OPINI OPINI 2018

Transportasi Massal Provinsi Banten (2)

Berkembangnya sektor pendidikan dan sektor industri di Provinsi Banten mendorong meningkatnya arus urbanisasi ke wilayah Banten. Melihat perkembangan itu tentunya banyak pengembang yang menawarkan perumahan. Pembangunan sektor properti di wilayah Banten pun tampak sekali perkembangannya 10 tahun terakhir.

Sektor pendidikan di Banten mulai dilirik oleh banyak orang. Seperti UIN Jakarta dan Untirta yang setiap tahun menerima lebih dari 5.000 mahasiswa baru yang tentunya banyak yang menawarkan jasa penyewaan indekost. Yang paling mencengangkan 8 tahun terakhir adalah kepeminatan calon mahasiswa terhadap Universitas Pamulang. Setiap tahun tercatat lebih dari 40.000 pendaftar di Unpam padahal hanya 23.000 saja yang diterima. Padahal Unpam merupakan perguruan tinggi swasta.

Inovasi yang dilakukan Unpam dengan mengadakan perkuliahan dengan tidak meminta uang gedung serta absen berjalan menarik minat para pekerja untuk bisa menimba ilmu di perguruan tinggi. Dengan student body sekitar 83.000 mahasiswa, dan rata-rata mencetak 1.100 ulusan setiap bulannya turut menyumbang angka kemacetan di sekitar Tangerang Selatan. Hal itu yang mendorong masyarakat sekitar melakukan petisi karena penyumbang angka kemacetan.

Banyaknya mahasiswa Unpam yang datang dari luar Provinsi Banten yang menggunakan kendaraan pribadi, pemerintah perlu membuat kebijakan jitu untuk mengalihkannya ke angkutan umum. Mahasiswa dari Kabupaten Kota Bekasi contohnya. Seandainya ada rute kereta api Bogor-Serpong atau Bekasi-Serpong tentunya akan menarik minat mahasiswa dari Bekasi dan Bogor tersebut menggunakan kereta. Waktu tempuh normal menggunakan sepeda motor saat ini Bekasi-Pamulang kurang mencapai 3 jam. Tentunya itu menguras energi. Apalagi banyak juga mahasiswa yang datang dari Karawang.

Transportasi umum yang ada saat ini yaitu APTB, dan KRL. Mahasiswa pengguna APTB untuk menuju Unpam harus beberapa kali transit dan membutuhkan waktu lama untuk bus berikutnya. Begitu juga mahasiswa yang menggunakan KRL. Dari Bekasi harus 2 kali transit yakni di Manggarai dan Tanah Abang. Adalah wajar jika mahasiswa tersebut memilih menggunakan sepeda motor.

Tahun 2019, Unpam akan membangun kampus III di Kota Serang sebelah terminal Pakupatan. Agaknya pemprov perlu memikirkan adanya transportasi yang nyaman, aman dan efektif untuk mahasiswa yang datang dari luar Serang. Pendirian kampus III yang memiliki daya tampung 100 ribu mahasiswa, menargetkan mahasiswa dari Banten bagian Selatan dan Provinsi Lampung. Pembangunan tersebut untuk meningkatkan angka partisipasi masyarakat terhadap pendidikan tinggi sehingga mampu bersaing di dunia Industri. Jika tidak didukung transportasi yang memadahi tentunya kemacetan akan terjadi di Pamulang dan Serpong juga akan terjadi di Pakupatan.

Saat ini rasanya sulit untuk mengubah minat masyarakat untuk beralih menggunakan kendaraan pribadi ke angkutan umum. Anggapan masyarakat yang menganggap bahwa memiliki mobil dapat menaikkan derajat masih melekat kuat. Itu sebabnya orang berlomba- lomba membeli mobil. Selain itu, pandangan masyarakat tentang angkutan umum yang ugal-ugalan, panas, suka ngetem sembarangan dan lama masih merekat erat di benak masyarakat.

Mengubah kedua pemikiran tersebut butuh kekuatan ekstra. Cara paling mudah yaitu dengan memberikan pinjaman lunak kepada pemilik angkutan umum untuk melakukan peremajaan dan menambah armadanya. Dan itu butuh modal yang sangat besar. Sangat percuma melakukan kebijakan ganjil-genap untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi namun jumlah armada angkutan umumnya tidak mencukupi atau tidak sesuai kebutuhan masyarakat. Selain itu, pemberian pinjaman lunak tanpa dibarengi dengan penggiringan minat masyarakat ke angkutan umum juga percuma karena nantinya akan mempersulit pemilik armada mengembalikan modal.

Masyarakat membutuhkan transportasi yang nyaman dan terhubung ke semua tempat. Hampir semua armada angkutan kota dan bus kota di Banten tidak nyaman untuk dinaiki, selain sumpek juga sering mengoper penumpang di tengah jalan. Itu sebabnya penumpang angkutan umum di provinsi tersebut berkurang dan memilih ke ojek/taksi online. Pemprov, pemkot, dan pemkab perlu memikirkan itu karena banyak sopir angkutan umum yang beralih profesi karena sepinya penumpang.

Dibandingkan DKI Jakrata, Bekasi, dan Bogor, Banten saat ini belum dikatakan parah kemacetannya. Karena kemacetan parah hanya terjadi di Tangsel dan Kota Tangerang. Tapi, tidak menutup kemungkinan 10 tahun kemudian Banten akan mengalami kemacetan seperti yang lain. hal itu karena meningkatnya jumlah penduduk dan minimnya minat masyarakat pada transportasi umum. Pemerintah harus siap mengatasi itu semua agar Banten menjadi lebih maju dan tertata. (Penulis adalah Dosen Fakultas Sastra di Universitas Pamulang (Unpam), Tangsel)

Sumber: Koran Tangerang Raya tanggal 18 Oktober 2018
Oleh: Misbah Priagung Nursalim, M.Pd.