OPINI OPINI 2019

Pancasila Pemersatu Bangsa

Setiap negara tentu mempunyai dasar negara, karena dasar negara merupakan fundamen atau pondasi dari suatu negara. Fundamen negara harus tetap kuat dan kokoh, karena keutuhan serta kedaulatan negara dan bangsa bertolak dari sudut kuat atau lemahnya bangsa itu berpegang kepada dasar negaranya.

Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia merupakan bekal hidup dari pendiri bangsa (founding fathers) serta kesepakatan luhur berbangsa dan bernegara di bumi pertiwi ini. Pancasila adalah penggerak, bintang pengarah, pemersatu bangsa, serta mutiara dan nilai budaya yang digali dari tanah pusaka Indonesia. Maka sudah sepatutnya kita satukan hati, pikiran, ucapan, dan tindakan kedalam satu tarikan nafas perjuangan mewujudkan Pancasila di negeri yang kita cintai ini.

Namun realitas kontemporer memperlihatkan kepada kita semua bahwa saat ini pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat telah mengalami berbagai kemunduran dan bahkan telah menyimpang kepada asal muasal kemunculannya seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa (founding fathers). Saat ini konflik politik, hukum, ekonomi, agama, etnis serta permasalahan lainnya sering kita jumpai atau bahkan rasakan. Hal itu menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila belum sepenuhnya di implementasikan oleh bangsa ini.

Maka dari itu perlu dilakukan revitalisasi oleh seluruh stakeholder yang ada di bangsa ini dalam rangka kembali membangun spirit nasionalisme terhadap Pancasila mengingat kondisi bangsa semakin jauh dari keadilan sosial, kesejahteraan, kemajuan, dan lain sebagainya. Membiarkan kondisi bangsa dalam keterpurukan sama halnya menjadikan Pancasila hanya sebagai alat politisasi seperti yang pernah terjadi pada rezim Orde Baru.

Revitalisasi nilai-nilai Pancasila dapat dilakukan dalam dua tingkatan yaitu Pertama, dalam tataran ide ialah menjawab sikap alergi masyarakat terhadap Pancasila. Oleh karena itu, gotong-royong serta membudayakan pola musyawarah dapat dijadikan cara yang efektif dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, dalam tataran praksis ialah menyangkut relasi penyelenggaraan negara dan masyarakat, misalnya kepemimpinan nasional harus menegaskan kembali bahwa NKRI adalah bukan negara agama tapi negara beragama, maka konsekuensinya semua agama yang ada di Indonesia memiliki kedudukan yang sama dalam aspek apapun.

Selain itu Pancasila harus benar-benar diaplikasikan sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bangsa Indonesia, maka dari itu seluruh bangsa Indonesia haruslah mempunyai sense of belonging dan sense of pride terhadap Pancasila. Untuk menumbuhkembangkan kedua rasa tersebut dapat dilakukan dengan penanaman kembali kesadaran bangsa tentang eksistensi pancasila sebagai ideologi negara dan identitas nasional. Tegasnya Pancasila harus didekatkan kembali dengan cara menguraikannya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan rakyat Indonesia, termasuk menjelaskannya bahwa secara substansial Pancasila merupakan jawaban yang tepat dan strategis atas pluralisme di Indonesia baik pada masa lalu, masa kini, maupun masa yang akan datang.

Oleh karena itu agar nilai-nilai Pancasila dapat sepenuhnya di implementasikan oleh bangsa Indonesia yang kaya akan pluralisme maka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu kesadaran dan pamantapan akan jatidiri bangsa serta pengembangan prinsip-prinsip yang berbasis pada filosofi kemanusiaan dalam nilai-nilai Pancasila yaitu perdamaian bukan perang, demokrasi bukan penindasan, dialog bukan konfrontasi, kerjasama bukan eksploitasi, dan keadilan bukan standar ganda.

Bung Karno pernah berkata “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Semoga kedepan bangsa Indonesia dapat menjaga apa yang diwariskan oleh para pahlawan terdahulu dalam hal ini ialah ideologi negara kita Pancasila. ***

Oleh:
Bima Guntara, S.H., M.H
Dosen Universitas Pamulang

Sumber: satubanten.com