OPINI OPINI 2019

KPPS dan Gugurnya Pejuang Demokrasi

Warga memanggilnya dengan sebutan Opa. Opa adalah ketua Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) pada Tempat Pemungutan Suara (TPS) 083 disalah satu kompleks Perumahan di kawasan Kota Depok. Menjelang dan sesudah pemungutan suara Opa terlihat sangat sibuk menjalankan tugas yang diamanatkan kepadanya bersama petugas KPPS lainnya. Bahkan setelah pemungutan suara selesai dilakukan, Opa dan petugas KPPS harus menghitung jumlah suara hingga tengah malam bahkan sampai masuk menjelang waktu subuh. Selanjutnya kotak suara harus diantar ke kantor Kelurahan setempat. Tidak dapat dibayangkan betapa lelahnya Opa dan petugas KPPS lainnya. Namun lagi-lagi karena tugas negara, Opa dan petugas KPPS harus menyelesaikannya demi suksesnya pesta demokrasi untuk masa depan bangsa dan negara Indonesia.

Pantaskah Opa dan petugas KPPS lainnya yang tersebar di banyak Kelurahan, Kabupaten, Kotamadya dan Provinsi dijuluki pekerja tangguh yang memiliki semangat nasionalisme yang tinggi? Agaknya, sebutan tersebut hemat penulis sangat tepat diberikan selama petugas KPPS melaksanakan pekerjaan dengan baik, benar serta penuh tanggungjawab dan menjauhi kecurangan atau ketidakadilan. Mereka adalah anak bangsa terbaik yang tanpa kehadirannya alhasil pemungutan suara dalam perhelatan akbar bernama pemilu akan dapat terlaksana. Patut kita acungkan jempol dan rasa bangga kepada petugas KPPS yang sudah bekerja sangat luar biasa tanpa mengenal lelah. Meninggalkan waktu bersama keluarga selama bertugas, demi untuk negeri Indonesia tercinta.

Opa dan petugas KPPS saat pemungutan suara hingga pesta demokrasi selesai alhamdulilah diberikan kesehatan yang baik oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun dibeberapa daerah lain akibat kelelahan beberapa petugas KPPS berpulang kehadirat Allah SWT. Kabar duka menyelimuti perjalan pesta demokrasi di Indonesia. Masyarakat bersedih, menyampaikan duka yang mendalam.

Berita duka meninggalnya petugas KPPS tersebut menghiasi pemberitaan media massa. Presiden Joko Widodo menyampaikan dukacita mendalam atas meninggalnya sejumlah petugas KPPS dan aparat lainnya dalam Pemilu 2019. Bahkan Presiden Joko Widodo menyebut petugas KPPS yang meninggal sebagai pejuang demokrasi.

Disamping petugas KPPS, Badan Pengawas Pemilu menyampaikan  terdapat 14 anggota pengawas pemilu yang meninggal dalam perhelatan pemilu tahun ini. Keempat belas pengawas pemilu yang meninggal itu terdapat di 5 provinsi dan 11 kabupaten/kota. Terdapat 14 orang yang meninggal, 85 orang dirawat inap karena sakit (tersebar di 21 provinsi, 14 kabupaten/kota), 137 orang rawat jalan (tersebar di 20 provinsi, 52 kabupaten/kota), 74 orang mengalami kecelakaan saat tugas (tersebar di 20 provinsi, 47 kabupaten/kota), dan 15 orang mengalami tindak kekerasan (tersebar di 11 provinsi, 14 kabupaten/kota). (Pikiran Rakyat, 21/4/19).  

Baik petugas KPPS dan pengawas pemilu yang gugur dalam tugas pantas disebut sebagai pejuang demokrasi sebagaimana Presiden Joko Widodo sampaikan. Mereka juga pekerja tangguh yang memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Pekerja penyelenggara pemilu terutama pada saat penghitungan suara di tingkat TPS membutuhkan pikiran dan tenaga yang super ekstra. Petugas KKPS bekerja mulai pagi hingga dini hari bahkan hingga subuh.  Akibatnya, banyak anggota KPPS kelelahan. Inilah yang membuat beberapa diantara mereka yang memiliki riwayat sakit kambuh, bahkan sampai ada yang meninggal dunia.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengakui, pekerjaan sebagai pengawas Pemilu sangat berat, berisiko tinggi, dan menguras tenaga. Tugas yang diemban oleh jajaran Pengawas Pemilu  disebutnya sangat penting dalam mengawal kualitas penyelenggaraan Pemilu. (Pikiran Rakyat, 21/4/19).

Gugurnya para pejuang demokrasi dalam tugas tentu akan menjadi ladang pahala bagi mereka. Petugas KPPS yang gugur dalam menjalankan tugas sudah dicatatkan oleh Allah SWT kebaikannya. Balasan kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali hingga tujuh ratus kali kebaikan bahkan sampai tak terhingga. Pelipatgandaan satu kebaikan menjadi sepuluh, berlaku bagi seluruh kebaikan. Ini ditunjukkan oleh firman Allâh Azza wa Jalla, yang artinya, “Barangsiapa berbuat kebaikan, maka dia mendapatkan balasan sepuluh kali lipat amalnya.” (al-An’âm/6:160).

Mengakhir tulisan ini, suatu hal yang harus diyakini oleh semua manusia adalah tidak satupun manusia mampu menghindari kematian dan tidak ada juga manusia yang mampu menunda ataupun mempercepat kematian. Kematian adalah terputusnya hubungan roh dengan jasad, dan menyebabkan terhalangnya hubungan antara ke duanya, ketika kematian datang pada manusia maka, terputuslah hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya (Al- Qurtubi, 2005). Sekarang, bagaimana yang masih hidup mendoakan semoga amal ibadah petugas KPPS dan panwaslu yang gugur dalam menjalankan tugas diterima disisi Sang Pencipta dan keluarga yang ditinggalkan dapat tabah menghadapinya. Selamat jalan pejuang demokrasi. Semoga semua kebaikanmu akan dicatat Allah SWT dan mendapatkan balasan setimpal. Semoga.***

Sumber: Koran Tangsel Pos, Senin 26 April 2019
Oleh: Dr. Oksidelfa Yanto.,S.H.,M.H. (Dosen Universitas Pamulang Tangerang Selatan)