OPINI OPINI 2019

Menanti Pemimpin Pilihan Rakyat Pasca Pemilu

Bangsa Indonesia telah selesai melaksanakan Pemilah Umum (pemilu) serentak pada tanggal 17 April kemaren. Banyak cerita mengisahkan pelaksanaan perhelatan akbar lima tahunan tersebut. Mulai dari surat suara yang tidak terdistribusi, sampai kepada adanya masyarakat yang tidak dapat menyalurkan hak suaranya karena tidak ada di daftar pemilih tetap.

Apapun cerita mengenai pelaksanaan pemilu tersebut, satu hal yang patut diacungkan jempol adalah  pemilu yang digelar disambut antusias masyarakat dan berjalan dengan lancar, damai dan aman. Tidak salah kemudian Diplomat Australia Gary Quinlan memberikan selamat kepada Indonesia yang berhasil menjalankan pemilu Presiden dengan lancar. Bahkan Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan mengungkapkan dari hasil pantauannya disejumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Jakarta tingkat partisipasi masyarakat cukup tinggi yaitu  rata-rata diatas 70-80 persen. Padahal target tingkat partisipasi pemilih pada pemilu serentak kemaren adalah 77,5 persen, sementara pada pemilu Presiden 2014 adalah 69,58 persen. (Sindo, 18/4).

Dari gambaran diatas, ada kenaikan dari tingkat partisipasi masyarakat terhadap pemilu 2019 ini dibandingkan pada pemilu sebelumnya. Kondisi ini membuktikan masyarakat semakin menyadari betapa sangat berharga dan pentingnya suara mereka untuk menentukan pemimpin masa depan bangsa lima tahun kedepan. Masyarakat semakin menunjukkan kepeduliannya kepada pesta demokrasi untuk Indonesia lebih baik pada masa- masa mendatang.

Dengan telah selesainya masa pencoblosan, kini rakyat tinggal menunggu hasil akhir penghitungan suara, meskipun hitungan sementara hasil quick count yang di gelar beberapa lembaga survei menunjukkan pasangan nomor satu mengungguli pasangan nomor dua. Rakyat tetap harus bersabar menunggu keputusan badan resmi penyelenggara pemilu. Lalu siapa kira-kira yang akan tampil memimpin Indonesia lima tahun kedepan? Siapakah Presiden pilihan rakyat lima tahun kedepan? Entahlah! Semua masih serba teka teki, sebab kita masih menunggu keputusan akhir Komisi Pemilihan Umum (KPU). KPU akan mengumunkan Presiden dan wakil Presiden pilihan rakyat hasil pemilu setelah proses penghitungan suara secara nasional selesai. Sebagai rakyat yang cinta Indonesia, siapapun pasangan calon Presiden dan wakil Presiden yang tampil sebagai pemimpin berdasarkan keputusan KPU, sejatinya adalah Presiden dan wakil Presiden seluruh rakyat Indonesia. Kemenangan mereka merupakan kemenangan seluruh rakyat Indonesia yang sudah secara bersama-sama memperjuangan demokrasi untuk mendapatkan pemimpin.

Untuk itu, pemimpin yang dihasilkan dalam pilpres 2019 ini merupakan pemimpin semua rakyat. Atau dapat dikatakan pemimpin yang dilahirkan melalui proses politik yang pesertanya adalah rakyat. Dalam teori kepemim­pin­an “traits theory“, kehadiran seorang pemimpin da­lam masyarakat dilahirkan atau tidak dilahirkan. (Lead is born or not born, Steve Wolinski, 2010). Dalam teori ini dikatakan ke­ber­ha­silan dan kualitas pe­mim­pin ditentukan oleh “kepri­ba­dian (personality) dan kemam­puan­nya (ability).

Presiden dan wakil Presiden sebagai pemimpin yang dilahirkan dalam proses pemilu harus memiliki kepribadian dan kemampuan mengayomi dan berpihak kepada seluruh rakyat. Tidaklah mungkin dalam memajukan Indonesia, pemimpin terpilih tidak melibatkan semua elemen rakyat. Wajib bagi Presiden dan wakil Presiden sebagai pemimpin terpilih untuk selalu bersinergi dan bekerjasama dengan rakyat dalam membangun bangsa. Dari itulah, pemimpin terpilih harus dapat mengeyampingkan perbedaan perbedaan yang dulu terjadi saat kampanye. Pemimpin terpilih harus merangkul semuanya. Apapun agama, suku, dan pilihan politiknya. Jadikan Indonesia satu dengan menghargai perbedaan yang ada.

Presiden dan wakil Presiden sebagai pemimpin yang baru harus dapat membawa rakyat untuk menghargai dan mengemban kebhinekaan yang ada. Bhineka Tunggal Ika adalah harga mati yang harus selalu dipelihara dan dirawat dari segala upaya-upaya yang ingin memecahbelah. Kita tau bahwa ditengah arus teknologi informasi yang begitu cepat berkembang saat ini, berita hoax telah begitu merajalela di berbagai tempat. Berita hoax yang terjadi telah mengoyahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang dibingkai dalam Bhineka Tungal Ika. Hoax telah memicu perpecahan dikalangan anak bangsa. Padahal dengan berkembangnya teknologi harusnya menjadikan rakyat dapat melaksanakan kehidupan dengan mudah. Teknologi semestinya memudahkan rakyat  untuk menjalankan proses kehidupannya. Menjadi tugas pemimpin kedepan agar dapat menjauhkan rakyat dari hoax yang merajalela.

Selanjutnya, pemimpin harus dapat menjaga kewibawaan. Dia harus memiliki kelebihan-kelebihan dibanding dengan orang orang yang dipimpinnya. “Kewibawaan ialah kelebihan, keunggulan, dan keutamaan sehingga mampu mengatur orang lain, sehingga orang itu patuh pada pimpinan, dan bersedia melakukan perbuatan-perbuatan tertentu. Kemampuan ialah segala daya, kesanggupan, kekuatan, dan kecakapan atau keterampilan teknis maupun sosial, yang dianggap melebihi dari kemampuan anggota biasa”. (Kartini Kartono, 1990).

Menutup tulisan ini, Presiden dan wakil Presiden sebagai pemimpin terpilih harus memiliki semangat juang yang tinggi dengan dilandasi nilai nilai moral dan kesabaran menghadapi rakyat dengan segala karakteristiknya. Hanya dengan cara-cara seperti inilah, pembangunan nasional berhasil dilaksanakan. Artinya, pembangunan nasional akan tercapai sangat bergantung pada ikut sertanya seluruh rakyat Indonesia yang memiliki tekad, semangat dan ketaatan dalam menjalankan kewajibannya sebagai warga negara yang baik. Semoga. ***

Sumber: Koran Tangsel Pos, Senin 22 April 2019
Oleh: Dr. Oksidelfa Yanto.,S.,H.,M.H.
(Dosen Ilmu Hukum Universitas Pamulang, Tangerang Selatan)