OPINI OPINI 2016

Gelar Kosong dan Segala Tipuannya

Setiap orang pastinya menginginkan pendidikan dalam hidupnya, maka dari itu ia bersekolah. Tujuan sekolah pada dasarnya untuk mencari dan mendapatkan berbagai macam ilmu. Namun, faktanya, banyak lulusan sekolah yang tidak berilmu serta jauh dari layaknya orang berpendidikan.

Sistem pendidikan di Indonesia lebih mengarah pada pencetakan intelektual tukang. Sehingga wajar jika pendidikan yang mengarah pada dunia kerja memiliki ribuan bahkan jutaan peminat, seperti jurusan non-humaniora. Ia berkembang pesat bagaikan jamur dan lumut di musim hujan. Karena banyaknya peminat, membuat sekolah berlomba-lomba membuka jurusan tersebut, baik dari tingkat menengah atas hingga perguruan tinggi.

Mengapa pendidikan tersebut banyak diminati? Alasan sederhana menjadi jawabannya, yakni lebih dibutuhkan di dunia kerja. Orang bersekolah tentunya karena tidak ingin menganggur. Hanya melalui proses pendidikanlah seorang sudra mampu menjelma menjadi ksatria.

Melihat hal itu, beberapa oknum membuat perguruan tinggi abal-abal dan membuka jurusan tersebut. Tentu tujuan mereka hanya ingin mendapatkan uang. Nilai-nilai pendidikan pun tidak begitu diperhatikan.

Ilmu tanpa ijazah membuat pemiliknya tidak diakui. Sedangkan ijazah tanpa ilmu itu sama saja selembar kertas kosong. Ijazah merupakan bukti seseorang pernah belajar, bukan bukti seseorang telah pandai atau berilmu. Orang lulus kuliah belum tentu dia ahli di bidangnya.

Kata sarjana bukan lagi sebagai orang pintar, melainkan orang yang sudah menamatkan studi strata satu. Itu sebabnya, lulusan sarjana harus ditest lagi pada saat melamar kerja karena keahliannya masih diragukan.

Saat ini ijazah merupakan selembar bukti kosong yang tidak menunjukkan kemampuan pemiliknya. Meski demikian, orang yang berijazah lebih banyak dicari untuk dipekerjakan daripada orang berilmu. Orang berilmu tanpa ijazah dilempar ke sana-kemari tanpa kepastian. Sepertinya, mayoritas orang lebih mencintai kebohongan meski di dalam hatinya merindukan kejujuran.

Kita ambil contoh, seseorang yang hanya lulusan SD namun bisa memperbaiki bahkan merakit sebuah mobil sampai layak jalan. Ia belajar dari ayahnya yang kebetulan bekerja di bengkel mobil. Ia mengamatinya dan sering membantu ayahnya menyelesaikan pekerjaan dan berhasil.

Setelah sekian lama, ia menjadi seorang ahli di bidang otomotif. Karena ingin bekerja di perusahaan perakitan mobil dan ia mencoba melamarnya. Karena hanya mempunyai ijazah SD akhirnya ia tidak diterima bekerja, padahal kemampuannya melebihi sarjana teknik mesin. Apalah arti sebuah kemampuan, karena perusahaan hanya melihat calon karyawannya melalui ijazahnya. 

Perusahaan selalu menanyakan ijazah ketika mencari karyawan sebelum melihat kemampuannya. Artinya, ijazah lebih penting dibanding keahlian seseorang. Bukan hanya di perusahaan saja. Di perguruan tinggi, praktisi tidak lagi dibutuhkan. Padahal, praktisi lebih ahli di bidangnya daripada seorang akademisi yang baru lulus kuliah.

Contohnya, seorang dalang sangat cocok mengajar mata kuliah sastra wayang, karena ilmu tentang perwayangan jauh lebih luas daripada seorang magister humaniora. Praktisi hanya boleh mengajar apabila minimal berpendidikan strata dua. Sebenarnya, lebih penting praktik atau teoretis? Mahasiswa lebih membutuhkan praktik daripada full teori.

Pentingnya ijazah membuat orang melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkannya. Praktik jual-beli ijazah contohnya. Namun praktik tersebut mulai terendus pemerintah dan perlahan ditinggalkan. Akhirnya sebagian orang memilih jalur aman dengan kuliah asalan demi selembar ijazah. Seperti namanya, kuliah asalan berarti kuliah secara asal-asalan; asal masuk dan asal lulus yang penting dapat ijazah.

Mahasiswa masuk demi presensi kehadiran. Tugas dilakukan dengan salin-tempel dari berbagai media. Menyontek saat ujian dan plagiasi pada saat mengerjakan tugas akhir. Kegiatan tersebut merupakan bentuk kecurangan nyata pada dunia pendidikan dan jamak dilakukan sebagian mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang).

Perilaku tersebut memang curang dan dilakukan dengan sadar. Tapi apalah daya karena semua itu demi selembar ijazah agar bisa dihargai banyak orang. Perilaku semacam itu menjadi cikal-bakal kecurangan di tempat kerja nantinya. Mereka pun akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dimau.

Dampak negatif lain dari kuliah asalan yaitu apabila sarjana tersebut melamar menjadi guru. Dengan ilmu yang didapatkan secara asal, maka bagaimana dengan masa depan anak didiknya. Seorang guru bahasa Indonesia contohnya. Seorang guru bahasa Indonesia malas membaca, padahal salah satu tugas utama guru bahasa Indonesia yaitu merangsang anak didiknya agar gemar membaca.

Itu merupakan tindakan jarkonigelem ngujar ora gelem ngelakoni (maunya memerintah tapi sendirinya tidak mau melakukan). Lebih parahnya lagi, seorang guru bahasa Indonesia tidak paham pola kalimat sederhana dan tidak tahu apa itu subjek-predikat-objek.

Sudah saatnya dunia pendidikan dikembalikan fitrahnya menjadi wadah transfer ilmu sekaligus alat untuk menempa diri. Kata sarjana dikembalikan pada makna terdahulu yakni kaum cerdik pandai, bukan kuliah asal selesai. Intelektual tukang di Indonesia mengalami surplus. Namun minus pembaharu. Indonesia butuh intelek pembaharu yang mampu membawanya ke arah yang dicita-citakan leluhur. Bukan gelar kosong dengan segala tipuannya.

Sumber: qureta.com
Oleh: Misbah Priagung Nursalim (Dosen linguistik di Universitas Pamulang)