OPINI OPINI 2019

Pemilu Damai Menuju Indonesia Satu

Jika tidak ada aral melintang, tanggal 17 April nanti bangsa Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi bernama Pemilihan Umum (Pemilu). Pemilu kali ini berbeda dengan pemilu yang pernah dilaksanakan pada tahun tahun sebelumnya. Pada pemilu tahun 2019 ini rakyat akan memilih secara serentak Presiden dan Wakil Presiden, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kota di seluruh wilayah negara Indonesia. Kita tahu, pada pemilu tahun 2014 pemilu dilakukan dua kali dimana yang pertama diadakan tanggal 9 April untuk memilih anggota legislatif baik anggota DPR pusat dan anggota DPD, dan para anggota DPRD Provinsi dan DPRD kota/kabupaten. Pemilu kedua dilaksanakan tanggal 9 Juli 2014 untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. Dalam pemilu tanggal 9 Juli tersebut pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla memenangkan pemilu Presiden setelah mengalahkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

Pada pemilu 17 April 2019 ini terdapat 16 partai politik yang mempertarungkan para calonnya, ditambah 4 partai daerah yang khusus bertarung di Aceh. Dari 16 partai yang ada  terdapat 4 partai baru yang ikut berlaga, yakni Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Berkarya, partai Garuda, dan Perindo. PSI dipimpin mantan wartawan televisi, Grace Natalia. Sementara Partai Berkarya dipimpin Hoetomo Mandala Putera, putra mantan Presiden Soeharto. Ke 4 partai baru ini sama-sama berjuang melalui calon anggota legislatifnya untuk mendapatkan kursi di lembaga legislatif baik pusat maupun daerah sesuai dengan visi dan misi partai.

Bagi rakyat, tidak mudah memang memilih kandidat calon, apalagi calon anggota legislatif. Kalau calon Presiden dan wakil Presiden, rakyat mungkin masih bisa melihat dan menyaksikan track recordnya. Semua rakyat pasti kenal dengan calon Presiden Joko Widodo, dan calon Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Begitu juga dengan calon Presiden Prabowo Subianto dan calon wakil Presiden Sandiaga Uno yang akan bertarung dalam pemilihan Presiden. Setidaknya rakyat dapat melihat dan menyaksikannya saat debat. Siapa calon Presiden dan Wakil Presiden yang diyakini akan membawa Indonesia kearah yang lebih baik saat penyampaian visi misi. Apalagi yang bertarung maju sebagai Presiden dan wakil Presiden hanya dua pasangan kandidat. Hal ini berbeda dengan calon anggota legislatif. Bisa saja rakyat tidak terlalu mengenal para kandidat. Rakyat tidak mengenal semua calon legislatif di daerah pemilihannya. Kalau ada yang kenal mungkin hanya satu atau dua orang saja yang mereka lihat di spanduk di tepi jalan.

Inilah kemudian tantangan yang akan dihadapi oleh rakyat untuk memilih calon anggota legislatif yang benar-benar mumpuni dan diyakini programnya akan dapat mengapai keinginan rakyat. Kita tahu, selama beberapa kali pemilu masih banyak kekecewaan yang dirasakan rakyat. Janji membawa Indonesia yang penuh dinamika dan ragam persoalan belum secara maksimal diselesaikan oleh sebahagian dari mereka yang terpilih. Seperti persoalan penegakan hukum, pemberantasan korupsi, kemiskinan, isu sara, dan lain sebagainya. Setiap pemilu para kontestan berjanji dalam hal yang sama, namun janji tinggal janji. Setelah para kontestan terpilih mereka seakan lupa pada rakyat yang sudah memilihnya.

Terlepas dari segala persoalan yang muncul menghinggapi bangsa ini, dalam pemilu serentak kali ini kita berharap bangsa Indonesia benar benar dapat menghadirkan pemimpin nasional dan wakil rakyat yang representatif untuk membawa perubahan dan kebaikan pada masa masa mendatang. Semua itu tergantung kecerdasan rakyat dalam memilih. Bagi caleg yang maju untuk kedua kalinya, mungkin salah satu cara rakyat memilih kembali caleg tersebut adalah dengan melihat apakah sang caleg aktif menyuarakan aspirasi rakyat baik itu melalui media sosial atau media cetak lainnya. Apakah caleg selama menjadi wakil rakyat peduli kepada rakyat sebagai representatifnya. Setidaknya cara ini dapat dijadikan pertimbangan untuk memilih mereka kembali.

Untuk dapat menghasilkan pemimpin dan wakil rakyat yang representatif dan mampu membawa kebaikan serta perubahan dimasa mendatang, beberapa langkah sekiranya perlu diperhatikan. Pertama, rakyat tentunya harus memilih Presiden dan Wakil Presiden serta anggota legislatif sesuai dengan keyakinan dan hati nurani yang paling dalam. Pilihlah pemimpin dan wakil rakyat yang benar benar akan membawa semaksimal mungkin kemaslahatan bagi semua anak bangsa. Kita percaya masih banyak calon pemimpin dan wakil rakyat yang benar-benar merakyat, bekerja untuk rakyat. Rakyat bisa melihat dalam jejak rekam calon. Penting ditegaskan dalam diri rakyat, jangan mau diiming-imingin dengan berbagai macam hal yang pada akhirnya akan mengganggu objektifitas dan rasionalitas pilihan atas kandidat yang ada. Kedua, disamping itu, rakyat dalam pemilu kali ini harus mengedepankan pemilu damai menuju Indonesia satu. Tekad menyukseskan pemilu damai hendaknya menjadi tujuan bersama elemen bangsa pada tanggal 17 April. Apapun pilihan kita, Indonesia adalah satu. Segala persoalan dan perbedaan yang terjadi saat kampanye yang mungkin saja elah menjadikan diantara masing masing pendukung pasangan calon Presiden dan wakil Presiden termasuk dukungan kepada calon anggota legislatif ada gesekan karena beda pilihan, harus sudah dilupakan dan ditinggalkan tanggal 17 nanti. Apalagi saat pesta demokrasi ini benar-benar telah usai yang ditandai dengan terpilihnya para calon.

Pada hari pencoblosan kita lupakan segala perbedaan yang ada. Kita camkan bahwa Indonesia adalah satu. Rakyat bangsa harus bertekad untuk menyukseskan pemilu jujur, adil dan penuh kedamaian menjuju Indonesia satu. Siapapun nanti yang akan terpilih, itulah yang terbaik buat bangsa lima tahun kedepan. Siapapun yang terpilih sebagai anggota legislatif mereka adalah wakil rakyat yang akan memperjuangkan rakyat. Pemimpin dan wakil rakyat terpilih harus kita dukung dan hormati. Untuk itu pemimpin yang terpilih harus memihak kepada semua rakyat. Para pemimpin dan wakil rakyat pilihan langsung rakyat pada pesta demokrasi bernama pemilu wajib berpihak dan setia kepada rakyat dimanapun rakyat berada. Tidak membedakan soal agama, suku, ras dan golongan apapun. Pemimpin terpilih harus membawa Indonesia kearah persatuan yang tidak mudah diguncang oleh kekuatan apapun yang ingin memecahbelah persatuan bangsa. Semoga semua yang diharapkan akan dapat terujud dalam perhelatan pesta demokrasi bernama pemilu untuk menempatkan orang orang yang tepat pada posisinya. ***

Sumber: 
Oleh: Dr. Oksidelfa Yanto.,SH.,MH. (
Dosen Ilmu Hukum Universitas Pamulang, Tangerang Selatan)