OPINI OPINI 2019

Mengatasi Macet di Tangsel

Tangsel sebagai kota penangga Jakarta dengan jumlah penduduk 1,6 juta jiwa pada 2017 memiliki sejumlah masalah kemacetan yang perlu diselesaikan. Macet selalu terjadi di kota besar. Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor dan lebar jalan kecil menjadi salah satu faktor. Namun, bagaimana dengan Tangsel?

Pertumbuhan penduduk di Tangsel sendiri mengalami peningkatan selama 3 tahun terakhir. Selain faktor kelahiran juga karena urbanisasi. Berkembangnya Tangsel sejak menjadi kota mandiri memikat masyarakat untuk membeli properti di Tangsel.

Penjualan perumahan dan apartemen di Tangsel masih sangat tinggi. Selain karena dekat dengan Jakarta, juga dibarengi dengan adanya fasilitas umum seperti pendidikan, rumah sakit, stasiun kereta api, dan juga jalan tol. Dalam hal pendidikan, Tangsel memiliki 3 perguruan tinggi yang mahasiswanya skala nasional yaitu UNPAM, UIN Jakarta, dan UMJ. UNPAM memiliki 72.571 mahasiswa. UIN Jakarta memiliki 33.291 mahasiswa, dan UMJ memiliki 22.672 mahasiswa. Lebih dari 128 ribu mahasiswa tertuju ke Tangsel.

Kepemilikan kendaraan bermotor di Tangsel bertambah setiap tahunnya. baik kendaraan baru maupun kendaraan bekas. Pemkot tentu tidak bisa melarang atau membatasi kepemilikan tersebut. Selain menjadi pemasukan daerah juga kepemilikan kendaraan menjadi hak individu.

Masyarakat memilih memiliki kendaraan pribadi agar mudah kemana-mana. Masyarakat bisa menghemat biaya transportasi. Berbeda dengan menggunakan angkutan umum yang panas dan sering ugal-ugalan. Selain itu, menggunakan angkutan umum dari dan ke Tangsel harus banyak transit. Selain merepotkan juga membuat ongkos jadi membengkak. Pemkot memang tidak bisa melarang masyarakat memiliki kendaraan bermotor, namun bisa menggiring minat masyarakat kepada angkutan umum.

Permasalahan kemacetan di Tangsel karena tidak adanya angkutan umum yang langsam (langsung sampai). Selain itu, juga kebijakan dinas perhubungan terkait angkutan umum di Tangsel sangat aneh. Semua rute angkutan umum di Tangsel sangat tanggung. Jadinya, masyarakat harus banyak transit. Mahasiswa dari kota lain harus menggunakan kendaraan pribadi karena ogah menggunakan angkutan umum. Biaya yang dikeluarkan apabila menggunakan sepeda motor jauh lebih murah daripada menggunakan angkutan umum. Sehingga lebih memilih bermacet-macetan daripada keluar biaya besar. Contohnya, mahasiswa UNPAM yang tinggal di cinangka. Mereka kuliah harus tiga kali naik angkot. Cinangka ke Gaplek harus bayar Rp. 3.000. Gaplek ke Pamulang harus bayar Rp. 3.000. Dan Pamulang ke Muncul harus bayar Rp. 5.000. Mahasiswa harus mengeluarkan Rp. 22.000 untuk kuliah setiap harinya. Atau setara dengan membeli 3 liter bahan bakar jenis Pertalite. Akhirnya ia memilih menggunakan sepeda motor karena 3 liter bahan bakar bisa untuk 4 kali ke kampus.

Bus APTB juga memiliki rute yang tanggung. Bus dari Tosari dan Kampung Rambutan bisa diperpanjang sampai Terminal Pondok Cabe. Begitu juga Bus Grogol-BSD rutenya bisa diperpanjang sampai terminal Pondok Cabe juga. Apalagi semua Bus APTB di Tangsel mengisi bahan bakar di Cinangka.

Terminal Pondok Cabe sudah melayani Transjakarta rute Pondok Cabe-Tanah Abang. Namun ada peraturan tidak boleh menaikturunkan penumpang sepanjang Cireundeu Raya hingga terminal Pondok Cabe. Warga Cireundeu harus naik angkot terlebih dahulu ke Pondok Pinang agar bisa menggunakan TransJakarta.

Pemkot memiliki banyak armada Trans Anggrek yang disediakan gratis untuk warga. Trans Anggrek yang menghubungkan RawaBuntu-Terminal Pondok Cabe setiap hari membawa angin. Padahal biaya operasional bus tersebut setiap bulannya sangat besar namun tidak memiliki manfaat. Masyarakat tidak bisa memanfaatkan karena tidak tahu cara menggunakannya. Terminal Pondok Cabe pun hanya menjadi tempat tidur sopir dan kondektur bus AKAP.

Selain angkutan jalan raya, Tangsel  juga dilintasi kereta api. Banyak warga Tangsel yang pergi bekerja menggunakan jasa KRL. Namun, mahasiswa dari luar Tangsel hanya yang dari arah barat saja yang menggunakan KRL. Mahasiswa dari Jakarta dan Bekasi lebih memilih menggunakan sepeda motor dari pada menggunakan KRL yang harus 2 kali transit; di Tanah Abang dan Manggarai.

KRL Serpong-Tanah Abang masih bisa diperpanjang sampai Bekasi via Pasar Senen tanpa menganggu perjalanan Kereta api (perka). Sehingga mahasiswa UIN Jakarta, UMJ dan UNPAM yang datang dari Bekasi tidak perlu transit di Tanah Abang dan Manggarai. Mahasiswa UIN Jakarta bisa turun di Pondok Ranji dan disambung dengan ojek online ataupun angkot. Mahasiswa UNPAM juga bisa turun di Rawabuntu sambung angkot, ojek online atau Trans Anggrek.

Mengoptimalkan Trans Anggrek yang bersinggungan dengan rute angkot memang susah. Ditambah lagi halte yang dibangun tahun 2010 malah mangkrak. Mengoptimalkan Trans Anggrek bisa jadi sopir angkot marah. Pemkot melalui dinas perhubungan perlu meninjau kembali trayek angkot di Tangsel agar angkot bisa mengintegrasikan kampung dengan halte bus dan stasiun KA. Sehingga masyarakat keluar gang bisa memberhentikan angkot untuk mengantarkan ke halte atau stasiun terdekat. 

Masyarakat memang harus dibiasakan menggunakan angkutan umum. Namun itu akan terjadi apabila sistem transportasi massal di Tangsel sudah tertata dengan baik. Setidaknya sambil menunggu MRT beroperasi sampai Rawabuntu. Ketika masyarakat sudah beralih menggunakan angkutan umum, tentu masalah macet tidak akan ada lagi. (*)

Sumber: Koran Tangsel Pos tanggal 4 September 2019
Oleh: Misbah Priagung Nursalim, M.Pd. (Dosen UNPAM dan Pemerhati Transportasi Publik)