OPINI OPINI 2019

Rektor Asing, Ristekdikti, dan PSSI

M. Nafsir beranggapan bahwa rector asing dapat meningkatkan mutu Pendidikan tinggi ditingkat global dan apartisipasi kasar mahasiswa asing di Indonesia. Apakah hal itu bisa tercapai?

Mutu dan rektor asing sama sekali tidak memiliki korelasi. Karena mutu merupakan akibat. Sedangkan rektor asing adalah subjek. Mutu didapat tergantung kebijakan yang dibuat. Artinya, jika ingin mengejar mutu Pendidikan tinggi di Indonesia maka hanya diperlukan kebijakan yang tepat sasaran.

Beberapa tahun terakhir, Ristekdikti selalu menggaungkan perihal World Class University ( WCU ) ditengah partisipasi kasar masyarakat terhadap Pendidikan tinggi masih sangat minim. Minim nya pertisipasi kasar salah satunya terbentur oleh masalah biaya kuliah yang mahal. Standar Ristekdikti Rp. 18,5 Juta/tahun/individu. Tentu yang bisa kuliah hanya orang kaya.

Anak yang dilahirkan dari keluarga kaya tanpa kuliah pun sudah pintar. Mereka sejak kecil sudah mengikuti berbagai macam les dan asupan bergizi. Anak-anak seperti inilah yang dicari oleh perguruan tinggi negeri ( PTN ) untuk mengejar predikat WCU. Sedangkan anak yang lahir dari keluarga biasa biasa saja harus berjuang untuk mendapat beasiswa pemerintah yang jumlah nya terbatas. Apalagi sejak 2017, beasiswa untuk program humaniora kuotanya dikurangi.

Kebutuhan rektor asing sejatinya belum perlu dilakukan oleh pemerintah sebelum masalah partisipasi masyarakat terhadap Pendidikan tinggi belum maksimal. Pemerintah perlu membuat kebijakan untuk meningkatkan partisipasi kasar tersebut, salah satunya menambah beasiswa bagi masyarakat miskin. Percuma jika PTN di Indonesia masuk WCU namun yang belajar disana bukan orang Indonesia. Indonesia hanya punya tempat saja tanpa bisa menikmati. Kalaupun ada yang menikmati pun hanya segelintir saja.

Jang Youn Cho memang memiliki prestasi gemilang didunia akademik. Namun, kepiawaian nya memimpin perguruan tinggi di Indonesia perlu dipertanyakan. Indonesia memiliki kultur yang berbeda dengan negara lain. Tidak selalu yang asing berkualitas itu mampu membawa prestasi bagi Indonesia. Saya ambil contoh PSSI. Masyarakat pasti tahu federasi sepakbola Indonesia yang satu ini. Sudah lama tim sepakbola Indonesia baik timnas maupun klub yang diarsiteki oleh pelatih asing namun melempem ditingkat internasional.

Tahun 2011 Ketum PSSI, Djohar Arifin Husin secara sepihak memecat Alfried Riedl dan menggantinya dengan Wim Rijcsbergen yang pernah sukses membawa Trinidad & Tobago ke ajang Piala Dunia 2006 di Jerman. Namun saat melatih Timnas Indonesia malah dibantai habis pada babak kualifikasi. Tahun 1996, Klub Pelita Jaya mendatangkan Mario Kempes sebagai pemain namun tidak dapat menaikkan peringkat klub. Ada banyak pelatih asing di Indonesia namun tidak bisa mengangkat prestasi Indonesia. Artinya kualias orang asing dan orang Indonesia masih setara. Ristekdikti perlu belajar dari PSSI yang rutin merekrut pemain dan pelatih asing namun kualitas tak kunjung meningkat.

Ristekdikti hanya perlu mendorong setiap perguruan tinggi untuk berpartisipasi nyata dalam membangun bangsa. Masalah yang ada di Indonesia itu sangat kompleks. Jika setiap perguruan tinggi mampu mengurai masalah tersebut dan bisa diterapkan cara konsisten tentu kualitas perguruan tinggi akan meningkat.

Pemerintah mewajibkan setiap dosen dan mahasiswa melaksanakan tridharma setiap semester beserta luarannya. Mereka melaksanakan Pendidikan, menemukan dan menerapkan teori dalam penelitian, serta mengaplikasikan nya dalam pengabdian kepada masyarakat. Setelah melakukan ketiga hal itu kemudian mempublikasikan dalam bentuk minimal prosiding, jurnal ilmiah lantas hak cipta.

Setiap dosen berlomba lomba mempublikasikan dalam bentuk jurnal ilmiah terindeks scopus dengan biaya publikasi yang sangat mahal. Siapa yang membaca? Masyarakat Indonesia jarang yang membacanya. Mahasiswa dan dosen melakukan riset dengan dana milyaran. Hasilnya siapa yang merasakan? Tidak ada, karena hasil riset mayoritas disimpan sendiri. Sedangkan dampak mahasiswa dan dosen melakukan pengabdian kepada masyarakat sangat sedikit. Hal itu karena pengabdian sangat sebatas menggugurkan kewajiban dan menyerap dana pemerintah sebesar besarnya. Setiap tahun pemerintah mengadakan diklat dan bimtek namun hasilnya nihil.

Selama ini anggaran dari pemerintah untuk Pendidikan tinggi hanya terbuang sia sia dan tidak memiliki dampak positif yang berarti bagi masyarakat pada umumnya. Ditengah kesemrawutan pengeolaan yang seperti ini muncullah wacana rektor asing mampu menghadirkan dampak positif Indonesia? Ataukah hanya mengejar peringkat WCU saja kita tidak tahu. Tetapi yang jelas, perguruan tinggi harus memberikan dampak positif minimal bagi masyarakat di daerah domisili perguruan tinggi tersebut. ( * )

Sumber : Koran Tangsel Pos, tanggal 30 Agustus 2019
Oleh: Misbah Priagung Nursalim, M.Pd.