terakhirnya. Sitasi merupakan bentuk pengakuan oleh penulis lain bahwa penulis tersebut berkualitas sehingga layak untuk dikutip orang lain.

Mahasiswa pun harus turut serta berperan dalam menyumbangkan ide kreatif nya dalam bentuk opini publik, esai, dan kolom di media massa. Poin ini menjadi salah satu tantangan setiap perguruan tinggi. Terutama pada mahasiswa dengan jumlah mahasiswa yang banyak. 10% dari jumlah mahasiswa di Indonesia tidak sebanding dengan media massa yang ada. Maka dari itu, baik dalam seminar nasional, maupun internasional. Mahasiswa tidak lagi sebagai pendengar melainkan terlibat langsung.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa tidak lagi hanya sebatas kuliah-pulang. Melainkan bagaimana mengimplementasikan ilmu yang di dapatnya untuk membantu mencarikan solusi di masyarakat. Jika mahasiswa memiliki tugas sebanyak itu, lantas bagaimana dengan dosennya?

Jika beban mahasiswa minimal 10% dari total mahasiswa harus berprestasi, maka dosen harus 100% berprestasi. Prestadi dalam bidang pengajaran seperti menyusun buku ajar, menerbitkan buku, dalam bidang penelitian harus melahirkan inovasi dan publikasi ilmiah. Begitu juga dalam pengabdian masyarakat.

Itu mengapa diatas saya sebutkan bahwa mahasiswa dan dosen harus saling berkompetisi. Siapa yang lebih banyak berkarya. Apakah dosen ataukah mahasiswa. Tentu ini akan menjadi tantangan menarik kedepan. Nantinya akan muncul perguruan tinggi/program studi yang lebih berkualitas. Bisa jadi, program studi yang saat ini terakreditasi akan turun ke B bahkan ke C. Atau sebaliknya, yang tadi C bisa ke B atau ke A. Hal itu mungkin terjadi karena format penilaian yang berbeda dengan yang sebelumnya.

Sumber : Koran Tangsel Pos