OPINI OPINI 2018

Dendam Ikut-Ikutan di Kalangan Remaja

Dua minggu ini di timeline kita diwarnai oleh berita tawuran. Mulai dari tawuran suporter Persija (thr Jack) di sekitar Pasar Senen yang mengakibatkan penumpang KA Saeunggalih Utama terluka. Tawuran di sekitar taman Tekno BSD yang menyebabkan seorang anak sekolah Sasmita wajahnya tertusuk samurai. Berita kericuhan pendukung Persibas Banyumas dengan suporter PSCS Cilacap di Purwokerto. Terakhir kasus pelemparan batu oleh (katanya) Bonek ke kereta api.

Motif berbagai kericuhan di atas sama-sama dendam yang ikut-ikutan. Seperti kasus kericuhan The Jack di sekitar stasiun Pasar Senen yang menghambat perjalanan kereta hingga berujung pelemparan batu pada kereta Sawunggalih Utama. Pelaku kericuhan tersebut lagi-lagi anak muda. Mereka mendapat informasi ada Viking (suporter Persib) yang menaiki kereta ke arah Jakarta. Kemudian mereka mencegat setiap kereta yang masuk Jakarta dengan harapan Viking tersebut takut. Namun yang terjadi mereka salah sasaran karena Viking yang mereka maksud sudah turun di stasiun Cirebon.

Pertanyaannya, ada masalah apa pelaku kericuhan dengan anggota Viking tersebut? Jika kita tengok ke belakang, akar masalahnya keributan kedua suporter itu terjadi pada tahun 1995. Viking dan the Jack saat ini bukanlah anak yang lahir tahun 1980-an. Jadi bisa dikatakan alasan mereka adalah dendam yang ikutikutan. Karena gue Viking dan dia the Jack berarti dia musuh gue. Begitu juga kasus tawuran antarpelajar di taman Tekno BSD. Motifnya sama-sama dendam yang ikut-ikutan. Sebenarnya mereka tidak memiliki masalah satu sama lain.

Kasus dendam ikut-ikutan tersebut tentunya menjadikan kita sebagai orang tua sangat resah terhadap masa depan anak kita. Terutama saat mau mendaftarkan sekolah anaknya. Ah saya mau menyekolahkan anak saya di SMA sebelah sana, tapi katanya SMA tersebut musuh bebuyutan STM belakang sana. Nanti kalau anak saya diterima di SMA sana dan di jalan bertemu STM belakang sana nanti pasti dipukuli. Pemikiran semacam itu tentu sering terbesit di kepala setiap orang tua. Lantas bagaimana solusinya?

Kita harus berani memutus mata rantai dendam ikut-ikutan tersebut. Ada banyak pihak yang berperan untuk memutus mata rantai tersebut, yaitu orang tua, guru di sekolah, masyarakat, dan pemerintah setempat. Orang tua berperan penting dalam memutus mata rantai dendam ikut-ikutan tersebut. Hal itu karena orang tua yang paling mengenal anak. Orang tua wajib mengontrol anaknya mulai dari pergaulannya, tontonannya, hingga pola pikirnya. Itu semua dapat dilihat melalui perubahan perilaku anak.

Guru berperan penting dalam memberikan edukasi kepada peserta didiknya. Edukasi tersebut bisa berupa pemahaman terhadap nilai nilai silaturrahmi (religius), nasionalisme, hingga pentingnya menggapai cita-cita. Pelaku tawuran rata-rata anak sekolah yang belum paham masa depannya ingin menjadi apa. Mereka ribut dengan kelompok A karena mereka tidak tahu kalau setelah lulus sekolah nanti akan bekerja bersama kelompok A sampai Z. Tidak mungkin lulusan sekolah tidak akan mencari pekerjaan. Dan itu terbukti, dulu saat masih sekolah sering tawuran namun saat dewasa bekerja bersama. Dulu Viking tulen, tapi sekarang bekerja di Jakarta dan memiliki rekan kerja yang dulu the Jack.

Masyarakat juga turut berperan dalam pemutusan mata rantai dendam ikut ikutan yang dilakukan remaja. Masyarakat memiliki andil besar karena remaja tersebut bergaul di lingkungan masyarakat. Masyarakat harus mengontrol dan mengawasi setiap ada gerombolan anak remaja yang duduk duduk malam hari. Masyarakat harus tahu apa yang mereka obrolkan, apa yang mereka bawa. Bisa jadi gerombolan remaja tersebut membahas rencana tawuran, membawa senjata tajam, dan membawa miras. Jika terbukti demikian, masyarakat wajib membubarkan gerombolan remaja tersebut.

Pemerintah setempat bisa memberikan penyuluhan dan pendampingan kepada remaja agar tidak terjerumus dalam tawuran. Penyuluhan bisa di lakukan di setiap sekolah menengah karena rata-rata pelaku tawuran anak sekolah menengah. Memberikan pendampingan melalui guru-guru sekolah. Bisa juga memberikan fasilitas berupa kompetisi sesuai minat dan bakat siswa. Kompetisi dilakukan antarsekolah untuk mempererat silaturrahmi antarsiswa. Jika saling mengenal tentu tidak akan ada dendam lagi.

Sejatinya tidak ada dendam antarsiswa sekolah, yang ada hanya pemikiran harus memiliki dendam. Sekolah sini menjadi musuh sekolah sana. Jika semua tadi terlibat dalam pemutusan mata rantai dendam ikutikutan, tentu mindset bahwa sekolah sini menjadi musuh sekolah sana atau kelompok ini adalah musuh kelompok itu, tentunya akan berubah menjadi hubungan persaudaraan.(*) Penulis adalah Dosen Sastra Indonesia – Unpam

Sumber: Koran Tangerang Raya tanggal 6 Agustus 2018
Oleh: Misbah Priagung Nursalim, M.Pd.