OPINI OPINI 2019

Guru Fungsinya apa?

Guru, merupakan profesi yang dulu banyak dicita-citakan oleh anak-anak tahun 90-an. Setiap ditanya cita-cita, lekas anak-anak akan menjawab ingin menjadi guru, kemudian diikuti ingin menjadi pilot atau dokter.  Mengapa?

karena dahulu guru dipandang sebagai cerdik-pandai dan memungkinkan untuk digapai. Berbeda dengan dokter dan pilot yang pencapaiannya membutuhkan biaya yang mahal. Selain itu, guru bisa menyelesaikan setiap materi yang sulit dan mencontohkan akhlak yang baik bagi peseerta didik sehingga terlihat keren.

Anak 90-an yang dulu bercita-cita sebagai guru saat ini banyak yang sudah menjadi guru. Ada juga yang dulu tidak bercita-cita menjadi guru juga ada yang memilih akhirnya menjadi guru. Susahnya mencari kerja sebagai alasan menjadi guru; daripada nganggur. Tentunya ini sangat miris.

Bagi orang jawa, guru merupakan akronim dari digugu lan di tiru. Segala tutur dan tindak tanduknya menjadi contoh peserta didik. Menjadi guru butuh penempaan bertahun-tahun di falkultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan ( FKIP ). Namun, saat ini banyak guru yang bukan lulusan FKIP. Lulusan apapun bisa menjadi guru, asal sarjana. Ada yang lulusan ekonomi mengajar sekolah dasar. Ada juga yang lulusan geologi mengajar pramuka.

Ada juga yang memang menguasai ilmu sesuai bidangnya, namun ilmu pedagogiknya belum tentu paham. Contohnya, lulusan linguistic pasti paham tata bahasa inggris dan bisa jadi lebih ahli dari yang lulusan Pendidikan. Hal itu karena anak linguistik belajar tata Bahasa secara detail, berbeda dengan Pendidikan Bahasa inggris yang hanya dasar-dasarnya saja. Namun, lulusan Pendidikan Bahasa inggris tadi belajar nilai-nilai pedagogic yang tidak dipelajari anak linguistik. Belajar menyusun silabus dan bahan ajar bisa dilakukan melalui diklat namun belajar nilai pedagogik tidak bisa dilakukan secara instan. Hal ini yang perlu pemerintah dan orangtua murid sadari. Ada banyak guru di Indonesia yang bukan lulusan Pendidikan. Masalah ini menjadi salah satu indikator tidak berkembangnya Pendidikan Indonesia. Dana Pendidikan setiap tahun naik tetapi kualitas Pendidikan tidak kunjung membaik.

Pemerintah dan Yayasan pengelola Pendidikan perlu memperhatikan rekrutmen guru. Menjadi guru tidak bisa karena titipan orangtua. Apalagi menjadi guru karena sudah tidak diterima kerja dimana-mana.

Ada kebijakan tidak langsung didunia Pendidikan dasar yang tampak aneh saat ini; anak hendak masuk sekolah dadar ( SD ) harus bisa membaca. Sementara Pendidikan prasekolah tidak memperbolehkan kanak-kanak belajar membaca, menulis, dan menghitung ( calistum ). Akhirnya orangtua murid memasukkan anaknya ke tempat bimbingan belajar ( bimbel ).

Saat ini, jumlah bimbel menjamur di setiap Kecamatan, rata-rata bimbel tersebut dikelola oleh guru. Artinya, ada kemungkinan praktik kotor disini, guru mengajarkan materi setengah jadi di sekolah, kemudian dimatangkan di tempat bimbel. Meskipun sekolah gratis, orangtua tetap harus mengeluarkan biaya bimbel bagi anak-anaknya. Anak-anak yang tidak mengikuti bimbel akan ketinggalan materi pelajaran karena materi dikelas dengan materi bimbel berlanjut. Maka dari itu, mau tidak mau anak harus belajar di bimbel. Jika ini terus berlanjut, dikhawatirkan tidak adanya kepercayaan masyarakat kepada sekolah formal.

Revolusi industri 4.0 tidak mensyaratkan ijazah untuk bisa menghasilkan uang. Orang yang punya keterampilan memumpuni maka saling bersaing di dunia industri. Orang yang mempunyai bakat dagang maka akan menguasai pasar dan bisnis. Menjadi youtuber tidak melampirkan ijazah. Begitu juga menjadi pedagang online, juga tidak ditanyakan ijazah.

Jika guru masih seperti saat ini, maka dimasa depan sekolah akan semakin disingikirkan. Materi dari guru bisa diunduh siswa melalui tutorial youtube maupun google. Tetapi, nilai-nilai pedagogik tidak bisa didapat dari internet. Artinya, guru harus memiliki inovasi dan dalam mengajar. Jika tidak, guru akan dipandang sebelah mata sehingga sekolah tidak lagi diminati. Akhirnya, guru menganggur lagi.

Fungsi Pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun jika sekolah hanya menerima yang bisa calistum untuk diterima di sd negeri, untuk apa fungsi guru dan sekolah? Jika sekolah negeri hanya mencari anak yang pintar, lantas bagaimana dengan anak yang belum pintar?

Dibeberapa kota besar, animo di masyarakat kepada sd negeri cenderung turun. Kalaupun ramai karena sd negeri spp nya gratis. Sedangkan animo untuk Pendidikan menengah masih tinggi karena sekolah menengah swasta lebih menekankan pekerti dan kegiatan ekstrakurikuler, sehingga sd swasta mampu menggeser kepopuleran sd negeri. Masyarakat rela membayar spp namun tidak mensyaratkan bimbel bagi anak-anak. Pemerintah melalui dinas Pendidikan perlu turun kebawah melihat situasi ini, karena masyarakat tidak melihat gratis. Sekolah harus melahirkan kreatifitas siswanya. Sekolah negeri harus memiliki nilai lebih dimata orangtua murid dan guru memiliki fungsi mencerdaskan masyarakat. (*)

Sumber : Koran Tangsel Pos