OPINI OPINI 2019

Kursi Menteri Dari Kalangan Anak Muda

Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 30 Mei 2019 telah menetapkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan wakil Presiden Republik Indonesia terpilih untuk masa bakti 2019-2024. Kini keduanya tinggal menunggu pelantikan yang jika tidak ada aral melintang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2019. Pasca penetapan tersebut sejumlah wacana tentang calon menteri kabinet pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin mulai ramai dibicarakan berbagai kalangan. Termasuk kursi menteri yang akan diisi dari kalangan anak muda. Wacana ini didasari dari keinginan adanya akomodasi terhadap kaum muda (milenial) yang berusia 20 tahun keatas.

Lalu apakah figur anak muda akan jadi mengisi kursi kabinet Joko Widodo-Ma’ruf Amin 2019-20124? Atau apakah ini hanya sebuah wacana yang sulit untuk direalisasikan? Mengingat berbagai pertimbangan yang ada. Misalnya, soal kemampuan manajerial, kemampuan mengeksekusi program-program yang ada sebagaimana Presiden Joko Widodo syaratkan. Entahlah! Semua masih serba teka-teki. Semuanya tergantung kepada Presiden terpilih sebagai kepala negara yang memiliki hak prerogatif tertinggi.

Mempertimbangkan figur muda untuk duduk dalam kursi kementerian merupakan tren baru dalam sistem pemerintahan dan politik Indonesia. Di sejumlah negara tren ini sudah diberlakukan. Sebut saja misalnya negara tetangga Malaysia. Mahatir memilih Syed Saddiq Syed Abdul Rahman yang baru berusia 25 tahun untuk menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia pada tanggal 2 Juli 2018. Bahkan Uni Emirat Arab, menunjuk Shamma al Mazrui sebagai Menteri Urusan Kepemudaan negara tersebut pada usia 22 tahun.

Memberi tempat buat anak muda masuk ke dalam jajaran kabinet pemerintah tentu sah-sah saja. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Selama kalangan muda yang ditunjuk sebagai pembantu Presiden di kabinet orang yang dianggap cakap, layak dan kompeten hal ini merupakan sesuatu yang harus diberikan apresiasi. Sebab hal ini dapat membuka peta jalan dalam mencari kaderisasi kepemimpinan nasional untuk Indonesia masa depan. Ketika duduk di kabinet sebagai menteri, mereka anak muda nantinya akan ditempa dan diuji kemampuan kepemimpinannya. Apalagi anak muda memiliki pola pikir yang penuh dengan ide dan kreatifitas yang cemerlang. Kalangan muda lebih cepat memahami hal-hal yang baru di sekitarnya dan diharapkan cepat bertindak untuk membuat suatu kebijakan, yang tentunya menguntungkan rakyat banyak. Ditambah saat ini begitu banyak anak muda yang meminati dunia politik. Kita bisa melihat, banyak kalangan muda yang ikut dalam kepengurusan partai politik. Anak muda juga banyak yang duduk sebagai anggota dewan, baik pusat atau daerah. Kalangan muda juga mampu memenangkan proses politik dalam berbagai pemilihan kepala daerah. Baik tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota. Kemenangan anak muda dalam pemilihan kepala daerah, menandakan bahwa rakyat menaruh harapan kepada kaum muda untuk tampil sebagai pemimpin. Dalam dunia politik pasangan Emil-Nur Arifin menjadi pasangan termuda dalam pilkada Trenggalek 2015. Mereka berdua berhasil menjadi Bupati dan wakil Bupati termuda di Indonesia. Saat ini Emil Dardak termasuk salah satu wakil Gubernur termuda di Indonesia.

Kalangan muda lain yang tidak kalah hebatnya adalah mereka yang sukses dalam dunia bisnis dan pada akhirnya memberikan kontribusi kesempatan kerja bagi masyarakat. Nama Nadiem Makarim pendiri Gojek dan Achmad Zaky menjadi founder Bukalapak yang patut diberikan apresiasi. Mereka berhasil meraih kesuksesan dengan memanfaatkan derasnya arus perkembangan teknologi informasi. Mereka adalah sosok muda yang menjadi inspirasi banyak orang lewat dunia usaha.

Melihat prestasi yang mereka ukir, tentu hal ini bisa dijadikan pertimbangan bahwa anak muda adalah orang yang pantas masuk dalam jajaran kabinet di pemerintahan. Meskipun hal ini perlu ada pertimbangan lainnya yang tidak kalah pentingnya. Misalnya masalah pendidikan atau juga kematangan dalam berpolitik, bahkan juga emosional. Menteri mestinya memiliki wawasan politik yang mumpuni. Sebab nantinya dalam ranah politik RUU yang diajukan Presiden disiapkan oleh menteri. Faktor pendidikan juga menjadi penting karena peran seorang menteri sangatlah strategis sebagai penentu kebijakan. Peran seorang menteri dalam melahirkan kebijakan-kebijakan yang sesuai bidang keilmuannya merupakan kebijakan yang selalu diharapkan rakyat untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Untuk itu seorang menteri haruslah profesional di bidangnya dan punya kredibilitas yang tidak diragukan.

Semoga persoalan ini menjadi perhatian Presiden terpilih. Presiden jangan hanya mempertimbangkan kepentingan politik tertentu yang tidak merakyat dan menempatkan orang muda sebagai menteri namun menteri tersebut tidak memiliki keahlian dan kecakapan yang mumpuni dibidangnya. Apalagi posisi kementerian yang strategis. Misalnya menteri kelautan dan perikanan. Dalam menjalankan tugasnya menteri kelautan dan perikanan harus dapat memahami dan menwujudkan tercapainya visi misi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Serta yang tidak kalah penting dapat menjadikan laut sebagai masa depan bangsa. 

Pada akhirnya tidak dapat dipungkiri bahwa jabatan menteri merupakan sebuah jabatan yang sangat terhormat dan sudah pasti orang yang menyandang jabatan tersebut harus mumpuni. Apakah kalangan muda akan dilirik dan kemudian diberi kursi dalam pemerintahan Joko Widodo-KH Maruf Amin. Mari sama-sama kita tunggu.***

Sumber: Koran Tangsel Pos Selasa, 23 Juli 2019
Oleh: Oksidelfa Yanto (Dosen Universitas Pamulang Tangerang Selatan)