OPINI OPINI 2016

Problematika Muslim di Indonesia

Beberapa hari terakhir, media kita sibuk memberitakan kasus penistaan agama yang dilakukan (katanya) gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Bukan hanya koran, dan televisi saja; bahkan di media sosial pun marak bermunculan dalam bentuk meme, status pengguna, dan sebagainya. kasus itu seolah tidak ada ujungnya karena masalah yang satu selesai timbul lagi dan timbul lagi.

Artikel ini saya tulis atas pertanyaan istri saya semalam, “Mengapa muslim intoleran semakin banyak jumlahnya?” Atas pertanyaan itu, saya rangkum jawabannya melalui artikel ini.

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dengan jumlah penduduk terbesar itu, seharusnya muslim di Indonesia menjadi contoh bagi muslim di negara lain setelah gagal menjalani kehidupan bernegaranya.

Muslim Indonesia mempunyai sifat dan karakter yang beragam; dari mulai muslim taat, muslim yang sudah melebur dengan budaya setempat, muslim garis keras, muslim kolot, muslim ngeyelan, dsb. Sebagian kecil kelompok muslim tidak memiliki budaya. Hal itu dilihat dari cara pandangnya dengan meniru dan berkiblat pada Islam di Arab.

Dalam hadis disebutkan, “Cintailah Arab karena 3 hal; karena saya (Muhammad) orang Arab, karena Quran berbahasa Arab, dan bahasa penghuni syurga adalah bahasa Arab.” Beberapa muslim kolot menelan itu mentah-mentah.

Mereka bukan saja mencintai Arab karena 3 hal tersebut, melainkan juga semuanya dari budaya dan cara pandangnya. Muslim kolot mengidolakan budaya Arab. Padahal orang Arab sendiri mengidolakan budaya Eropa. Dan orang Eropa mengidolakan budaya Asia termasuk Indonesia. 

Islam merupakan agama yang menghormati budaya setempat. Budaya yang membangun dan bukan budaya yang merugikan. Kita tengok bagaimana muslim mudah diterima oleh bangsa-bangsa yang disinggahinya, sebut saja Spanyol, Tiongkok, India, bahkan rumpun Melayu. Bukan tidak ada perlawanan, melainkan datangnya bukan melalui proses peperangan.

Hal itu karena Islam datang membawa pesan damai dan mudah berbaur serta menyatu dengan budaya setempat. Kita ambil contoh bagaimana walisongo menggunakan budaya setempat untuk menyebarkan Islam. Atau Pangeran Diponegoro mengislamkan penduduk setempat saat di asingkan Belanda ke Sulawesi.

Muslim Kian Terbelakang

Dunia muslim di Indonesia kian terbelakang, baik dari segi pemikiran maupun budaya. Dari segi pemikiran, hanya sedikit penemuan-penemuan muslim di era modern ini. Hal tersebut berbanding terbalik dengan muslim di masa lampau. Miskinnya literasi dan budaya klaim menjadi salah satu faktornya.

Beberapa muslim kolot, membaca bukanlah kewajiban. Padahal, wahyu pertama yang diterima Muhammad melelui Jibril adalah perintah membaca. perintah membaca diterimanya pertama kali jauh sebelum perintah salat diterimanya. Artinya membaca merupakan sebuah kewajiban. Apa saja wajib dibaca, bukan hanya al Quran saja, tetapi semua yang bisa dibaca seperti buku, jurnal, surat kabar, dan sebagainya, tetapi membacanya didahului dengan bismillah.

Indeks membaca masyarakat Indonesia sangat kecil. Padahal jumlah penduduknya mayoritas dihuni muslim. Membaca menjadikan pembacanya mengetahui banyak hal. Bagaimana mau mengerti banyak hal jika tidak mau membaca? meskipun malas membaca, namun mayoritas penduduk Indonesia hobi berdebat. Apa yang hendak diperdebatkan? Bukankah debat juga butuh ilmu untuk berargumen?

Muslim di Indonesia sibuk mengurusi haram dan halal. Sementara muslim di luar negeri sibuk membuktikan kuasa Tuhan dengan membuat penelitian sampai luar angkasa. Muslim Indonesia membuktikan kuasa Tuhan dengan mencari lafal Allah pada batu, awan, daging hewan dsb. Padahal, dengan menggali ilmu di situlah kita akan mengetahui kebesaran Tuhan.

Muslim kolot terlalu over pada agama hingga mereka lupa pada urusan duniawi. Tuhan memberikan alam yang kaya, budaya yang beragam, otak yang cerdas, namun itu semua tidak digunakan. Mudah bagi mereka menuduh seseorang atau kelompok orang yang tidak sejalan dengan sebutan kafir.

Rasulullah Saw. ketika sedang duduk-duduk bersama Sahabatnya yakni Umar bin Khattab dan Abu Bakar as-Sidiq mereka membahas tentang solat malam. Rasul bertanya pada Umar, “Kapan kamu melaksanakan salat malam, wahai Umar?” Umar menjawab, “Setelah saya tidur malam, Ya Rasul”. “Kamu orang yang kuat,” kata Rasul.

Kemudian Rasul bertanya kepada Abu Bakar, “Kapan kamu melaksanakan solat malam, ya Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Sebelum saya tidur malam, ya Rasul”. “Kamu orang yang sangat hati-hati” jawab Rasul. Rasul tidak menuding salah satu sahabatnya kafir ataupun sesat. Ia malah memuji kedua sahabatnya.

Kisah lain, ketika seorang warga desa bertanya kepada Raden Sahid perihal sesaji. Raden Sahid tidak melarang membuat sesaji, malah beliau menganjurkan agar sesajinya adalah barang-barang yang bisa dimakan dan mengundang para tetangga untuk memakannya. Dari kedua kisah tersebut, Islam mengajarkan sopan santun dan tidak melukai perasaan orang lain. 

Beberapa muslim kolot di Indonesia, rukun iman hanya sebatas dipercayai bukan dibuktikan. Itu yang menjadi faktor mundurnya muslim dibandingkan umat lain. Seperti contohnya, kandungan darah manusia, sel-sel atom, ilmu astronomi, ilmu biologi dan ilmu-ilmu lainnya.

Bagi mereka masalah terbesarnya ketika kekafiran melanda negeri. Tetapi mereka lupa bahwa sumber daya alamnya diambil negeri lain, teknologinya diimpor dari negeri lain, otak cerdasnya dipakai oleh negeri lain. Padahal belum tentu negeri lain itu muslim juga. Kafir memang tidak enak dimulut, tetapi enak di bagian tubuh yang lain; di telinga kita menikmati telepon genggam, di tangan kita menikmati jejaring sosial, di pantat kita menikmati mobil, dan sebagainya.

Sampai kapan muslim kolot susah diajak bergerak maju? Sampai kisah dalam cerpen karya Ali Akbar Navis berjudul Robohnya Surau Kami terjadi? Jumlah muslim kolot di Indonesia lebih sedikit dibandingkan muslim taat, tetapi karena mereka membawa nama Islam, maka semua Islam di Indonesia pun ikut terbawa.

Sumber: qureta.com
Oleh: Misbah Priagung Nursalim (Dosen linguistik di Universitas Pamulang)